Dunia ini panggung sandiwara…
Hmmmm sepenggal lagu yang cukup populer itulah yang kadang membuat saya harus pandai-pandai memerankan diri saya dalam menjalani aktivitas. Bagaimana tidak? Di sela-sela kesibukan menjalankan berbagai tugas ‘negara’ maksudnya tugas yang menurut saya harus dilakukan demi perbaikan pola birokrasi di pemerintahan kita, saya harus tetap teguh menjalankan niat saya melaksanakan ibadah umroh, yang alhamdulillah sudah merupakan panggilan dari Sang Ilahi. Karena, ternyata dalam salah satu hadits disebutkan, jika kita sudah berniat, mampu dan masih cukup sehat, hendaklah kita pergi ke Haramain, melaksanakan ibadah umroh dan atau haji untuk menyempurnakan rukun Islam, sesuai kepercayaan yang saya anut.
Tetapi ternyata, niat dan segala daya yang telah dikerahkan untuk berangkat umroh ternyata harus diiringi kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani segala rintangan yang muncul, mulai dari sulitnya mencari vaksin meningitis (yang mulai tahun ini menjadi persyaratan bagi calon jama’ah umroh, nggak cuma callon jama’ah haji saja..), jadwal keberangkatan yang terunda beberapa kali karena adanya penyesuaian ongkos keberangkatan disebabkan naiknya harga BBM, juga hal-hal lain yang membuat saya harus menyadari betapa memang Allah tidak akan memberikan cobaan pada umatNya jika umatNya tersebut tidak mampu. Dan alhamdulillah, setelah mengatur terbagai jadwal kegiatan sana sini yang telah menjadi komitmen saya juga, akhirnya saya dan rombongan dapat melaksanakan ibadah umroh tanggal 29 Juni – 6 Juli 2008.
Labaik allahuma labaik, labaikkala syarikala labaik…
Subahanallah, sungguh pengalaman pertama menginjakkan kaki di Haramain (Madinah dan Mekkah) membuat saya terharu, menangis dan segala rasa campur aduk menjadi satu. Betapa nikmat menjalankan sholat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram setiap lima waktu dan sholat sunnah lainnya. Menjalankan umroh (tiga kali) dengan niat ihram masing-masing di Masjid Bir Ali, Masjid Tan’eem, dan Masjid Hudaibiyah, tawaf di waktu malam dan di tengah teriknya matahari (dan alhamdulillah, memang benar tidak terasa panas sedikitpun), sa’i diantara Bukit Safa dan Bukit Marwa, serta mencukur rambut (tahalul)..semuanya terasa indah karena ditemani oleh berjuta Muslim dengan niat yang sama, ikhlas menjalankan ibadah umroh karena Allah semata.
Beribadah umroh sembari berziarah di Makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, di Masjid Quba’ (masjid pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW), di Jabal Uhud (untuk mengenang Perang Uhud dan ziarah di makam Hamzah, paman Nabi), mensyukuri nikmat Allah ketika melewati bukit bermagnet, berkunjung ke percetakan Al-Qur’an, mendaki separo bukit Jabal Tsur (tempat Rasul Muhammad mendapatkan wahyu untuk pertama kali), melewati Padang Arafah (tempat wukuf pada tanggal 9 Dzulhijah), tempat melempar jumrah di Mina (jika kita menjalankan ibadah haji, dilakukan pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah), dan juga mengunjungi peternakan onta sekaligus menyaksikan peternak memerah susu onta, subhanallah..di tengah panas terik yang begitu menyengat, ternyata Allah masih memberikan karunia kehidupan yang tiada terhingga. Sungguh kasih sayangNya begitu mulia kepada umatNya.
Dan tentu saja ketika mencoba meraih tempat yang mustajab untuk berdo’a (di Raudhah Masjid Nabawi, di Multazam – antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad, di bawah Talang Emas di sekitar Hijir Ismail), juga menikmati saat berdo’a di Jabal Rahmah, meraih kesempatan untuk mencium Hajar Aswad, sungguh merupakan perjuangan antara kekuatan niat, kekuatan fisik dan pertolongan Allah. Tanpa itu semua, niscaya kita tidak akan mampu melakukannya. Ketika akhirnya menyaksikan prosesi tawaf dari lantai dua Masjidil Haram, hati ini begitu takjub..sekian ratus ribu orang berputar mengitari Ka’bah hingga tujuh kali sambil berdo’a membuat kita tidak berhenti menangis….kehausan kita pun masih tertolong dengan tersedianya air zamzam yang tiada habisnya, menyejukkan tenggorokan dan tubuh ini kita mengambil air untuk berwudhlu. Dan ketika kita mengakhiri ibadah umroh dengan Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan), sungguh benar bahwa kita sebaiknya tidak lagi menoleh/menengok Ka’bah agar kerinduan untuk kembali ke Haramain selalu ada. Kerinduan itu memang selalu ada, sembari berdoa dan berikhtiar agar saya bisa kembali bersama dengan keluarga, sahabat dan orang-orang yang saya cintai, amiin…
Kembali ke Indonesia, menjalankan aktivitas yang telah menunggu…membuat saya selalu merenung dalam setiap perjalanan saya. Betapa kita memang harus bersyukur, bahwa Indonesia yang demikian kaya dengan alamnya yang indah harus makmur dan mensejahterakan manusia yang hidup di alamnya. Membandingkan dengan kawasan Arab yang gersang, panas, penuh bukit-bukit batu…sementara Indonesia yang hijau, biru, berwarna-warni..membuat hati ini selalu berniat untuk bekerja lebih baik lagi demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Terlebih lagi setelah pulang umroh, saya harus pergi menjalankan tugas melakukan Penilaian Citra Pelayanan Prima ke Propinsi Kepulauan Bangka dan Belitung. Program penilaian yang dimotori oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara ini merupakan salah satu program untuk mendorong perbaikan pelayanan publik yang lebih baik dari Pemerintah maupun BUMN/BUMD dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Saya melihat bahwa alam Indonesia yang indah dan kaya dengan tambang timah (sebagaimana yang juga diceritakan dengan apik oleh Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi), ternyata banyak membuat orang mengorbankan lingkungannya…rasa sedih dan sekaligus prihatin membuat saya berpikir, tidak adakah yang peduli dengan semua itu? Atau kepedulian ini tidak akan cukup tanpa upaya yang jelas untuk perbaikan nasib masyarakat sekaligus tanpa merusak lingkungan? Sungguhpun ternyata, diantara semua itu masih ada harapan dari adanya berbagai inovasi dari tenaga-tenaga muda di sektor pelayanan perizinan dan sektor kesehatan yang cukup membanggakan dan patut ditiru oleh generasi muda lainnya. Hmmm selamat untuk Dokter Halim di Puskesmas Payung Kab. Bangka Selatan yang telah mempelopori inovasi pelayanan kesehatan di Kab. Bangka Selatan, semoga bisa menjadi teladan bagi dokter-dokter muda lainnya, juga kaum muda pada khususnya. Ayo kita tingkatkan pengabdian kepada masyarakat:)
Begitulah, perjumpaan saya dengan kaum muda Indonesia pun berlanjut dari berbagai kota/kabupaten dalam rangka memberikan training pelayanan terpadu satu pintu, dari Aceh, Sumut, Sumbar, Jabar, Jatim, Kalsel, Gorontalo, Sulsel, NTT, hingga Sulut. Sungguh karunia Allah yang tak terhingga sehingga saya punya kesempatan berbagi ilmu dengan kawan-kawan semua..meneguhkan komitmen mereka untuk selalu memberikan yang terbaik untuk masyarakat, membentuk paradigma baru dalam pelayanan perizinan, mendorong berbagai inovasi yang dapat diterima masyarakat, juga berdasarkan pengalaman dari daerah lain yang sudah berhasil menjadi lebih baik, wow..dari mereka pun saya dapat belajar banyak hal. Belajar dari alam, belajar tentang berbagai kearifan budaya, kesabaran untuk memahami nilai-nilai luhur budaya bangsa, juga bertoleransi antar pemeluk agama dan suku bangsa yang berbeda.
Dan akhirnya, dalam setiap perjalanan tentu akan menyisakan kenangan indah (antara lain jalan-jalan ke obyek wisata sekitar, hmmm pantai di Pulau Bangka yang berpasir putih, juga snorkeling di Taman Laut Bunaken yang indah..:), meski kadang ada juga peristiwa yang menggelikan (hampir ketinggalan pesawat, bagasi yang tidak terangkut, dsb) semua itu adalah bagian dari hidup (dan kadang perlu ditertawakan sekali-kali hehe..) yang jika kita tidak melihat dari sisi yang postif, kita akan terus menerus merasa capek dan kesal. Tapi, apakah saya kelihatan capek? Ah, tidak juga…saya sangat bersyukur pada Allah dan sangat menikmati profesi saya, alhamdulillah….















Tulisannya bagus-bagus lho mbak,… Selamat menulis lagi yah,.. Thanks for blogkwalking me,..
Mba Early, baca tulisanmu ttg umroh aja buat aku pengen nangis apa lagi kl aku beneran ke sana yah!!Ya Allah, permudah jalankan
mbak early ni cerita kisah nyata gag
Ass.wr.wb.
salam kenal say….ibu baca tulisanmu ketika rasa kangen akan Mekkah yang senantiasa muncul terus sejak kepulangan menjalankan ibadah Haji tahun lalu… memang,Subhannallah…ketika kita sudah menginjakan kaki di Haramain,senantiasa ingin kembali lagi….,marilah terus berupaya dan berdo’a,agar kita bisa kembali bahkan berulang-ulang bisa mengunjungi rumah Allah yang penuh dengan kedamaian….tundukanlah Dunia,tapi jangan sekali-kali kita ditundukkan oleh dunia,sehingga melupakan kewajiban kita pada Allah SWT,Selamat berkarya dan bekerja…….raihlah mimpi dalam genggamanNya!
Terharu membaca tulisan mbak early, serasa saya berada disana…insya’allah saya bisa menunaikan ibadah umrah seperti mbak early, aamiin…
BTW,kapan main ke Fakultas Ekonomi Unair mbak….ku tunggu…:)