Berbagai tugas ke daerah yang saya jalani telah menyimpang berbagai kenangan yang tak terlupakan. Ada suka dan duka tentu saja, tetapi itu semua tidak membuat saya kapok untuk selalu pergi dan menjalankan tugas di luar pulau Jawa. Ada rasa yang menyenangkan hadir dalam hati saya, manakala saya dapat berbagi cerita dan menodrong motivasi teman-teman di daerah (baik mitra lokal – LSM atau pemerintah daerah).
Saya ingiiiiiiin sekali daerah-daerah juga bisa maju seperti di Pulau Jawa, biar masyarakat luar negeri juga tahu kalau Indonesia tidak hanya Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja atau Bali. Saya ingin mereka, saudara-saudara saya nun jauh di luar Jawa juga bisa merasakan kemajuan ekonomi dengan mengolah berbagai potensi yang mereka miliki. Lihatlah pantai Teluk Kupang yang indah ini (terlihat dari kejauhan)..atau betapa ramai juga Pasar Oesao yang saya ambil suasananya saat akan menuju Soe (Kab. Timor Tengah Selatan) dan Kefamanu (Kab. Timor Tengah Utara), hmmm meski kebanyakan pedagang juga berasal dari Jawa atau Bugis :


Dan sepertinya mereka mulai terprovokasi dengan ide-ide saya yang kadang cenderung nyeleneh, tapi tetaplah harus diiringi dengan kerja keras para pejabat dan masyarakatnya. Ide yang saya tawarkan ini tidak jauh-jauh dari pengembangan ekonomi kreatif, karena saya yakin diantara masyarakat yang kurang sejahtera itu ada potensi tersembunyi yang selama ini belum di-eksplore secara maksimal. Padahal contoh dari daerah lain sudah ada, dan mereka sudah mulai menuai hasil dari pengembangan sektor kreatif itu, misalnya Kabupaten Jember dan Kota Surakarta (lebih dikenal dengan nama Solo). Kedua daerah itu sudah mulai mengembangakan ekonomi kreatif dengan membuat berbagai event berskala nasional dan internasional yang untuk saat itu sudah mulai menarik perhatian masyarakat banyak, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Dua wilayah yang dulunya tidak begitu diperhitungkan perannya, sekarang sudah banyak dilirik oleh pemodal usaha yang bergerak di berbagai bidang, apalagi Jember juga sudah punya lapangan terbang.
Jadi, kalau mereka bisa, mengapa daerah lain tidak? Itulah yang saya ingin sampaikan kepada teman-teman di NTT. Bahwa ada image yang kurang menyenangkan tentang NTT (karena daerahnya kering – khususnya di pulau Timor dan Sumba, SDM-nya yang kurang maju, dsb) itulah tantangan yang harus kita hadapi dan atasi bersama. Apalagi berbagai lembaga donor banyak yang mempunyai program kegiatan di sana, mulai sektor kesehatan, kekerasan pada perempuan, ekonomi, sanitasi, dsb. So, inilah justru menjadi peluang pemerintah daerah untuk menggali berbagai kemungkinan pengembangan program peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang tidak hanya bergerak di sektor mikro tapi juga makro (grand design secara keseluruhan program pengembangan ekonomi). Jadi, memang ada hikmahnya juga saya berkesempatan untuk secara kontinyu mendatangi Kota Kupang dan Kefamanu (ibukota Kab. Timor Tengah Utara – TTU itu..:)
Seminggu melintasi Kota Kupang, Soe (ibukota Kab. Timur Tengah Selatan) dan kemudian masuk ke wilayah TTU, saya merasa pasti banyak yang dapat dilakukan di NTT. Seperti juga kemudian ketika saya ke Flores (mengunjungi Larantuka yang menjadi ibukota Kab. Flores Timur dan juga tentu saja Maumere – ibukota Kab. Sikka), hmmm sunguh suatu pengalaman yang tidak kalah menyenangkan.
Berkendaraan melintasi sepanjang pantai selatan Flores, kita akan berhadapan dengan pemandangan indah yang sungguh membuat hati ini merasa kerasan. Pulau-pulau kecil yang indah di sekitar Pulau Flores sunggung menambah keindahan alam Indonesia yang sampai saat ini masih jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia secara luas, maklumlah begitu banyak potensi wisata yang belum dimanfaatkan secara maksimal, termasuk fasilitasnya..padahal udah mulai banyak wisatawan asing yang berkunjung ke Flores lho:) Kota Larantuka kecil saja, tetapi cukup ramai meski kadang sering mati lampu seperti yang saya alami sewaktu di sana, hehe..jadi agak terganggu juga jika perlu mengadakan berbagai kegiatan.


Kondisi yang tidak seperti di Pulau Jawa pada umumnya (yang pasokan listriknya lumayan cukup, akses transportasi yang mudah, dsb) ternyata sedikit banyak berpengaruh pada kinerja para pegawai negeri-nya, ya itu sudah pasti…hanya saja saya sangat berharap bahwa apa yang kami lakukan (memberikan dampingan perbaikan kinerja pelayanan publik khususnya perizinan) mampu mendorong mereka untuk berkarya dengan lebih baik lagi.

Di Maumere pun, setelah dari Larantuka, saya juga menemukan hal-hal yang menarik. Betapa semangat memperbaiki kinerja pemerintah telah mereka miliki, tinggal kemauan politik pemimpin daerah untuk merealisasikan kebijakan yang benar agar masyarakat dapat merasakan perbaikan reformasi birokrasi yang lebih nyata, semoga….
Dalam perjalanan menuju Denpasar, flight saya transit di Waingapu, Sumba Timur…dan inilah beberapa motif tenun yang dijual di bandara setempat. Cantik-cantik bukan?:) Hehe..pokoknya bikin ngiler hasil tenunan itu, sampai-sampai saya akhirnya merasa perlu untuk mengoleksi beberapa tenunan baik dari Flores maupun Sumba.

Ohya, tahun kemarin saya sebetulnya sudah pernah ke Flores selama seminggu, memberi training di Sikka (Kota Maumere) dan Kab. Bajawa (Kota Ngada)..tapi di sela-sela itu saya sempat jalan-jalan mengelilingi sebagian Pulau Flores, jalan-jalan keliling Kota Ende yang indah, belanja di pusat penjualan tenun, termasuk berkunjung ke rumah tempat pengasingan Bung Karno di Ende, mengagumi Danau Kelimutu (ada 3 warna bo!) dan juga desa adat Bena (terletak jauh di pelosok Ngada, tapi sungguh cantik, alami dan sebagian bilang seperti Manchu Picu di Peru itu:)..yang pengunjungnya kebanyakan dari luar negeri, wah kemana ya para wisatawan domestik kita? Waktu saya kesana, pas ada latihan para pemuda pemudi yang menari adat untuk persiapan kunjungan dari wisatawan dari sebuah kapal pesiar dari USA! Dan mereka juga mempertunjukkan tarian bambu lho….Berikut foto-fotonya :






Dan, ketika saya meninggalkan Ende dengan menumpang pesawat kecil Trigana Air, saya melewati Danau Kelimutu dan menyaksikannya dari atas pesawat, sungguh indah !:)











Benarkah event yang dilakukan Jember adalah di bidang fashion itu dan yang di Solo Heritage World Conference itu kah? maaf, saya masih awam soal ekonomi kreatif…bagi2 ilmu yaaaaaaaaa…:)
Yang di Jember adalah Jember Fashion Carnival..diadakan sejak 7 tahun lalu. Penggagasnya adalah Dinand Fariz, dosen Univ. Negeri Surabaya. Dari acara fashion itu, kemadian Pemkab Jember terinspirasi membuat acara Bulan Berkunjung ke Jember setiap bulan Agustus (udah jalan 2 tahun ini). Dari acara itu, kemudian Walikota Solo mengundang Pak Dinand Fariz untuk membantu membuat acara Solo Batik Carnival (April 2008) yang rencananya akan diselenggarakan setiap tahun di Solo. Sedangkan World Heritage Cities Conference itu adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh kota-kota warisan dunia, th 2008 ini yg jadi tuan rumahnya adalah Solo. Dengan demikian memenag inisiatif Walikota Solo untuk menjadikan Solo sebagai ikon kota yang mendasari spirit masa lalu sebagai acuan pengembangan kota adalah salah satu upaya mengembangkan ekonomi kreatif dari sisi budaya lokal.
nice trip
enak yach bisa keliling nusantara…
trimakasih telah mengunjungi NTT salam kenal Rahmat mahasiswa jogja
NTT ya?
Waduh, saya benar2 kangen dg Kupang…
Saya dulu menghabiskan masa kecil saya di sana..
Salam kenal.
trims udah promosikan flores & timor. Tapi kalau boleh foto-fotonya lebih diperbanyak, karena banyak pemandangan yang bagus.
keren banget tulisannya mbak!