Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

Dunia ini panggung sandiwara…

Hmmmm sepenggal lagu yang cukup populer itulah yang kadang membuat saya harus pandai-pandai memerankan diri saya dalam menjalani aktivitas. Bagaimana tidak? Di sela-sela kesibukan menjalankan berbagai tugas ‘negara’ maksudnya tugas yang menurut saya harus dilakukan demi perbaikan pola birokrasi di pemerintahan kita, saya harus tetap teguh menjalankan niat saya melaksanakan ibadah umroh, yang alhamdulillah sudah merupakan panggilan dari Sang Ilahi. Karena, ternyata dalam salah satu hadits disebutkan, jika kita sudah berniat, mampu dan masih cukup sehat, hendaklah kita pergi ke Haramain, melaksanakan ibadah umroh dan atau haji untuk menyempurnakan rukun Islam, sesuai kepercayaan yang saya anut.

Tetapi ternyata, niat dan segala daya yang telah dikerahkan untuk berangkat umroh ternyata harus diiringi kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani segala rintangan yang muncul, mulai dari sulitnya mencari vaksin meningitis (yang mulai tahun ini menjadi persyaratan bagi calon jama’ah umroh, nggak cuma callon jama’ah haji saja..), jadwal keberangkatan yang terunda beberapa kali karena adanya penyesuaian ongkos keberangkatan disebabkan naiknya harga BBM, juga hal-hal lain yang membuat saya harus menyadari betapa memang Allah tidak akan memberikan cobaan pada umatNya jika umatNya tersebut tidak mampu. Dan alhamdulillah, setelah mengatur terbagai jadwal kegiatan sana sini yang telah menjadi komitmen saya juga, akhirnya saya dan rombongan dapat melaksanakan ibadah umroh tanggal 29 Juni – 6 Juli 2008.

Labaik allahuma labaik, labaikkala syarikala labaik…

Subahanallah, sungguh pengalaman pertama menginjakkan kaki di Haramain (Madinah dan Mekkah) membuat saya terharu, menangis dan segala rasa campur aduk menjadi satu. Betapa nikmat menjalankan sholat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram setiap lima waktu dan sholat sunnah lainnya. Menjalankan umroh (tiga kali) dengan niat ihram masing-masing di Masjid Bir Ali, Masjid Tan’eem, dan Masjid Hudaibiyah, tawaf di waktu malam dan di tengah teriknya matahari (dan alhamdulillah, memang benar tidak terasa panas sedikitpun), sa’i diantara Bukit Safa dan Bukit Marwa, serta mencukur rambut (tahalul)..semuanya terasa indah karena ditemani oleh berjuta Muslim dengan niat yang sama, ikhlas menjalankan ibadah umroh karena Allah semata.

Beribadah umroh sembari berziarah di Makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, di Masjid Quba’ (masjid pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW), di Jabal Uhud (untuk mengenang Perang Uhud dan ziarah di makam Hamzah, paman Nabi), mensyukuri nikmat Allah ketika melewati bukit bermagnet, berkunjung ke percetakan Al-Qur’an, mendaki separo bukit Jabal Tsur (tempat Rasul Muhammad mendapatkan wahyu untuk pertama kali), melewati Padang Arafah (tempat wukuf pada tanggal 9 Dzulhijah), tempat melempar jumrah di Mina (jika kita menjalankan ibadah haji, dilakukan pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah), dan juga mengunjungi peternakan onta sekaligus menyaksikan peternak memerah susu onta, subhanallah..di tengah panas terik yang begitu menyengat, ternyata Allah masih memberikan karunia kehidupan yang tiada terhingga. Sungguh kasih sayangNya begitu mulia kepada umatNya.

Dan tentu saja ketika mencoba meraih tempat yang mustajab untuk berdo’a (di Raudhah Masjid Nabawi, di Multazam – antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad, di bawah Talang Emas di sekitar Hijir Ismail), juga menikmati saat berdo’a di Jabal Rahmah, meraih kesempatan untuk mencium Hajar Aswad, sungguh merupakan perjuangan antara kekuatan niat, kekuatan fisik dan pertolongan Allah. Tanpa itu semua, niscaya kita tidak akan mampu melakukannya. Ketika akhirnya menyaksikan prosesi tawaf dari lantai dua Masjidil Haram, hati ini begitu takjub..sekian ratus ribu orang berputar mengitari Ka’bah hingga tujuh kali sambil berdo’a membuat kita tidak berhenti menangis….kehausan kita pun masih tertolong dengan tersedianya air zamzam yang tiada habisnya, menyejukkan tenggorokan dan tubuh ini kita mengambil air untuk berwudhlu. Dan ketika kita mengakhiri ibadah umroh dengan Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan), sungguh benar bahwa kita sebaiknya tidak lagi menoleh/menengok Ka’bah agar kerinduan untuk kembali ke Haramain selalu ada. Kerinduan itu memang selalu ada, sembari berdoa dan berikhtiar agar saya bisa kembali bersama dengan keluarga, sahabat dan orang-orang yang saya cintai, amiin…

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »