Hari ini seratus tahun lalu lebih, Kartini lahir di Jepara…
Ada yang tidak biasa dalam diri gadis Jawa itu, hmm mungkin juga sama denganku dan sekian ratus ribu perempuan lain di Indonesia yang kadang masih dianggap ‘aneh’ ketika memilih untuk melakukan kegiatan yang agak keluar jalur tradisional peran perempuan.
Tapi Kartini tetap berusaha untuk teguh hati melalui surat-surat yang ditulisnya. Menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya membuatnya sejenak mampu menepis kegundahan hidup yang dijalaninya saat itu. Apakah Kartini bahagia meski menjadi istri ketiga seorang Bupati? Entahlah, yang jelas apa yang Kartini lakukan membuat banyak pihak simpati. Bertubi-tubi dorongan semangat datang dari teman-temannya yang orang Belanda itu, tetapi Kartini tahu bagaimana menempatkan dirinya, melakukan yang terbaik bagi dirinya dan keluarganya. Bahkan tawaran beasiswa sekolah ke Ngeri Belanda pun ditampiknya, dan diberikannya kepada Agus Salim, laki-laki pintar nun jauh dari Sumatra yang dikenalnya dari berbagai informasi yang sungguh terbatas saat itu.
Sungguh, kadang-kadang kerelaan berkorban ternyata tidak serta merta akan mendapatkan balasannya. Banyak sekali analisis para tokoh terhadap Kartini, tetapi novel karya Pramudya Ananta Toer itulah yang menggelitikku. “Panggil Aku Kartini Saja”…tanpa embel-embel yang seolah memberatkan, tanpa maksud untuk menjadi tokoh pejuang, just call me Kartini….:)
Ketika menuliskan semua ini, rasanya hidup sebagai perempuan tidaklah berat. Allah sudah memberikan porsi yang jelas, mana kodrat laki-laki dan mana kodrat perempuan. Selebihnya, tinggal bagaimana kita mampu menempatkan diri kita sebaik-baiknya di keluarga, masyarakat dan lingkungan yang lebih luas lagi.
Maka tetaplah tersenyum wahai saudara perempuanku, apapun peran yang Anda jalankan, asal tahu konsekuensinya dan paham apa arti kebebasan yang sesungguhnya, maka itulah yang terbaik buatmu. Tetapi ingatlah, nilai-nilai yang berkembang saat ini menuntun kita untuk bersikap bijak, dan semua juga tahu kalau sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuk kebebasan, dan ini berlaku baik untuk laki-laki dan perempuan.
Mengenang Kartini di kala sendiri…membuatku doa’ku semakin terpatri, bahwa hidup bukanlah sekedar menjalani, tetapi ada tanggung jawab yang harus diresapi dan dipenuhi untuk generasi yang kita kasihi.
Happy Kartini’s Day…










Dari sebagian sisi dalam memandang perjuangan Kartini untuk ikut berperan dalam membangun mentalitas bangsa atau peran perempuan untuk ikut memajukan bangsa,memang gak salah, namun jika kita cermati lebih detail tentang ‘ Habis Gelap Terbitlah Terang’ kita akan temukan ‘kebablasan’ (jikalau tak mau di sebut kesesatan). Antara lain : Dia mengatakan dalam sebuah suratnya bahwa semua agama sama saja, baik dan benar, tak ada bedanya dan masih beberapa kesesatan dalam memandang Islam. Dan tidak mengherankan jikalau orang-orang barat menyukainya.. Saya nggak pandai menyusun atau menjawab retorika dengan retorika yang lain,namun semoga ini bisa jadi renungan.
Dan kesesatan / kerancuan pemikiran dalam ber-Islam sangat membahayakan umat. Untuk itulah Rasul di utus. Dan kebenaran bukan terletak pada keumuman pendapat manusia.
Apa kabar Ear?? Semoga Allah menjagaimu..
Sisi Lain Kartini : Pelopor Kebangkitan Nasional
Sejarawan George Mc Turnan Kahin, penulis buku Nationalism and Revolution Indonesia, mengatakan bukan Budi Utomo pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia melainkan Kartini. Sementara itu Profesor Ahmad M. Suryanegara, dalam buku Menemukan Sejarah, menuturkan Kartini tidak hanya berjuang untuk perempuan, tapi juga untuk membangkitkan bangsanya dari kehinaan. Asvi Warman Adam menyimpulkan pula Kartini tidak hanya tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga pelopor kebangkitan nasional.
Selengkapnya
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/kartini-pelopor-kebangkitan-nasional.html
sepakat Mbak early,…
“hidup bukanlah sekedar menjalani, tetapi ada tanggung jawab yang harus diresapi dan dipenuhi untuk generasi yang kita kasihi”,….
Sukses ya untuk studinya di Jerman
Viel Gluck!