Mendapatkan beasiswa ke luar negeri memang merupakan dambaan tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk saya. Bisa mengalami berbagai budaya dan kebiasaan yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia merupakan salah satu keinginan terbesar saya. Jujur saja alasan tersebut adalah alasan yang paling kuat dan tentu saja disamping belajar untuk meraih jenjang yang lebih tinggi di bidang pendidikan.
Suka duka mendapatkan beasiswa tentu saja ada, karena sejak tahun 2000 saya sudah mencobanya sejak lulus S1, tetapi karena berbagai kesibukan di lembaga tempat saya bekerja (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil – PUPUK) dan belum mempunyai nilai bahasa Inggris yang memadai, membuat saya harus menahan diri serta mau ngga mau harus mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris dengan lebih baik. Sebenarnya di tahun 2003, saya sudah mendapatkan beasiswa ke luar negeri yaitu ke Perth Australia untuk mendalami small business consulting melalui Program Indonesia Australia Special Training Project (IASTP) dari AusAID (Pemerintah Australia)selama 6 bulan. Nah, sebelum berangkat ke Perth kami dibekali kursus bahasa Inggris di IALF (Indonesia Australia Language Foundation) Jakarta selama 4 bulan, sehingga waktu mempelajari bahasa Inggris itulah yang saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan mengikuti kursus tambahan persiapan ujian IELTS. Sebelum berangkat ke Perth pun saya berusaha untuk mencoba ikut ujian IELTS, tapi hasil skor-nya cuma 5. Ya sudahlah, mungkin memang lebih baik saya memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya selama di Perth dan memang benar, di sana kemampuan bahasa saya lumayan terasah. Sehingga ketika pulang ke Indonesia di pertengahan tahun 2003 saya sudah lumayan lancar berbahasa Inggris dengan baik. Kembali kemudian saya mendapatkan beasiswa dari Friedrich Naumann Stiftung (FNS) sebuah lembaga Jerman untuk mengikuti seminar di Gummersbach Jerman, dan jadilah kemampuan berbahasa saya semakin baik.
Tetapi untuk mendapatkan beasiswa sekolah S2 ternyata tak semudah itu, karena saya ternyata memutuskan untuk berkomitmen dengan lembaga dimana saya bekerja untuk menjadi direktur dari tahun 2004 – 2008. Masa yang panjang selama 5 tahun itu saya manfaatkan juga untuk coba-coba melamar beasiswa, walaupun setengah hati karena saya merasa tidak bisa meninggalkan tanggung jawab saya di Indonesia meskipun ada banyak tawaran beasiswa ke Inggris, Australia, Belanda dan Amerika. Skor IELTS saya pun sudah lumayan, yakni 6 (setelah beberapa kali ikut ujian yang biayanya juga lumayan mahal yaitu sekitar USD 100 – 150), sudah cukup untuk berangkat sekolah ke luar negeri. Tetapi sekali lagi karena pekerjaan yang luar biasa banyak di kantor plus menjadi konsultan di banyak daerah (alhamdulillah saya sudah hampir ke semua daerah di Indonesia kecuali Papua dan Kep. Riau) membuat saya mengenyampingkan keinginan sekolah lagi. Terakhir tahun 2008 saya sudah mendapatkan beasiswa di Inggris (ini berkat info dari teman baik saya Mas Yudhi Ariadi yang membantu saya membuat CV yang menarik ! – kami berkenalan lewat milis beasiswa) dan Jepang (di Tsukuba University, masih dalam proses), tetapi sekali lagi dengan alasan pekerjaan saya belum bisa berangkat. Apalagi saya juga menjadi konsutan untuk banyak lembaga internasional seperti International Finance Corporation – IFC (lembaga di bawah The World Bank), The Asia Foundation, GTZ, Swisscontact, dll. Banyak teman yang menyarankan saya mengambil S2 di Indonesia saja, tetapi saya ngga mau. Alasannya adalah pasti saya tidak akan selesai tepat waktu, alias molor kuliah seperti yang banyak dialami teman-teman saya lainnya, dimana rata-rata mereka menyelesaikan S2 di Indonesia selama 4 – 5 tahun karena kesibukan pekerjaan lain yang sudah di depan mata. Banyak teman saya juga yang tidak selesai kuliahnya, sayang sekali bukan ? Padahal kalau kuliah di Indonesia biasanya jarang ada beasiswa, jadi kenapa harus susah-susah bayar sendiri dan belum tentu selesai pula ? Maka saya pun tetap menyimpan keinginan belajar ke LN untuk menempuh S2 dan harus mendapatkan beasiswa sehingga saya bisa dipaksa untuk selesai tepat waktu !
Pertengahan 2008 saya berkesempatan menunaikan ibadah umroh, dan disanalah saya berdoa agar saya mendapatkan beasiswa tahun depan (2009) dan memang sepulang dari Harramain saya sampaikan keinginan saya untuk berhenti jadi direktur tahun 2009 ! Saya bilang sudah saatnya mundur dan memberi kesempatan pada yang lain karena saya mau sekolah ke LN, hmmm padahal waktu itu saya belum tahu kemana dan dapat beasiswa apa ngga. Tetapi memang itulah mungkin takdir yang harus saya jalani, di akhir bulan Oktober 2008 saya mendapatkan informasi beasiswa dari DAAD (Deutsche Akademische Austausch Dients – Lembaga Pertukaran Pelajar dari Pemerintah Jerman) di Program Public Policy and Good Governance. Akhirnya dengan persiapan yang cukup mepet selama seminggu saya bisa menyelesaikan semua persyaratan dan saya kirim aplikasi pendaftaran plus dokumen pendukungnya ke kantor DAAD Jakarta. Tidak ada proses wawancara apapun karena titik berat penilaian hanya pada dokumen dan referensi serta publikasi – kebetulan saya memang salah satu anggota tim yang merumuskan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau lebih dikenal dengan one-stop service termasuk menuliskan buku panduannya yang disebarkan ke seluruh kota/kabupaten di Indonesia dan memang itulah alasan saya harus ke banyak pelosok daerah untuk melakukan workshop perbaikan pelayanan publik ini. DAAD hanya bilang saya hanya harus menunggu, jika sampai awal April 2009 tidak ada email dari DAAD berarti saya tidak diterima.
Hari-hari terus berjalan, saya pun sudah melamar beasiswa short course ke Jerman juga (dengan proses seleksi yang cukup ketat), disamping berdoa agar saya lolos kali ini. Apalagi ada teman baik saya di SMA yang juga mendapatkan beasiswa dari DAAD untuk program doktor di Potsdam University (dia memang dosen, di Universitas Mataram) juga satu teman SMA lain yang sudah pindah tugas ke Paris (dia bekerja di TOTAL), dan kami memang berencana reuni bertiga di Eropa ! Kesibukan saya pun tetap menumpuk, keliling Indonesia antara Bangka, Kaltim, Aceh, Flores, Halmahera, Maluku, Kupang dan sekitarnya tiada henti. Namun akhirnya email dari DAAD itu datang juga, alhamdulillah…
Akhir Januari 2009 saya mendapatkan email itu (dari DAAD sekaligus dari FNS lembaga yang akan mensponsori short course di Jerman), segera saya menelpon bapak ibu di rumah dan beliau berdua menangis mengucapkan selamat karena saya mendapatkan impian saya selama ini, demikian juga dengan adik-adik dan teman-teman kantor saya. Tetapi memang tidak mudah menyiapkan semuanya, karena saya harus sudah berada di Jerman pada tanggal 1 April 2009 untuk memulai kursus bahasa Jerman di Freiburg, bayangkan saya cuma punya waktu 2 bulan untuk menyiapkan semuanya !
Segera saya menyampaikan berita ini ke semua kolega, pemerintah daerah yang demikian banyak, menyusun jadwal kegiatan, persiapan pindahan kos, mengurus visa, periksa kesehatan di laboratorium, dsb. Rasanya begitu hectic karena saya pun harus menyiapkan pergantian direktur dan mengatur semua proyek yang harus saya tinggalkan, meski capek tapi senang ! Saya juga harus memutuskan apakah saya juga akan mengambil kesempatan short course itu, yang waktunya hanya selisih dua minggu dengan keberangkatan saya untuk menempuh master, tetapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya mundur dari program short course itu. Saya pernah juga bertanya ke DAAD apakah bisa kursus bahasa Jerman di Indonesia saja ? Pikir saya, biar saya bisa punya waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab saya di Indonesia dulu, tetapi mereka menolak dan saya tetap harus berangkat ke Jerman pada awal April !
Itulah tantangan yang saya hadapi justru setelah saya dapat beasiswa. Tetapi toh semuanya bisa saya selesaikan dan bisa berangkat ke Jerman di akhir Maret 2009, tidak sempat cuti segala, bahkan sehari sebelum berangkat pun masih masuk kantor ! Boro-boro mau syukuran, saya ngga punya waktu dan hanya bisa minta doa restu dari ayah ibu dan keluarga saya. Alhasil saya dan beberapa teman yang bersamaan berangkat ke Jerman di awal April itu tidak mengikuti Pemilu 2009, tetapi saya dapat mengikuti pemilihian presiden di bulan Juli 2009 setelah terdaftar di KJRI Frankfurt.
Belajar bahasa Jerman juga merupakan tantang tersendiri karena saya nantinya akan kuliah di Jurusan Managemen for Non-Profit Organization di FH (Fachhochschule – University of Applied Sciences) Osnabrueck yang kuliahnya semuanya memakai bahasa Jerman ! Waduuhhh, benar-benar siksaan tersendiri padahal kami sama sekali ngga tahu bahasa Jerman (gramatiknya memang sulit dibanding bahasa Indonesia yang sangat sederhana), belajar di Goethe Institut Freiburg pun dimulai seperti anak TK belajar bahasa hahaha….(masih ingat seorang teman yang pernah sekolah di Korsel bilang, itu belajar bahasa Jerman belum apa-apa dibandingkan belajar bahasa lain yang hurufnya bukan Latin, nah lo !) tetapi setelah 6 bulan belajar ternyata kemampuan bahasa kami sudah lumayan walaupun masih belum layak belajar di universitas, hanya karena pihak universitas sangat baik, kami masih diberi toleransi untuk menjawab ujian semester pertama dengan bahasa Inggris meski pertanyaan pakai bahasa Jerman, termasuk juga menjelaskan presentasi yang kadang masih campuran antara bahasa Jerman dan bahasa Inggris hehehe…
Tantangan yang terberat bagi saya adalah kendala bahasa dan cuaca, apalagi pas musim dingin, hmm awalnya exciting lihat salju tapi lama-lama kedinginan ! Kalau soal kangen sih ngga terlalu karena bisa setiap saat telepon, kadang pakai skype dan kebetulan sejak usia 15 tahun saya sudah kost di luar kota (saya asli Ngawi dan SMA di Solo) jadi kalau soal kangen sudah teratasi dari dulu
Saya bersyukur karena berbagai kendala yang saya hadapi bisa diatasi dengan baik termasuk soal studi. Banyak orang Indonesia baik di Freiburg maupun kota-kota lain yang sangat membantu jika kita kesulitan sehingga sudah seperti saudara sendiri, teman-teman dari Indonesia sangat kompak dan saling mendukung. Kami sering bepergian bersama, naik sepeda bersama, masak-masak bersama, dan bahkan saling meminjami uang jika diperlukkan hehehe…. Teman-teman dari negara lain pun sangat membantu, kami sama-sama sepenanggungan di negara orang sehingga akrab satu sama lain, salah satunya adalah sahabat dekat saya dari Mexico yang bernama Octavio. Dia memang mahasiswa doktor di bidang politik, tetapi karena sama-sama kursus bahasa Jerman di Goethe Insitut Freiburg dan kami sering berdiskusi tentang apapun, meski kuliah kami beda kota (dia awalnya kuliah di Konstanz kemudian pindah ke Berlin) dan beda tantangan, hingga sekarang kami tetap dekat, bahkan meskipun sekarang saya sudah pulang ke Indonesia. Kami saling memberikan support, saling bertukar masakan Indonesia dan Mexico, saling berbagi tempat tinggal jika diperlukan, dia juga yang membantu saya mengatasi masalah ketika paspor saya hilang (dihilangkan Deustche Post ketika pengiriman ke KJRI Frankfurt – paspor baru pun saya dapatkan setelah proses birokrasi yang cukup panjang serta mendapatkan campur tangan salah satu kolega yang bekerja di Kemeneg PAN!), dan berbagai dukungan lain khususnya ketika saya sempat stress dengan kuliah bahasa Jerman yang membuat saya sakit berhari-hari. Kedekatan kami ini akan saya tuliskan dalam sebuah buku, sebagai kenang-kenagan kisah kami di Jerman, disamping foto-foto kami yang memakai batik dan saya juga berkebaya di tengah-tengah kota Freiburg (difoto oleh teman baik asal Indonesia yang menjadi fotografer di Freiburg), yang pastinya akan menjadi dokumentasi yang berharga jika kelak dia benar-benar menjadi Presiden Mexico seperti cita-citanya
Selama studi di Jerman, saya juga menjadi DJ Radio PPI Dunia (dengan program : Keliling Indonesia) yang siaran dari kamar saya di depan laptop, mendapatkan beasiswa dari UNDP tahun 2010 untuk summer school di Central European University (CEU) di Budapest Hongaria dengan tema Sustainable Human Development (yang sebenarnya saya juga pernah melamar disana tahun 2008 tetapi kurang beruntung di tahap terakhir), mendapatkan beasiswa dari kampus untuk summer school lagi di Tallin University (Estonia) dan SSE Riga (Latvia) di bidang Creative Media and New Management, serta dari DAAD lagi untuk mengikuti The 30th Right Livelihood Award Conference di Bonn (sebuah acara yang menghadirkan para pemenang Nobel Alternative), dimana tulisan saya tentang hal itu dimuat di website kampus (http://www.wiso.hs-osnabrueck.de/besuch-alternative-nobelpreistraeger-rahmawati.html), dan juga berkesempatan untuk mengunjungi 15 negara di Eropa untuk liburan (yang termasuk visa Schengen di daratan Eropa plus ke Turki juga !), menjadi jago masak makanan Indonesia (seperti rendang, soto, rawon, lumpia, tumis tahu tempe dll dimana saya juga sering bikin jamuan makanan Indonesia buat teman-teman!) plus menulis buku tentang pengalaman hidup di Jerman dengan salah satu sahabat saya yang lama tinggal di Jerman (karena menikah dengan orang Jerman), menjadi salah satu penulis buku online Aku Bangga Aku Anak Indonesia (2010, dalam rangka 65 Tahun Kemerdekaan RI) yang diprakarsai oleh adik kelas sewaktu di Unair – Ayu Kartika Dewi yang sekarang adalah salah satu alumni Program Indonesia Mengajar (yang kemarin sempat masuk Kick Andy), juga rame-rame nulis di buku 30 Hari Dalam CintaNya (pengalaman mengalami Ramadhan di luar negeri), mengalami Ramadhan dan Lebaran yang jauh dari keluarga dengan berbuka puasa bareng bersama teman-teman muslim dari berbagai negara yang berbeda, plus menjadi penari di even-even budaya, dan berpartisipasi dalam acara 17 Agustus di Seepark Freiburg hehe….Pokoknya belajar di Jerman membuat hidup saya jadi komplit (dengan mengalami hidup dalam budaya yang berbeda, belajar banyak hal baru termasuk menggunakan fasilitas transportasi publik, dispilin waktu, bertoleransi pada mereka yang tidak puasa saat Ramadhan dan mendapatkan udara bersih yang nyaman !), terlebih lagi saya sudah bisa cerita tentang banyak hal di Indonesia karena memang sebelum ke Jerman saya sudah keliling Indonesia terlebih dahulu..sehingga teman-teman menjuluki saya the real ambassador of Indonesia !
Kini setelah saya kembali ke Indonesia (alhamdulillah saya lulus tepat waktu, 2 tahun plus belajar bahasa, total beasiswa saya 2,5 tahun), saya mengembangkan ekonomi kreatif dan perbaikan kebijakan publik sesuai dengan tema thesis saya yang membandingkan kebijakan industri kreatif antara kota Solo dengan Pforzheim (Jerman). Saya kembali bekerja menjadi konsultan independen untuk beberapa lembaga dan di beberapa daerah, mengurus lembaga saya sebagai komisaris dan juga menulis buku plus artikel di beberapa majalah di Indonesia tentang kota-kota di Eropa. Semua itu adalah hikmah yang luar biasa. Semoga pengalaman saya bisa memotivasi rekan-rekan yang lain untuk mengikuti jejak saya mendapatkan beasiswa.
Satu hal lagi, Indonesia sangat luar biasa…begitu kita ke luar negeri akan sangat terasa nasionalisme kita. Akan lebih baik kiranya setelah lulus studi kita pulang membangun negeri tercinta, meskipun mungkin hidup di rantau lebih enak dan menjanjikan. Tetapi, kalaupun memang memilih hidup di luar negeri, tetaplah berbuat sesuatu demi Indonesia, karena kita akan tahu bahwa mereka yang hidup di pelosok itu akan jauh lebih sejahtera jika kita para lulusan dari luar negeri ini juga menyebarkan pengetahuannya untuk kemajuan Indonesia.
Salam sukses selalu !
Surabaya, 14 Desember 2011











remarkably you maam
Waaah, luar biasa pengalamannya Mbak Early. Pasti akan menginspirasi anak2 muda Indonesia untuk berjuang mencari ilmu dibelahan dunia lain, dan kemudian kembali ke tanah air untuk mengabdikan diri lebih baik.
Aku juga pengen Mbak…hehehe….
Mudah2an suatu saat bisa kesampaian
Sukses terus ya Mbak, dan teruslah menuliskan pengalaman hidup Mbak Early untuk dibagikan ke kita-kita ini…
Semoga bermanfaat…
Wah… seru pengalamannya.. thx sudah berbagi…
sukses selalu….
-Iar Chaniago-
sama-sama
Wah aku ketinggalan jauh nih, mbak. Semoga bisa menjadi tambahan energi buatku untuk berbuat lebih baik lagi. Tq Inspirasinya
Hello!
bantuin buat proposaal beasiswa yg menarik donk mbak.. please…
♍bªk er..seperti yg pernah ªķΰ bilang ….dirimu salah satu wanita inspirasiku…..pengen bgt punya pengalaman seperti dirimu……tp dng kondisiku skrg, masih bisa gk yaaaa????hehehehe……we proud of you….
@Indra : coba bikin dulu deeehhh ntar aku koreksi
@Windha : sama-sama Windha, masih bisa kok kalo kamu mau…tetep semangat !!
hrs cinta produk dalam negri.
http://hijab1.wordpress.com/2011/12/15/kebaikan-seberat-dzarroh/
Terima kasih dah sharing pengalaman Mbak Early yang luar biasa ini, bisa dijadikan teladan generasi muda saat ini untuk terus belajar dan mengaplikasikan ilmu yang didapat untuk kemajuan bangsa..
Bermimpi to get S2 Scholarship ke Japan,, sedang dan masih diperjuangkan, semoga tergapai,, Aaamiinn,,
Salam hangat
viel erfolh fur dich
semoga aku bisa mengikuti jejak mbak early. amin.
minta doanya ya mbak
Thank you for sharing mbak. Sangat menginspirasi !
Saya juga pemburu beasiswa. Cuma belum saatnya dapet aja
Doakan ya …
Wah kere mbak….inspiratif mbak
(
pengen banget dapet beasiswa keluar negeri meskipun kemaren baru aja gagal di tes akhir wawancara untuk beasiswa ke Amerika
Mbak kasih tips nya donk..pas proses interview nya
owww…..tapi jangan putus ada Ida, pasti ada banyak kesempatan lagi yang dapat kamu raih !! soal wawancara aku ngga tahu persis tips-nya karena aku dulu pas proses beasiswa ngga pake wawancara sama sekali, jd cuma seleksi dokumen, dan hrs benar2 bagus
hehehe.. pengalaman yang exiciting mbakk…
erjalanan ke Ranah Minang ku kutip yaa…
hehe.. tulisan nya yang berjudul
untuk dimasukin ke salah satu koran baru di kota Padang…
thanksss..
wah menarik sekali mbak blog nya.. saya juga amat sangat tertarik dengan program ppgg hochschule osnabrück, oh iya mbak punya email?? mau sharing sesuatu, itu pun kalo mbak ga keberatan yah,,, kemungkinan saya pindah ke bremen bln september ini.. danke im Voraus ya mbak,