Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2008

Early one morning in spring, to hear the bird wistle in the rain…
Gazing at sparkling polaris view, softly whispering I miss you…
Coming with the light heart to pick up some flower…
I found it difficult to leave and slept overnight…
Here in the middle of spring field…

Saya menyukai syair lagu lama ini, seakan mengingatkan bahwa hidup memang hidup akan selalu seperti musim semi, yang selalu baru dan segar. Seperti mawar kuning yang indah, yang ceria meski kadang angin berhembus kencang dan dalam musim tertentu akan kering dan layu. Tetapi mawar kuning ini selalu bersemi lagi, dan lagi di tahun-tahun yang telah berlalu dan akan berjalan.

Memang tidak akan mungkin selamanya hidup manusia akan selalu indah, seindah warna warna bunga mawar kuning ini, tetapi bukankah semangat untuk selalu bangkit lagi seperti warna mawar di musim semi ini membuat kita cukup untuk kembali tersenyum setelah kesedihan berlalu?

Maka tersenyumlah, apapun yang terjadi..nikmati hidupmu, berdamai dengan dirimu, dan berbuatlah sesuatu yang baik bagi dirimu dan orang-orang yang ada di sekelilingmu, baik yang kamu cintai ataupun bahkan yang tidak kamu kenal sekalipun. Berbuatlah sesuatu sesuai kemampuanmu, dengan keikhlasan yang secerah bunga mawar itu, hmmmmmm menyenangkan bukan?

Dan, terima kasih untuk para sahabatku yang setia menemaniku….percayalah Tuhan akan selalu menyayangi kita.

Iklan

Read Full Post »

Hm…apa kata Ibu Kartini ya dalam surat-suratnya ke para sahabatnya jika beliau berada dalam masa yang penuh tantangan ini? Apalagi menghadapi era global warming yang makin merisaukan. Coba kita dengar dan baca berbagai berita yang ada di sekitar kita : krisis pangan, harga bahan pokok makin mahal, harga BBM mungkin sebentar lagi akan naik, dsb. Saya bayangkan jika kita tidak mampu berpikir positif dan bersikap kritis, kita akan terlibas dalam ‘permainan’ kondisi yang makin tak menentu.

Tapi..entah mengapa saya tetap merasa, pasti ada jalan keluar untuk mengatasi semua ini. Saya masih bisa melihat berbagai peluang dan bermacam tindakan yang bisa kita lakukan untuk keluar dari situasi yang rumit ini. Untuk diri kita pribadi misalnya, kita bisa mulai mengurangi penggunaan kendaraan bermotor (jalan kaki atau naik sepeda akan lebih sehat kan?), tidak buang-buang energi alias hemat energi (hemat pemakaian listrik dan air), mengurangi penggunaan plastik (kalau belanja bawa keranjang atau tas sendiri), mulai memilah sampah (sampah kering dan sampah organik kalau sudah dipilah akan mudah diolah kembali..) atau memulai bisnis yang berkaitan dengan pengolahan sampah itu sendiri, dan untuk hal ini banyak contoh yang bisa dilakukan, mulai bisnis kerajinan kain perca, pembuatan pupuk organik, kerajinan dari enceng gondok, dsb. Jadi, silakan saja mana yang bisa kita pilih…?:)

Ibu Kartini yang kritis itu pasti juga akan merisaukan kebijakan pemerintah yang kurang terintegrasi antar departemen, antar perusahaan atau di daerah-daerah yang pemerintahnya tidak terlalu peduli dengan isu lingkungan ini. Soalnya daerah-daerah sibuk dengan urusan pemilihan kepala daerah melulu sih…. So ladies, jika kita paham sebenarnya urusan apapun itu jika kita kembalikan pada niat baik untuk menjaga lingkungan masih tetap bisa dilakukan kok. Contohnya, jika merasa cukup mampu bersikap kritis, coba deh kalau pas ada paparan dari para calon pemimpin kita itu kita tanya apa programnya ke depan? Cukup mampu mengangkat kesejahteraan rakyat nggak? Cukup concern pada kondisi lingkungan nggaK? Cukup terbuka dengan ide-ide baru untuk kepentingan masyarakat banyak nggak?

Hm…saya hanya menyumbang ide untuk para sahabat perempuan, Kartini-Kartini penerus bangsa yang pasti punya potensi dalam dirinya, apapun yang kita miliki. Dan isu pemanasan global ini adalah isu yang sensitif dan menyangkut hajat hidup kita semuanya, kalau bukan kita yang peduli pada kondisi bumi yang kita cintai siapa lagi?

Salam cinta lingkungan Kartini Indonesia…..

Read Full Post »