Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei 14th, 2012

Jerman adalah sebuah negara dimana segala sesuatunya hampir dipastikan telah diatur sedemikian rupa agar berbagai urusan dapat dilakukan dengan baik serta melalui prosedur yang jelas. Tak heran jika sebagian masyarakat yang asalnya bukan berasal dari negara-negara yang punya keteraturan atau tidak punya disiplin yang tinggi seperti dari negara-negara Asia (kecuali Korea atau jepang), Afrika atau Amerika Latin kadang agak kesulitan untuk menyesuaikan dengan kondisi di Jerman yang sangat teratur, dimana bahkan untuk beberapa urusan terlihat seperti sangat rumit meski kepentingannya adalah agar segala sesuatunya berjalan dengan tertib dan aman.

Sebagai muslim dimana kita hidup di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim, ada beberapa tantangan yang harus kita hadapi. Jika biasanya dengan mudah akan menemukan banyak masjid di tiap sudut kota, maka di Jerman mungkin cuma satu dua masjid di tiap kota (entah itu kota besar atau kecil), atau ketika puasa di saat kita harus menahan diri dari makan minum dan membatasi diri melihat/mendengar hal-hal yang membangkitkan nafsu bisa jadi di sekitar kita justru banyak godaan semacam itu (apalagi ketika musim panas dimana matahari bisa bersinar terang hingga pukul sembilan atau sepuluh malam!), hingga misalnya saat kita harus mengurus jenazah muslim untuk akhirnya memulangkannya ke Indonesia.

Ya, memang tidak mudah menerapkan aturan agama di negeri yang bukan mayoritas muslim. Tetapi di manapun kita berada sedapat mungkin kita harus menjaga agar apa yang kita lakukan dalam menghadapi berbagai peristiwa, tidak keluar dari apa yang digariskan oleh Qur’an dan Sunnah Rasul Muhammad SAW. Salah satu hal penting yang perlu kita perhatikan adalah perlunya kita menjalin silaturrahim dengan sesama muslim di Jerman, baik itu yang berasal dari Indonesia maupun dari negara lain. Karena dalam kehidupan sehari-hari, mempunyai komunitas yang seagama adalah sangat penting, mengingat ada banyak hal yang dapat dilakukan bersama-sama untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, selain juga dapat dijadikan sandaran jika kita mengalami musibah yang membutuhkan penanganan oleh sesama muslim, kematian salah satu contohnya, dimana hukumnya adalah fardhu kifayah.

Peristiwa yang membuat saya menuliskan catatan ini adalah karena meninggalnya salah seorang teman baik di Jerman, secara mendadak, yang membuat kami, keluarga (suami dan mertuanya yang orang Jerman, juga keluarga di Indonesia) serta teman-temannya shock karena jarak diagnosis sakitnya dengan waktu meninggalnya hanya 3 minggu saja, innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Seminggu lalu, tepatnya Senin sore 7 Mei 2012, seorang teman baik di Jerman mengabari hal ini, saya langsung berinisiatif untuk mengabari teman-teman di Karlsruhe, kota besar terdekat dimana saya pernah tinggal, yang dekat dengan Geggenau, tempat teman saya yang meninggal menetap selama di Jerman. Dalam kesedihan, saya berusaha mengontak teman-teman melalui Facebook dan juga mengontak salah satu teman baik yang bekerja di Belanda, dimana dulu saya pernah membantu mengurus jenazah suaminya (mereka berdua orang Indonesia) yang meninggal di Muenster Jerman, dekat dengan kota tempat saya kuliah di Osnabrueck. Saya berusaha membantu agar jenazah teman saya dapat diurus (diproses keluar dari rumah sakit, dimandikan, dikafani, disholatkan dan diterbangkan ke Indonesia) secepatnya, karena itulah tuntunan dari Rasul agar siapapun yang meninggal dapat dikebumikan segera. Teman baik saya yang suaminya meninggal di tahun 2010 itu pun bersedia membantu jika keluarga almarhumah teman saya mengontaknya, membantu memberikan masukan bagaimana agar bisa bernegosiasi dengan berbagai pihak (terutama adalah pihak Bestaetung, jasa pengurusan jenazah muslim, umumnya dari lembaga Turki) agar proses pengurusan jenazah dapat berjalan lancar. Tetapi apa daya, dengan berbagai macam kondisi yang dialami oleh keluarga almarhumah di Jerman, pengurusan jenazah baru dapat dilakukan mulai Hari Rabu, 9 Mei 2012 (dimandikan, dikafani dan disholatkan) dimana kemudian direncanakan jenazah diterbangkan ke Indonesia hari Jum’at (11 Mei) dan Hari Sabtu (12 Mei) diharapkan sampai di Solo Jawa Tengah dan dimakamkan di sana (tempat asal almarhumah teman saya). Sayangnya hal tersebut belum terjadi, karena konfirmasi terakhir saya dengan salah satu teman kami di Solo, jenazah almarhumah baru akan sampai di Indonesia hari Rabu, 16 Mei 2012.

Jujur saja, saya sangat sedih dan rasanya memang tidak dapat berbuat apa-apa dalam kondisi seperti ini dan saya juga tidak tahu apa yang menyebabkan hingga prosesnya begitu lama, mungkin juga karena pengetahuan tentang mengurus jenazah muslim memang belum banyak diketahui oleh masyarakat di Jerman. Saya teringat ketika membantu teman saya yang suaminya meninggal di Muenster tgl 25 Oktober 2010 lalu, kami dapat menjalankan proses pengurusan jenazah almarhum dengan cepat, hanya dalam waktu sehari. Waktu itu semuanya juga serba mendadak bagi saya, karena saya tidak tahu kalau almarhum memang sudah sakit parah, tetapi subhanallah teman saya sangat tabah dan sudah mempersiapkan semuanya. Dia sudah mengontak Bestaetung sebelumnya untuk bersiap-siap, sehingga ketika pagi hari dimana almarhum suaminya meninggal, dia langsung memastikan untuk menyewanya (dengan biaya sekitar 3,000 Euro) untuk proses mengeluarkan jenazah dari patologi RS, memandikan, mengkafani, membawa ke masjid untuk disholatkan dan mengirim jenazah ke Frankfurt dimana nantinya pihak KJRI akan menangani pengiriman jenazah ke Indonesia. Pagi itu, ketika saya dikabari bahwa suaminya sudah meninggal saya mengerahkan beberapa teman muslim untuk bergabung membantu, hingga akhirnya (hanya) terkumpul sebanyak 4 orang, saya dan 2 teman perempuan (kami dari Osnabrueck), dan satu teman laki-laki yang kuliah di Muenster (teman dari Aceh, yang pernah saya jumpai hanya sekali di Koeln sebulan sebelumnya, tidak tahu nomor telponnya, dan saya harus hunting untuk mengontaknya lewat beberapa teman Aceh yang saya kenal di Freiburg dan Offenburg pada jam 5 pagi!), plus seorang kerabat jauh (laki-laki) dari Indonesia yang sejak beberapa bulan sebelumnya memang sudah merawat almarhum suami teman saya yang memang sudah lama sakit, sementara sehari-hari teman saya bekerja (jarak antara Muenster dengan salah satu kota di Belanda tempat teman saya bekerja memang dekat, hanya 35 menit naik kereta). Ya, kami hanya berenam menjalankan semua itu, plus seorang petugas Bestaetung (yang berkebangsaan Turki). Teman-teman lain tidak bisa datang karena berbagai kesibukan dan kebetulan kejadiannya pada hari Senin. Saya dan seorang teman perempuan yang sama-sama kuliah di FH Osnabrueck membolos di salah satu kelas siang itu, dan teman yang kuliah di Uni Osnabrueck menyusul ke Muenster sejam kemudian. Dalam sehari itu, dalam suasana sedih yang justru menjadi kekuatan, kami tetap mengurus semuanya dan berusaha agar hak-hak almarhum dapat dipenuhi secara layak. Beberapa kali sebenarnya pihak Bestaetigung berusaha menunda atau memperlambat pengurusan jenazah, misalnya mereka hanya mengirimkan satu orang tenaga untuk menangani jenazah (padahal teman saya sudah membayar dengan mahal, harusnya paling tidak 2 orang, dalam hal ini teman saya sempat komplain kepada pihak kepala Bestaetung), atau petugas itu mengatakan besoknya saja jenazah dikirim ke Frankfurt, dsb. Tetapi teman saya menyatakan bahwa itu tidak boleh terjadi, semuanya harus selesai dalam waktu sehari, karena begitulah Sunnah Rasul, bahwa sebisa mungkin jenazah harus diurus dan dikebumikan secepatnya (teman saya sampai bilang ke petugas Bestaetung,’Bukankah Anda juga Muslim, Anda tahu kan bahwa kita harus memakamkan jenazah secepatnya?’) Bahkan kami pun berusaha membantu dalam memandikan dan mengkafani, dimana karena jenazah adalah laki-laki, teman saya yang laki-laki dan kerabat almarhum membantu proses tersebut (bagi teman saya dari Aceh itu, membantu mengurus jenazah tersebut adalah pengalaman pertamanya, di Jerman pula). Dan alhamdulillah ketika sore menjelang waktu Maghrib kami sudah bisa menyelenggarakan sholat jenazah di halaman masjid di Muenster, mengapa ? Karena masjidnya terletak di lantai 2 dan tidak memungkinkan mengusung peti jenazah ke atas. Kami sholat jenazah (dan itu pertama kalinya bagi saya dan salah satu teman perempuan yang ikut sholat jenazah, sementara teman saya, istri almarhum dan salah satu teman perempuan lain berhalangan), diimami oleh Imam Masjid sebagai bagian dari fardhu kifayah pada saudara muslim yang meninggal. Ketika semua proses sudah selesai dan teman saya sudah menandatangani semua dokumen untuk pengiriman jenazah suaminya ke Frankfut, kami mengucap syukur, lega sekali karena kami sudah menjalankan kewajiban kami selaku muslim. Di situlah saya dapat melihat bahwa keikhlasan dan ketegaran menghadapi musibah adalah ujian bagi kita selaku makhluk yang masih hidup. Teman saya bercerita, dia sudah ikhlas dengan meninggalnya suaminya, karena sekitar satu jam sebelum suaminya meninggal, dokter telah melihat tanda-tanda kematian suaminya, dia ditelpon di apartemennya, dan dengan bersepeda pada dini hari itu dia menuju rumah sakit dan masuk ke kamar suaminya, membacakan Surat Yassin dan begitu bacaan surat tersebut selesai, dia membisikkan selamat tinggal kepada suaminya (yang memang sudah tidak sadar sejak beberapa hari sebelumnya), teman saya sudah ikhlas, innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mendengar ceritanya waktu itu, tak terasa kami yang beristirahat selepas Maghrib di sebuah restoran Turki di samping Masjid Muenster tercenung dan terharu. Subhanallah, betapa tegarnya teman saya menghadapi musibah itu. Dalam perjalanan pulang ke Osnabrueck, menjelang ulang tahun saya keesokan harinya, kami bertiga dalam kereta masih berdoa semoga kejadian hari itu akan selalu mengingatkan kita semua akan kematian dan bagaimana kita harus punya ketabahan dalam menghadapi musibah. Teman saya dan kerabatnya pun alhamdulillah kemudian dimudahkan untuk mendapatkan tiket pulang ke Indonesia sehari kemudian, sungguh sebuah karunia dari Allah yang luar biasa. Jenazah suaminya yang datang di Jakarta keesokan harinya langsung disholatkan oleh keluarga dan teman-teman di Indonesia dan kemudian diterbangkan ke Semarang, dan teman saya pun keesokan harinya sudah sampai di Indonesia dengan selamat dan dapat menghadiri pemakaman suaminya. Subhanallah…

Pengalaman yang sangat berharga saat itu sungguh membekas dalam hati saya. Kami yang terlibat dalam peristiwa itu adalah orang-orang biasa yang ingin melaksanakan kewajiban selaku muslim di Jerman, dan mungkin tidak dapat dibandingkan dengan pengalaman seorang pejabat/mantan pejabat yang meninggal di luar negeri dan dapat diurus dengan cepat untuk dipulangkan ke Indonesia dengan berbagai fasilitas yang dimiliki. Penting juga kiranya bahwa pengetahuan tentang mengurus jenazah muslim di negara-negara dimana mayoritas masyarakatnya adalah non-muslim untuk disebarluarkan, sehingga akan semakin banyak orang memahami tentang tuntunan dalam agama Islam. Dengan keikhlasan untuk saling membantu dan mengetahui prosedur yang benar, kemampuan bahasa Jerman (atau bahasa setempat, dimana kita tinggal) yang baik (yang tentu saja sangat bermanfaat untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak), juga kemantapan hati agar jenazah dapat dimakamkan secepatnya sesuai Sunnah Rasul, kita insyaallah akan mampu memenuhi ha-hak saudara muslim yang meninggal dunia. Dan berbagi cerita ini merupakan salah satu upaya saya agar teman-teman lain dapat mengambil hikmah dalam setiap kejadian, agar apa yang menimpa almarhumah teman saya yang meninggal minggu lalu dan belum dapat dimakamkan hingga saat ini (ketika catatan ini saya tulis) tidak terjadi lagi. Mudah-mudahan Allah meridhai upaya kita untuk mendekatkan diri kepadaNya dan semoga pula jenazah almarhumah teman saya yang meninggal dapat segera dipulangkan dan dimakamkan di Indonesia, amiin.

Lembang – 13052012

Iklan

Read Full Post »