Dimanakah saya sebelas tahun lalu, itu berarti tahun 1997 bukan? Hmmm sebenarnya sih ada dimana-mana, maksudnya..saya juga mengalami banyak kejadian dan bepergian juga, antara Ngawi-Surabaya-Malang dan kota-kota di wilayah Jawa Timur, tapi ada satu perjalanan yang tidak akan kulupakan seumur hidup, pengalaman yang berharga yang mungkin sulit untuk terulang lagi. Hah, kemanakah, perjalanan apakah, dan dengan siapakah saya mengalaminya? Ya, jawabannya adalah LATSITARDA XVIII di Propinsi Riau. Dan inilah foto yang masih merekam kejadian sebelas tahun lalu, saya diantara teman-teman AKABRI (yang sekarang mungkin rata-rata sudah berpangkat mayor). Hayo tebak saya yang mana?
Apakah LATSITARDA itu? Akronim itu singakatan dari Latihan Integrasi Taruna Dewasa, hmmm kegiatan ini seperti bakti taruna AKABRI (AKMIL, AAL, AAU dan AKPOL – dulu Akademi Kepolisian masih menjadi bagian dari AKABRI sebelum akhirnya sekitar tahun 1999 ada pembaharuan sistem ketentaraan di Indonesia dimana ABRI dipecah menjadi TNI dan Kepolisian) plus STPDN (yah, itulah sekolah praja yang beberapa kasus kekerasaannya menjadi polemik hingga sekarang) plus mahasiswa yang diundang untuk mengikuti kegiatan itu. Walhasil, saya yang pengin tahu banget tentang bagaimanakah kehidupan militer itu memberanikan diri mendaftar ikut kegiatan ini (dengan mengorbankan ujian tengah semester sehingga indeks prestasi saya semester itu jadi nol komas sekian hahaha plus kulit jadi gosong, tapi akhirnya piagam kegiatan ini mampu menggantikan nilai KKN saya menjadi A!!). Ya, saya dapat mengkonversi nilai KKN saya (yang tidak saya ikuti melalui kampus saya di Universitas Airlangga Surabaya) yang berasal dari Piagam Danjen AKABRI waktu itu, hehe lumayan…jarang kan nilai KKN dapat A, rata-rata teman seangkatan saya dapat nilai KKN-nya B, meski perjuangannya luar biasa juga untuk dapat nilai A itu, antara lain buat laporan sendiri:)
Mahasiswa yang diikutkan oleh tiap universitas yang diundang Panitia LATSITARDA ini rata-rata 20 orang, seangkatan saya waktu itu yang mahasiswa berasal dari Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, ITS, ITB, dan Universitas Diponegoro plus 2 universitas dimana lokasi LATSITARDA berada, yaitu Universitas Riau dan satu sekolah tinggi agama (IAIN di Riau). Jadi begitulah, saya yang daftar jauh-jauh hari sudah menyiapkan mental dan fisik agar dapat mengikuti kegiatan ini. Dengan dibekali uang saku, baju-sepatu-kaos-topi-ransel ala maka mahasiswa yang ikut kegiatan MENWA, maka begitulah saya harus menyesuaikan diri dengan atribut seperti itu hehehe..awalnya susah juga, tapi lama-lama biasa..menyesuaikan betapa harus cepat saya dan teman-teman lain untuk bersiap jika dipanggil untuk apel:)
Dalam LATSITARDA, dibagi menjadi beberapa satuan latihan (disingkat satlat), dimana masing-masing satlat tersebut semua (mulai komandan satlat, regu, maupun kelompok) dipimpin oleh taruna/praja dari salah satu sekolah yang tergabung dalam AKABRI dan STPDN, tetapi pesertanya adalah campuran dari AKABRI, STPDN dan mahasiswa, sehingga semuanya membaur. Gambarannya begini, di LATSITARDA ada 5 satlat : Satlat Macan dipimpin Taruna dari AKMIL, Satlat Elang dipimpin Taruna AAU, Satlat Kijang dipimpin Taruna AKPOL, Satlat Hiu dipimpin oleh Taruna AAL, dan Satlat Gajah dipimpin Praja STPDN. Saya dan beberapa teman perempuan dari Unair bergabung dengan Satlat Macan (yang katanya terkenal galak dan disiplin, maklum dari AKMIL hehehe).
Maka perjalanan naik kapal perang dari Surabaya (dengan seluruh taruna AAL plus mahasiswa dari Unair, Unibraw dan ITS) dimulailah, menuju Semarang dimana kami akan bertemu peserta LATSITARDA lainnya. AKMIL dari Magelang, AAU dari Jogja, AKPOL dan mahasiswa Undip dari Semarang sendiri serta STPDN dan ITB dari Bandung. Di Semarang-lah kami harus berpencar mencari satlat masing-masing, berpedoman pada bendera besar warna merah bergambar macan, saya dan teman-teman dari Surabaya berhasil menemukan satlat kami. Demikian juga mereka yang harus mencari satlat masing-masing, mecari bendera besar bergambar kijang, hiu, gajah dan elang. Rasanya luar biasa, dan yang paling membuat capek tentu saja adalah upacara, upacara dan upacara yang diawali dengan gladi kotor satu, dua, tiga plus gladi resik satu, dua, dan tiga. Bayangkan, belum ada upacara yang sesungguhnya pun banyak mahasiswi yang pingsan hihihi..untung saya sehat-sehat saja, alhamdulillah…Ucapaca pembukaan yang dipimpin Panglima ABRI (waktu itu) Jendral Faisal Tanjung di Pelabuhan Semarang-pun berlangsung dengan tertib, yang mengawali perjalanan panjang kami menuju Pelabuhan Dumai Propinsi Riau (waktu itu juga belum ada Prop. Kepulauan Riau).
Perjalanan panjang selama hampir lima hari, dengan kegiatan utama apel pagi, siang, dan malam menjadi kegiatan rutin. Berbagai materi juga disampaikan di atas kapal perang kami (tiap satlat terkumpul menjadi satu kapal). Kapal Satlat Macan kami bernama KRI Teluk Banten, dengan seisi kapal hampir 600 orang, mesti antre kalau mandi (karena air cuma mengalir selama 10 menit), tetap apel meski waktu itu muali kabut asap di Riau hingga ke perairannya, dan segala macam suka duka bersama bersaing denga kecepatan kami memakai sepatu dan baju jika tiba-tiba mesti apel (dalam keadaan kabut asap-pun kami tetap apel dengan memakai masker, bahkan pernah apel di tank dek, itu…kapal bagian bawah sendiri yang fungsinya sebagai tempat parkir tank-tank, hmmm bayangkan betapa besarnya kapal perang eks Jerman Timur ini). Dalam keadaan banyak teman pun karena kita tidak terbiasa hidup di laut (kecuali awak kapal dan teman-teman dari AAL yang biasa melaut), kami kadang tetap merasa kesepian di tengah-tengah laut, kadang bagi yang tidak tahan juga akan mual dan muntal dengan gelombang besar yang kadang menghantam. Subahanallah betapa kuasanya Tuhan, kapal sebesar itu pun bisa goyang-goyang karena air laut!!
Tapi yang menyenangkan adalah jika malam kita bisa melihat langit hitam bertaburan bintang indah, atau kita bisa menikmati sinar matahari pagi yang cerah dan hangat…hmmmmm, ini sering saya lakukan bahkan sempat foto bersama dengan Bang Budi dan teman dari STPDN, Tri.
Sesampai di Riau pun, kami pun masih ada pembagian tempat pelaksanaan kegiatan, dan akhirnya saya dan teman-teman Satlat Macan menempati Kabupaten Indragiri Hilir, itu adalah kabupaten terujung dari Propinsi Riau (apalagi jika dihitung dari Pelabuhan Dumai), berbatasan dengan Propinsi Jambi. Maka mulailah perjalanan panjang selama hampir 24 jam dengan menumpang bus kecil yang jumlahnya puluhan, diiringi patroli polisi yang membuat semua kendaraan minggir. Dengan melewati Komplek Perumahan CALTEX, Pekanbaru, Rengat (ibukota Kab. Indragiri Hulu), dan akhirnya Tembilahan (ibukota Kab. Inhil) melewati jalan-jalan antar kota yang sempit, dari situlah saya menyadari betapa tidak adilnya pembangunan Indonesia waktu itu (apalagi sudah mulai krisis moneter saat itu). Daerah sekaya Riau (yang menambang minyak-nya pun di darat, tidak di laut) ternyata masih cukup miskin di mata saya, dibanding kota-kota di Jawa dengan jalan-jalan yang lebar dan juga mempunyai jalan tol. Wah, langsung saya maklum dan mengerti kenapa waktu itu Aceh pengin merdeka sendiri, atau Papua yang selalu bergejolak. Betapa negara ini memang salah urus dan kami yang dari Jawa ini jadi merasa malu sekali jika mengingat sebagian besar uang dari daerah luar Jawa disedot ke Jawa, hiks.
Tapi, itulah mungkin jalan hidup yang telah saya tempuh…dengan adanya sedikit kesadaran dan pengalaman itu, dimana saya di Kab. Inhil pun saya ditempatkan di Kec. Batang Tuaka Desa Sungai (Sei) Piring, sangat terpencil, kalau mau ke ibukota kabupaten pun harus naik speed boat 30 menit, yang pasarnya cuma ada sepekan sekali, membuat saya merasa bersyukur. Bermain dan belajar dengan anak-anak sekitar tempat tinggal saya selama 1,5 bulan membuat saya ingin harus sesuatu untuk negeri ini. Senyuman anak-anak desa terpencil itu masih terbayang hingga sekarang ketika kami berolah raga sore bersama.
Dan akhirnya, sebelas tahun kemudian, Agustus 2008 lalu saya berkesempatan lagi ke Indragiri Hilir meski tidak sampai ke desa tempat saya menghabiskan 1,5 bulan di tahun 1997 itu. Tembilahan, ibukota Inhil sudah semakin maju, dari perbatasan Indragiri Hulu hingga Tembilahan pun sudah dibangun 124 jembatan untuk menjembatani parit-parit kecil yang merupakan anak Sungai Indragiri. Dan Inhil memang dinamakan Negeri Seribu Parit karena saking banyaknya jembatan kecil-kecil yang dibangun. Dan memang sejak adanya otonomi daerah, Riau semakin berbenah dimana mulai banyak diperbaikinya pelayanan publik kepada masyarakat (ada rumah sakit yang cukup bagus, pelayanan perizinan satu pintu, dll). Meskipun saya tidak sempat ke Batang Tuaka, saya pun sempat memotret beberapa kemajuan sekaligus speed boat yang masih beroperasi meski sekarang untuk menuju kesana sudah ada jembatan kokoh yang menghubungkan dengan Tembilahan.
Hmmm meretas kembali kenangan sebelas tahun lalu, dengan menumpang becak pengemudi samping yang saya naiki keliling Kota Tembilahan tahun ini, di suasana kemeriahan menyambut HUT RI ke 63 lengkap dengan lomba gerak jalan anak-anak SD, plus penjual kaki lima dengan atribut bendera merah putih yang meriah di kota kecil ini membuat saya merenung, betapa ternyata kemajuan pembangunan akan bisa berhasil jika memang ada komitmen yang kuat dari pemerintah, baik di tingkat pusat, propinsi, dan kota/kabupaten. Yah, meskipun itu mungkin belum sepenuhnya menghapus ketidakadilan dan kemiskinan di negeri ini. Maju terus Indonesiaku, tetap semangat !!

















Sempat Merinding saAt membaca tulisan ini
Karena tepat hari ini tgl 28 november 2008 saya baru kembali dari latsitarda di Padang
11 tahun yg lalu dan sekarang.. cerita yg sama
situasi yg sama
yg beda hanya sekarang tidak ada lagi satlat Gajah
jadi tinggal 4 Satlat
Saya di Kijang di Kabupaten yg paling terpencil, kecamatan lebih terpencil lagi dan desa yg lebih lebih lagi
Salam kenal Buat Ibu
Dear onearly, ..
Jadi inget kembali ke masa lalu dech kalo inget Latsitasrda Jambi, coz..saya jg pernah jd rombongan yg sama ke Jambi, tepatnya di SATLAK HIU kebetulan ke lokasi di Desa Pembengis Kec. Sei Serau – Tanjung Jabung (Kuala Tungal – Jambi).
Inget pas kita 1 Peleton gak pernah mandi, akhirnya hrs nyebur ke air rawa..but It’s nice story in my life before.
Melalui Blog ini semoga kita bs saling contact, semoga sukses..and salam kenal kembali. Peace.
Best Regard,
Dudy Bagus Prasetyo
STPDN Angk.05 – Banjarmasin
SATLAK HIU – Latsitarda Jambi
Makasih sdh mampir ke Blogspot saya, mbak !!? Kayaknya mbak bergerak di konsultan juga, yaa..ehh, sama donk !!? Tahun 2007, 2008 s/d 2009 ini saya lg garap program comdev di PT Arutmin Indonesia Satui Mine..nama program-nya “Program Aku Himung Petani Banua”, sambil sharing pengalaman waktu dinas di Seksi PMD Kec. Teweh Tengah – Muara Teweh dulu ke temen2x Comdev AI Satui, Alhamdulillah dalam kurun waktu itu banyak kemajuan yg dicapai dlm program tersebut. Icon-nya adalah Masyarakat Petani Sekitar Tambang..sbg penerima dampak langsung tambang batubara AI Satui. So, sambil kul S.2 sambil magang kerja..tentu aja pengalaman yg menarik, tul gak..mbak ?
Mbak-nya kayaknya jd Tim Penilai Lomba Blogger juga, yaa..bagi2x donk Tip and Triks-nya biar Blog-nya lebih dikenal di dunia maya.
Herankan alumni STPDN jd pengamat IT and Lingkungan..sy sendiri jg bingung, kok bisa yaa ? he3x Ada saran gak, mbak ?
Aku pernag merasakan Latsitarda di Riau pd tahun 1997 , waktu itu aku di Satlat Gajah. Tepatnya di Indragiri Hulu ( Kec Rengat ). Sungguh menyenangkan , bila kita bisa ber-romantisme kembali mengingat masa-masa itu bermain volly dan sepak bola di Stadion Narasinga , mengirim pesan lewat satu-satunya radio swasta yaitu Radio Narasinga. Teman-teman….dimana kalian semua Erni Haris ( STPDN Ponorogo ) Indra Joko ( AAL ) Erwin , Budi , Iwan ( Akmil ) dll , . Masih ingatkah kalian waktu dimalam hari di RSUD Rengat sebelum kita pulang ? di asrama perawat ?….salam sehat selalu kawan
jaga amanah kepo0lisian
wahhh ternyata banyak pernah terlibat di Latsitarda ya?:) syukurlah..jd reunian nih hehe
Mbak, tuh baru ketemu di facebook..temen2x Anda waktu Latsitarda Riau..coba crosscheck via Facebook with callsign “Dicky Novriandy”…mudahan msh ada yg kenal tuh.
mba early pengalamannya banyak bener sih…tahun 1997 aku baru selesai berjibaku dengan tahun percobaan di IPB…sedangkan mba early sudah merantau sd riau…tob banget deh…
Sbuah knangn trndh memang gak pnah bs dluapin bro. Jg tali silaturahm
dudi ente krang d mn posisi tugas dan jabatan kapan kita reuni di bandung khusus 05 barak maluku bawah dan info no coll sukarman dari bulu kumba ….
tolong call hp ku : 081803622240/081339810071.
hallo, salam kenal mbak. trims udah ngeadd aku. pertamanya aku bingung siapa mbak ini. terakhir aku nanya ke mas rofik (AIPRD-LOGICA) dan begitu aku liat foto latsitardanya ternyata satu angkatan sama aku. difoto itu anak stpdn feri Djatmiko (kediri) dan dwi warni (Sleman). kalau aku satlat hiu di Natuna mbak, jd kami gak naik KRI tp hercules. BTW thanks and sukses slalu