Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei 22nd, 2012

Jakarta, sebuah kota yang sangat padat penduduk, tentunya membutuhkan sistem penyediaan perumahan yang mudah dan murah untuk diakses oleh masyarakat kebanyakan, meski tentu saja tetap masih banyak kalangan menengah atas yang mampu untuk membeli rumah dengan lahan luas di tengah kota ! Kondisi semacam ini makin miris kita saksikan kala naik kereta, cobalah Anda lihat ke luar jendela kereta (dan hal ini rasanya akan semakin mudah untuk disaksikan jika kita naik kereta jurusan Bandung misalnya, yang agak santai dan tidak berdesakan), banyak hal yang kadang luput dari perhatian pemerintah, entahlah…

Pemandangan umum yang akan kita jumpai ketika duduk di sebelah jendela kaca besar di kereta adalah deretan rumah yang sebagian besar kumuh, dengan tingkat kebersihan yang memprihatinkan dan anak-anak yang bermain dengan riangnya di pinggir rel tanpa rasa takut, dan juga berbagai kondisi sosial yang memprihatinkan. Rasanya memang tidak adil jika menyalahkan orang-orang yang bernasib seperti itu dengan hanya mengatakan,’Siapa suruh datang ke Jakarta?’ Dan tentunya Pemerintah DKI pun pernah mengupayakan agar kondisi semacam itu bisa menjadi lebih baik, hanya pertanyaannya : Sejauh mana, sekeras apa upaya yang telah mereka lakukan ? Apakah ada sistem evaluasi proyek pembenahan dan pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan selama ini ?

Hmmm agaknya memang tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, dan tentu saja apa yang terjadi saat ini harus terus menerus menjadi perhatian besar pemerintah, siapa pun yang memimpin, dari partai manapun. Tetapi ada pemandangan berbeda di sekitar pinggir rel di Jakarta dan sekitarnya (Bekasi dan Purwakarta) selain kekumuhan di area semacam itu yang sudah jamak kita jumpai di Indonesia (memang tidak hanya di Surabaya, tapi juga di banyak kota besar lain seperti Bandung, Suabaya, Jogja), apakah itu ? Ya, pemandangan banyaknya rumah mangkrak di pinggir rel kereta api ! Dugaan saya, rumah-rumah yang sengaja dibangun itu diperuntukkan bagi kalangan pegawai kereta api, tetapi entah kenapa rumah-rumah itu tidak ditempati dan rusak begitu saja, padahal kalau saja rumah-rumah itu dapat difungsikan sebagai tempat tinggal para tuna wisma yang sering kali hidup menggelandang di stasiun atau sekitar rel kereta api, alangkah bermanfaatnya !

Tapi beginilah paradoks yang sering terjadi di Indonesia, banyak proyek yang sia-sia saja untuk berbagai kalangan dimana kadang yang bersangkutan tidak mau menerima manfaat atau dengan berjuta alasan juga dapat dikatakan kalau pembuatan proyek itu (seperti pembangunan berderet rumah yang lumayan layak huni itu) salah sasaran. Sementara mereka yang benar-benar membutuhkan malah tidak diperhatikan sama sekali, ah entahlah. Jakarta dan sekitarnya beserta berjuta problemanya selayaknya tidak semakin ketinggalan dengan ibukota negara-negara lain, dimana perhatian pada kepentingan masyarakat secara umum harus diperhatikan dan diutamakan. Para pemilik modal tidak selayaknya selalu dimanja dengan berbagai fasilitas yang pada akhirnya mengebiri kesejahteraan masyarakat kecil yang semakin hari semakin terpuruk dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat (berdempetnya rumah-rumah di gang-gang sempit, dengan saluran air yang selalu kotor dengan sampah dan akan menyebabkan banjir jika hujan tiba!).

Walau kita tahu bahwa pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan, tetapi memang tetap terbersit pertanyaan, yang selalu tergiang : ada apa dengan Jakarta ?

Harmoni – 22052012

Iklan

Read Full Post »