Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2012

Jakarta, sebuah kota yang sangat padat penduduk, tentunya membutuhkan sistem penyediaan perumahan yang mudah dan murah untuk diakses oleh masyarakat kebanyakan, meski tentu saja tetap masih banyak kalangan menengah atas yang mampu untuk membeli rumah dengan lahan luas di tengah kota ! Kondisi semacam ini makin miris kita saksikan kala naik kereta, cobalah Anda lihat ke luar jendela kereta (dan hal ini rasanya akan semakin mudah untuk disaksikan jika kita naik kereta jurusan Bandung misalnya, yang agak santai dan tidak berdesakan), banyak hal yang kadang luput dari perhatian pemerintah, entahlah…

Pemandangan umum yang akan kita jumpai ketika duduk di sebelah jendela kaca besar di kereta adalah deretan rumah yang sebagian besar kumuh, dengan tingkat kebersihan yang memprihatinkan dan anak-anak yang bermain dengan riangnya di pinggir rel tanpa rasa takut, dan juga berbagai kondisi sosial yang memprihatinkan. Rasanya memang tidak adil jika menyalahkan orang-orang yang bernasib seperti itu dengan hanya mengatakan,’Siapa suruh datang ke Jakarta?’ Dan tentunya Pemerintah DKI pun pernah mengupayakan agar kondisi semacam itu bisa menjadi lebih baik, hanya pertanyaannya : Sejauh mana, sekeras apa upaya yang telah mereka lakukan ? Apakah ada sistem evaluasi proyek pembenahan dan pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan selama ini ?

Hmmm agaknya memang tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, dan tentu saja apa yang terjadi saat ini harus terus menerus menjadi perhatian besar pemerintah, siapa pun yang memimpin, dari partai manapun. Tetapi ada pemandangan berbeda di sekitar pinggir rel di Jakarta dan sekitarnya (Bekasi dan Purwakarta) selain kekumuhan di area semacam itu yang sudah jamak kita jumpai di Indonesia (memang tidak hanya di Surabaya, tapi juga di banyak kota besar lain seperti Bandung, Suabaya, Jogja), apakah itu ? Ya, pemandangan banyaknya rumah mangkrak di pinggir rel kereta api ! Dugaan saya, rumah-rumah yang sengaja dibangun itu diperuntukkan bagi kalangan pegawai kereta api, tetapi entah kenapa rumah-rumah itu tidak ditempati dan rusak begitu saja, padahal kalau saja rumah-rumah itu dapat difungsikan sebagai tempat tinggal para tuna wisma yang sering kali hidup menggelandang di stasiun atau sekitar rel kereta api, alangkah bermanfaatnya !

Tapi beginilah paradoks yang sering terjadi di Indonesia, banyak proyek yang sia-sia saja untuk berbagai kalangan dimana kadang yang bersangkutan tidak mau menerima manfaat atau dengan berjuta alasan juga dapat dikatakan kalau pembuatan proyek itu (seperti pembangunan berderet rumah yang lumayan layak huni itu) salah sasaran. Sementara mereka yang benar-benar membutuhkan malah tidak diperhatikan sama sekali, ah entahlah. Jakarta dan sekitarnya beserta berjuta problemanya selayaknya tidak semakin ketinggalan dengan ibukota negara-negara lain, dimana perhatian pada kepentingan masyarakat secara umum harus diperhatikan dan diutamakan. Para pemilik modal tidak selayaknya selalu dimanja dengan berbagai fasilitas yang pada akhirnya mengebiri kesejahteraan masyarakat kecil yang semakin hari semakin terpuruk dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat (berdempetnya rumah-rumah di gang-gang sempit, dengan saluran air yang selalu kotor dengan sampah dan akan menyebabkan banjir jika hujan tiba!).

Walau kita tahu bahwa pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan, tetapi memang tetap terbersit pertanyaan, yang selalu tergiang : ada apa dengan Jakarta ?

Harmoni – 22052012

Iklan

Read Full Post »

Just to be you Sayang! You’ll have to be very patient. Link the teachings to a game. Make it funny, but at the same time make them respect you and tell them the rules. Interact a lot with them as if they were your children. All the best my dear! I’m sure you’ll make a wonderful job! (Sent at 06:06 on 25/04/2012)

Handphone-ku yang hampir selalu aku silent itu menyala sejenak, tanda ada pesan masuk! Aku yang sedang tergesa menuju taxi yang kupesan untuk mengantarku pagi itu cuma sempat meilirik sejenak. Sopir taxi mungkin agak kesal menungguku karena aku emang pesan setengah jam sebelumnya dan celakanya pagar kost-ku belum terbuka, mas penjaga-nya masih tidur ! Terpaksalah aku harus menelpon si empunya kost yang tinggal di gang lain sambil berlari naik ke lantai tiga untuk membangunkan mas penjaga ituu….untunglah dia segera bangun dan begitu pagar dibuka sambil mengucapkan terima kasih, aku kabur melewati gang yang masih gelap menuju taxi yang menunggu di luar gang, ah leganyaaa !!

Agak terengah aku masuk ke dalam taxi sambil minta maaf,’Tolong antar saya ke Tanjung Priok ya Pak!’ sembari menyebutkan petunjuk kemana taxi harus menuju agar ngga salah jalan, maklumlah aku janjian dengan kawan-kawan di sana. Aku tanya kira-kira berapa lama akan menuju kesana, pak sopir menjawab kalau kira-kira kami akan butuh waktu sekitar 30 menit. OK, aku masih punya waktu untuk menyelesaikan slide presentasiku yang berisi foto-fotoku di berbagai daerah di Indonesia, tapi ternyata sulit juga memilih diantara ratusan foto yang aku punya sejak bertahun-tahun lalu hehe…Sambil membuka laptopku aku baca pesan yang masuk ke handphone-ku tadi, ah dia memang perhatian…ketika senyum-senyum membaca sms itu, tiba-tiba pak sopir bertanya,’Kenapa Mbak, kok senyum-senyum sendiri?’ aku jawab,’Tidak apa-apa Pak!’ 🙂 padahal sungguh aku senang sekali, dia yang jauh disana, yang beda waktu lebih lambat lima jam dengan Waktu Indonesia Barat sempat juga membalas sms-ku semalam. Ya, aku butuh dukungannya karena dia pernah jadi guru di usianya yang ke lima belas 20 tahun lalu, mengajar orang-orang tua di negaranya yang belum pernah mengenyam pendidikan dasar (semacam Kejar Paket A atau B di Indonesia), sungguh luar biasa, di saat teman-temannya bermain dia harus bekerja seusai jam sekolah kala itu. Thanks my dear…:)

Membayangkan kondisi sekolah yang sederhana, dimana foto-fotonya telah dikirim oleh Koordinator Tim, Micahel, yang dua hari sebelumnya sudah mendatangi sekolah tempat kami mengajar, aku meneruskan memilih foto-foto yang akan kupasang di power point sambil sesekali menengok jalanan yang masih relatif sepi, aku berusaha menyusun strategi apa saja nanti yang akan kulakukan ketika di kelas. Ya, aku telah di-briefing pada tanggal 14 April di Perum Gas Negara bersama dengan sekitar 199 volunteer lain yang akan mengajar di Kelas Inpsirasi tahap pertama oleh Indonesia Mengajar. Waktu itu kami diajari bagaimana membuat salam yang menyenangkan untuk anak-anak, bagaimana agar kami bisa mengalihkan otak anak menuju gelombang alfa agar siap menerima pelajaran, bagaimana kami harus membuat peraturan buat anak-anak, dsb. Sungguh, ternyata tidak jauh beda dengan tips yang diberikan oleh dia yang mungkin sudah tidur di Berlin sana 🙂 Teringat juga apa yang disampaikan Pak Anies Baswedan pada kami semuanya di kala briefing,’Sekarang tibalah saatnya bagi kita untuk membayar semua kebaikan yang pernah kita terima saat bersekolah dulu. Saatnya kita memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk generasi penerus Indonesia agar mereka tahu bahwa ada banyak hal di luar dunia mereka saat ini yang kelak mungkin akan mereka raih di sama depan’. Dan memang benar, kami yang tergabung dalam Kelas Inspirasi ini akan berusaha membayar semua hal yang pernah kami dapatkan di masa lalu, dengan menjadi guru untuk anak-anak SD di DKI Jakarta.

Bersambung

McDonalds Sarinah – 15052012

Read Full Post »

Jerman adalah sebuah negara dimana segala sesuatunya hampir dipastikan telah diatur sedemikian rupa agar berbagai urusan dapat dilakukan dengan baik serta melalui prosedur yang jelas. Tak heran jika sebagian masyarakat yang asalnya bukan berasal dari negara-negara yang punya keteraturan atau tidak punya disiplin yang tinggi seperti dari negara-negara Asia (kecuali Korea atau jepang), Afrika atau Amerika Latin kadang agak kesulitan untuk menyesuaikan dengan kondisi di Jerman yang sangat teratur, dimana bahkan untuk beberapa urusan terlihat seperti sangat rumit meski kepentingannya adalah agar segala sesuatunya berjalan dengan tertib dan aman.

Sebagai muslim dimana kita hidup di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim, ada beberapa tantangan yang harus kita hadapi. Jika biasanya dengan mudah akan menemukan banyak masjid di tiap sudut kota, maka di Jerman mungkin cuma satu dua masjid di tiap kota (entah itu kota besar atau kecil), atau ketika puasa di saat kita harus menahan diri dari makan minum dan membatasi diri melihat/mendengar hal-hal yang membangkitkan nafsu bisa jadi di sekitar kita justru banyak godaan semacam itu (apalagi ketika musim panas dimana matahari bisa bersinar terang hingga pukul sembilan atau sepuluh malam!), hingga misalnya saat kita harus mengurus jenazah muslim untuk akhirnya memulangkannya ke Indonesia.

Ya, memang tidak mudah menerapkan aturan agama di negeri yang bukan mayoritas muslim. Tetapi di manapun kita berada sedapat mungkin kita harus menjaga agar apa yang kita lakukan dalam menghadapi berbagai peristiwa, tidak keluar dari apa yang digariskan oleh Qur’an dan Sunnah Rasul Muhammad SAW. Salah satu hal penting yang perlu kita perhatikan adalah perlunya kita menjalin silaturrahim dengan sesama muslim di Jerman, baik itu yang berasal dari Indonesia maupun dari negara lain. Karena dalam kehidupan sehari-hari, mempunyai komunitas yang seagama adalah sangat penting, mengingat ada banyak hal yang dapat dilakukan bersama-sama untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, selain juga dapat dijadikan sandaran jika kita mengalami musibah yang membutuhkan penanganan oleh sesama muslim, kematian salah satu contohnya, dimana hukumnya adalah fardhu kifayah.

Peristiwa yang membuat saya menuliskan catatan ini adalah karena meninggalnya salah seorang teman baik di Jerman, secara mendadak, yang membuat kami, keluarga (suami dan mertuanya yang orang Jerman, juga keluarga di Indonesia) serta teman-temannya shock karena jarak diagnosis sakitnya dengan waktu meninggalnya hanya 3 minggu saja, innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Seminggu lalu, tepatnya Senin sore 7 Mei 2012, seorang teman baik di Jerman mengabari hal ini, saya langsung berinisiatif untuk mengabari teman-teman di Karlsruhe, kota besar terdekat dimana saya pernah tinggal, yang dekat dengan Geggenau, tempat teman saya yang meninggal menetap selama di Jerman. Dalam kesedihan, saya berusaha mengontak teman-teman melalui Facebook dan juga mengontak salah satu teman baik yang bekerja di Belanda, dimana dulu saya pernah membantu mengurus jenazah suaminya (mereka berdua orang Indonesia) yang meninggal di Muenster Jerman, dekat dengan kota tempat saya kuliah di Osnabrueck. Saya berusaha membantu agar jenazah teman saya dapat diurus (diproses keluar dari rumah sakit, dimandikan, dikafani, disholatkan dan diterbangkan ke Indonesia) secepatnya, karena itulah tuntunan dari Rasul agar siapapun yang meninggal dapat dikebumikan segera. Teman baik saya yang suaminya meninggal di tahun 2010 itu pun bersedia membantu jika keluarga almarhumah teman saya mengontaknya, membantu memberikan masukan bagaimana agar bisa bernegosiasi dengan berbagai pihak (terutama adalah pihak Bestaetung, jasa pengurusan jenazah muslim, umumnya dari lembaga Turki) agar proses pengurusan jenazah dapat berjalan lancar. Tetapi apa daya, dengan berbagai macam kondisi yang dialami oleh keluarga almarhumah di Jerman, pengurusan jenazah baru dapat dilakukan mulai Hari Rabu, 9 Mei 2012 (dimandikan, dikafani dan disholatkan) dimana kemudian direncanakan jenazah diterbangkan ke Indonesia hari Jum’at (11 Mei) dan Hari Sabtu (12 Mei) diharapkan sampai di Solo Jawa Tengah dan dimakamkan di sana (tempat asal almarhumah teman saya). Sayangnya hal tersebut belum terjadi, karena konfirmasi terakhir saya dengan salah satu teman kami di Solo, jenazah almarhumah baru akan sampai di Indonesia hari Rabu, 16 Mei 2012.

Jujur saja, saya sangat sedih dan rasanya memang tidak dapat berbuat apa-apa dalam kondisi seperti ini dan saya juga tidak tahu apa yang menyebabkan hingga prosesnya begitu lama, mungkin juga karena pengetahuan tentang mengurus jenazah muslim memang belum banyak diketahui oleh masyarakat di Jerman. Saya teringat ketika membantu teman saya yang suaminya meninggal di Muenster tgl 25 Oktober 2010 lalu, kami dapat menjalankan proses pengurusan jenazah almarhum dengan cepat, hanya dalam waktu sehari. Waktu itu semuanya juga serba mendadak bagi saya, karena saya tidak tahu kalau almarhum memang sudah sakit parah, tetapi subhanallah teman saya sangat tabah dan sudah mempersiapkan semuanya. Dia sudah mengontak Bestaetung sebelumnya untuk bersiap-siap, sehingga ketika pagi hari dimana almarhum suaminya meninggal, dia langsung memastikan untuk menyewanya (dengan biaya sekitar 3,000 Euro) untuk proses mengeluarkan jenazah dari patologi RS, memandikan, mengkafani, membawa ke masjid untuk disholatkan dan mengirim jenazah ke Frankfurt dimana nantinya pihak KJRI akan menangani pengiriman jenazah ke Indonesia. Pagi itu, ketika saya dikabari bahwa suaminya sudah meninggal saya mengerahkan beberapa teman muslim untuk bergabung membantu, hingga akhirnya (hanya) terkumpul sebanyak 4 orang, saya dan 2 teman perempuan (kami dari Osnabrueck), dan satu teman laki-laki yang kuliah di Muenster (teman dari Aceh, yang pernah saya jumpai hanya sekali di Koeln sebulan sebelumnya, tidak tahu nomor telponnya, dan saya harus hunting untuk mengontaknya lewat beberapa teman Aceh yang saya kenal di Freiburg dan Offenburg pada jam 5 pagi!), plus seorang kerabat jauh (laki-laki) dari Indonesia yang sejak beberapa bulan sebelumnya memang sudah merawat almarhum suami teman saya yang memang sudah lama sakit, sementara sehari-hari teman saya bekerja (jarak antara Muenster dengan salah satu kota di Belanda tempat teman saya bekerja memang dekat, hanya 35 menit naik kereta). Ya, kami hanya berenam menjalankan semua itu, plus seorang petugas Bestaetung (yang berkebangsaan Turki). Teman-teman lain tidak bisa datang karena berbagai kesibukan dan kebetulan kejadiannya pada hari Senin. Saya dan seorang teman perempuan yang sama-sama kuliah di FH Osnabrueck membolos di salah satu kelas siang itu, dan teman yang kuliah di Uni Osnabrueck menyusul ke Muenster sejam kemudian. Dalam sehari itu, dalam suasana sedih yang justru menjadi kekuatan, kami tetap mengurus semuanya dan berusaha agar hak-hak almarhum dapat dipenuhi secara layak. Beberapa kali sebenarnya pihak Bestaetigung berusaha menunda atau memperlambat pengurusan jenazah, misalnya mereka hanya mengirimkan satu orang tenaga untuk menangani jenazah (padahal teman saya sudah membayar dengan mahal, harusnya paling tidak 2 orang, dalam hal ini teman saya sempat komplain kepada pihak kepala Bestaetung), atau petugas itu mengatakan besoknya saja jenazah dikirim ke Frankfurt, dsb. Tetapi teman saya menyatakan bahwa itu tidak boleh terjadi, semuanya harus selesai dalam waktu sehari, karena begitulah Sunnah Rasul, bahwa sebisa mungkin jenazah harus diurus dan dikebumikan secepatnya (teman saya sampai bilang ke petugas Bestaetung,’Bukankah Anda juga Muslim, Anda tahu kan bahwa kita harus memakamkan jenazah secepatnya?’) Bahkan kami pun berusaha membantu dalam memandikan dan mengkafani, dimana karena jenazah adalah laki-laki, teman saya yang laki-laki dan kerabat almarhum membantu proses tersebut (bagi teman saya dari Aceh itu, membantu mengurus jenazah tersebut adalah pengalaman pertamanya, di Jerman pula). Dan alhamdulillah ketika sore menjelang waktu Maghrib kami sudah bisa menyelenggarakan sholat jenazah di halaman masjid di Muenster, mengapa ? Karena masjidnya terletak di lantai 2 dan tidak memungkinkan mengusung peti jenazah ke atas. Kami sholat jenazah (dan itu pertama kalinya bagi saya dan salah satu teman perempuan yang ikut sholat jenazah, sementara teman saya, istri almarhum dan salah satu teman perempuan lain berhalangan), diimami oleh Imam Masjid sebagai bagian dari fardhu kifayah pada saudara muslim yang meninggal. Ketika semua proses sudah selesai dan teman saya sudah menandatangani semua dokumen untuk pengiriman jenazah suaminya ke Frankfut, kami mengucap syukur, lega sekali karena kami sudah menjalankan kewajiban kami selaku muslim. Di situlah saya dapat melihat bahwa keikhlasan dan ketegaran menghadapi musibah adalah ujian bagi kita selaku makhluk yang masih hidup. Teman saya bercerita, dia sudah ikhlas dengan meninggalnya suaminya, karena sekitar satu jam sebelum suaminya meninggal, dokter telah melihat tanda-tanda kematian suaminya, dia ditelpon di apartemennya, dan dengan bersepeda pada dini hari itu dia menuju rumah sakit dan masuk ke kamar suaminya, membacakan Surat Yassin dan begitu bacaan surat tersebut selesai, dia membisikkan selamat tinggal kepada suaminya (yang memang sudah tidak sadar sejak beberapa hari sebelumnya), teman saya sudah ikhlas, innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mendengar ceritanya waktu itu, tak terasa kami yang beristirahat selepas Maghrib di sebuah restoran Turki di samping Masjid Muenster tercenung dan terharu. Subhanallah, betapa tegarnya teman saya menghadapi musibah itu. Dalam perjalanan pulang ke Osnabrueck, menjelang ulang tahun saya keesokan harinya, kami bertiga dalam kereta masih berdoa semoga kejadian hari itu akan selalu mengingatkan kita semua akan kematian dan bagaimana kita harus punya ketabahan dalam menghadapi musibah. Teman saya dan kerabatnya pun alhamdulillah kemudian dimudahkan untuk mendapatkan tiket pulang ke Indonesia sehari kemudian, sungguh sebuah karunia dari Allah yang luar biasa. Jenazah suaminya yang datang di Jakarta keesokan harinya langsung disholatkan oleh keluarga dan teman-teman di Indonesia dan kemudian diterbangkan ke Semarang, dan teman saya pun keesokan harinya sudah sampai di Indonesia dengan selamat dan dapat menghadiri pemakaman suaminya. Subhanallah…

Pengalaman yang sangat berharga saat itu sungguh membekas dalam hati saya. Kami yang terlibat dalam peristiwa itu adalah orang-orang biasa yang ingin melaksanakan kewajiban selaku muslim di Jerman, dan mungkin tidak dapat dibandingkan dengan pengalaman seorang pejabat/mantan pejabat yang meninggal di luar negeri dan dapat diurus dengan cepat untuk dipulangkan ke Indonesia dengan berbagai fasilitas yang dimiliki. Penting juga kiranya bahwa pengetahuan tentang mengurus jenazah muslim di negara-negara dimana mayoritas masyarakatnya adalah non-muslim untuk disebarluarkan, sehingga akan semakin banyak orang memahami tentang tuntunan dalam agama Islam. Dengan keikhlasan untuk saling membantu dan mengetahui prosedur yang benar, kemampuan bahasa Jerman (atau bahasa setempat, dimana kita tinggal) yang baik (yang tentu saja sangat bermanfaat untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak), juga kemantapan hati agar jenazah dapat dimakamkan secepatnya sesuai Sunnah Rasul, kita insyaallah akan mampu memenuhi ha-hak saudara muslim yang meninggal dunia. Dan berbagi cerita ini merupakan salah satu upaya saya agar teman-teman lain dapat mengambil hikmah dalam setiap kejadian, agar apa yang menimpa almarhumah teman saya yang meninggal minggu lalu dan belum dapat dimakamkan hingga saat ini (ketika catatan ini saya tulis) tidak terjadi lagi. Mudah-mudahan Allah meridhai upaya kita untuk mendekatkan diri kepadaNya dan semoga pula jenazah almarhumah teman saya yang meninggal dapat segera dipulangkan dan dimakamkan di Indonesia, amiin.

Lembang – 13052012

Read Full Post »