Matahari musim gugur di hari terakhir di bulan Ramadhan 1430 H masih terasa di langit Osnabrueck ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di kota yang akan menjadi tempat tinggal baruku selama dua tahun, untuk menuntut ilmu di FH Osnabrueck (wilayah Niedersachsen – Jerman bagian utara). Masih terbayang pelukan sahabat-sahabatku di stasiun Freiburg ketika mereka mengantar kami berenam pindah ke kota yang baru, bahkan rasanya airmataku pun belum kering karena berpisah dengan mereka. Hmm aku masih ragu apakah aku akan merasa nyaman disini setelah enam bulan aku tinggal di Freiburg yang membuatku sangat kerasan karena beragam pengalaman baru, belajar Bahasa Jerman bersama-sama di Goethe Institut mulai dari 0 seperti anak TK, punya teman-teman yang menyenangkan dari seluruh dunia dan tentu juga karena banyaknya orang Indonesia yang tinggal di Freiburg
Tapi, aku harus bisa menjalani hidupku di Osnabrueck karena memang takdirku adalah sekolah disini, di sini pula tempat aku menyebutkan asal siaranku di Radio PPI Dunia : www.radioppidunia.com (radio online yang basisnya di laptop masing-masing DJ hehe..)
Jadi diantara berjuta pertanyaan dan tantangan yang harus aku hadapi karena sekolahku menggunakan pengantar Bahasa Jerman, aku bertekad untuk bisa berhasil menempuh pendidikan masterku. Saling mendukung dan membantu serta tolong menolong diantara kami – para mahasiswa baru, doa dari keluarga dan berusaha untuk menikmati hari-hariku di kota baru adalah upaya-upaya yang aku lakukan agar aku bisa kerasan tinggal disini. Kalaupun aku agak merasa bosan menjalani aktivitasku aku akan berjalan-jalan dan bersepeda di sekitar Osnabrueak atau aku bahkan sering menghabiskan weekend-ku di kota lain seperti Muenster, Bremen, Hannover, Bonn, Koeln, Duesseldorf, Emden, kota-kota di Belanda (karena memang Osnabrueck tidak jauh dari perbatasan Belanda) atau bahkan bepergian ke Freiburg dan Konstanz (Jerman bagian selatan) – tempat sahabat-sahabatku yang lain tinggal meski aku harus menempuh perjalanan antara 6 hingga 13 jam naik kereta api !!
Jujur saja, kehidupan di Osnabrueck memang tidaklah sangat istimewa di mataku, tetapi juga tidak jauh dari harapanku. Artinya aku merasa beruntung karena meski kuliahku tergolong sulit karena bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Jerman, aku punya teman-teman sekelas dan pengelola program studi yang baik kepada kami sebagai orang dari luar Jerman yang kadang tidak tahu apa-apa tentang Jerman. Kami, sebagai mahasiswa baru dan berasal dari luar Jerman punya buddy – semacam pendamping, kakak kelas yang bekerja sukarela – yang akan membantu kami dan menjelaskan kepada kami tentang apa saja yang harus kami lakukan di Osnabrueck agar studi kami berhasil dan bisa menjalani hidup dengan nyaman disini. Hmm ini satu hal positif yang aku dapatkan tinggal di Osnabrueck, aku jadi merasa optimis bahwa aku akan baik-baik saja. Toh kalau aku kangen dengan suasana Freiburg dan Konstaz, aku bisa menghabiskan waktu liburanku disana, dan memang itulah yang aku lakukan.
Selama 10 bulan aku resmi tinggal di Osnabrueck, aku sudah empat kali ke Konstanz dan Freiburg, menghabiskan liburanku disana…dan rasanya memang beginilah caraku agar tetap bisa menikmati hidupku, sekolah lagi setelah sekian lama lulus S1 dan sekaligus tetap menjaga kreativitasku dengan menulis – suatu kegiatan yang menurutku membutuhkan penyegaran energi dengan suasana yang aku anggap nyaman
Osnabrueck sendiri adalah kota yang cukup bersejarah karena sejak tahun 1648 menjadi kota yang terbuka dan bebas bagi siapa saja (hmm coba aja lihat lambang Osnabrueck – seekor burung dara dengan tulisan emas : Friedenstadt 1648), karena sebelumnya kota ini selalu menjadi rebutan banyak pihak plus punya simbol patung kepala manusia seperti topeng yang berisi pesan perdamaian yang mudah dijumpai di wilayah Osnabrueck (istilahnya Osnabruecker Land). Osnabrueck juga pernah menjadi tuan rumah bagi beberapa pertemuan untuk membahas perdamaian diantara pihak-pihak yang bertikai di masa lalu, seperti penganut Katolik dan Protestan. Bahkan dengan penduduk berkisar antara 170.000 orang, Osnabrueck menjadi kota nomor satu di Jerman yang punya keragaman etnis (kelompok, suku atau asal negara) yang paling banyak !! (meski jumlah orang masing-masing kelompok itu bervariasi, mulai dari yang cuma 5 orang hingga ribuan orang).
Di Osnabrueck terdapat dua perguruan tinggi yaitu Universitas Osnabrueck dan Fachhohschule (FH) Osnabrueck atau dalam bahasa Inggris University of Applied Sciences Osnabrueck, dan di perguruan tinggi inilah aku menempuh studi master-ku (Master of Management for Non-Profit Organization). Osnabrueck, seperti kota-kota lain di Jerman juga punya banyak bangunan gereja (seperti Johannis Kirche, St. Marien Kirche, dan St. Katherine Kirche), sangat menjaga keaslian kota lama-nya (dalam bahasa Jerman dinamakan Altstadt), juga punya Felix Nussbaum Museum yang bentuk bangunannya sangat unik, punya bangunan bekas istana yang berwarna kuning yang masih dalam tahap renovasi untuk kelak digunakan sebagai tempat kuliah teman-teman di Universitas Osnabrueck, punya Lagerhalle – tempat penyelenggaraan beragam budaya dan seni mulai pentas music, teater, kursus-kursus kerajinan sampe Pecha Kucha, juga setiap September – Oktober menyelenggarakan festival budaya dari berbagai negara dan tentunya setiap musim dingin selalu ada Weinahmarkt atau pasar malam menjelang Natal
Dengan pengalaman selama aku hidup di Osnabrueck aku jadi tahu bagaimana harus menikmati hidupku, karena kadang kita tidak mendapatkan persis sama yang kita inginkan. Tetapi hidup disini membuatku menjadi lebih dewasa dan bertoleransi. Bagaimana tidak ? Kita harus berusaha menyesuaikan diri hidup di sebuah apartemen yang berisi 2 laki-laki dan 2 perempuan (tapi kamar sendiri-sendiri lohh), semua urusan rumah tangga di apartemen harus ditangani bersama dengan pembagian tugas bersama, harus tahan dengan musim dingin (yang tahun lalu berlangsung hingga 4 bulan penuh dengan salju yang tebal di waktu-waktu tertentu !!), kadang juga siap lelah mengayuh sepeda karena kuliahku seringnya di gedung kampus FH Osnabrueck di atas bukit (Westerberg).
Tetapi melodi kehidupan menjadi mahasiswa lagi bagiku memang menyenangkan kok (walaupun mahasiswa Indonesia di Osnabrueck sekarang cuma 6 orang dan biasanya kami sering ngumpul dengan masak-masak dan makan bareng), meski kadang pula kami stress dengan berbagai tugas (apalagi dengan Bahasa Jerman hehe..). Yang jelas sistem pendidikan di Jerman menurutku memang pas dengan gaya hidupku, yang seneng banget jalan-jalan…kuliah tiap semester cuma 3 bulan dan selebihnya libur, libur, kunjungan ke banyak lembaga (karena kami juga ingin mendapatkan ilmu yang praktis) dan libur lagi
Kuliah yang berlangsung pun secara umum aku bisa mengikuti karena memang sudah sekian lama malang melintang di dunia NGO, jadi tidak begitu susah mendalami tema kuliah yang disodorkan, dan satu-satunya hambatan hanyalah bagaimana bisa membaca dengan baik literatur dalam Bahasa Jerman dan berusaha mengerti apa yang disampaikan dosen yang bicaranya cepat sekali dalam Bahasa Jerman, hihihi yang kadang teman-teman dari Jerman pun juga kesulitan untuk memahami, wahh apalagi kami yang bukan orang Jerman ?
Tapi mulai semester dua ini ada beberapa mata kuliah yang menggunakan Bahasa Inggris, jadi Alhamdulillah tidak banyak mengalami kesulitan.
Jika aku refleksikan semua yang pernah aku alami, aku ingat aku sempat sering menangis di awal-awal kuliahku dulu, dengan suasana baru di Osnabrueck yang membuatku harus beradaptasi dengan semua hal yang baru. Di saat itu aku sering menelpon sahabatku – yang kukenal di Freiburg, yang kuliah di Konstanz, jauh dari Osnabrueck, tapi begitu mengerti diriku – yang akhirnya mengatakan, “My dear, our honeymoon (during German course) in Freiburg already finished, you must accept your live now, you must understand that not all that you want it will not be yours. I believe in you, I know you are the strong woman. Don’t cry meine liebe, I’m sure you will get your succeed in study and succeed in your life in Germany !!”. Kini aku mengerti, satu hal yang paling berharga di dunia ini adalah persahabatan, dengan siapa saja ; keluarga, orang yang kita kenal di sekitar kita atau bahkan siapapun yang tanpa sengaja kita lukai. Pengalamanku membuktikan semuanya, aku tidak pernah kesepian di Jerman, ada banyak kawan yang kumiliki, ada banyak hati yang siap menampung segala keresahanku selain Allah tentunya, karena kota-kota tempat persinggahanku membuktikan semuanya, entah itu di Freiburg, Konstanz, atau di Osnabrueck.
*Diedit di Budapest – 1 Juli 2010*













Saya senang mengetahui anda belajar di FH Osnabrueck. Saya, BM. Purwanto dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, mengajar Empirical Social Research di FH Osnabrueck setiap November di blockweek sejak 2009. Saya baru pulang dari mengajar di FH Osnabrueck minggu lalu. Tahun 2011 saya diundang kembali untuk mengajar di FH Osnabrueck. Semoga bisa bertemu anda bulan November tahun 2011.
hi. sekarang saya lagi magang di Osnab juga. Apakah masih ada kontak orang2 Indonesian di sini? terima kasih…