Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2012

Jakarta dalam beberapa bulan atau beberapa minggu terakhir seakan berubah jadi bercorak kotak-kotak, ada apakah gerangan ? Ya, ini adalah efek sebuah baju dari salah satu Calon Gurbernur dan Wakil Gurbernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (lebih dikenal sebagai Jokowi – Ahok), pasangan dari ‘daerah’ yang dianggap udik oleh sebagian orang Jakarta. Tetapi ternyata upaya mereka dalam membentuk citra yang sesuai dengan visi misi ketika nantinya terpilih melalui kemeja bercorak kotak-kotak yang diibaratkan adalah mereka akan bekerja keras untuk masyarakat Jakarta ini ternyata berhasil, tentu tidak hanya dari baju kotak-kotak itu yang awalnya ditemukan oleh salah satu ajudan Jokowi beberapa jam sebelum pendaftaran pasangan ini ke KPUD DKI Jakarta, tetapi juga dari program-program konkrit yang dikemukakan pasangan ini untuk membentuk Jakarta, yang tercermin dari paparan Jokowi dalam beberapa seri video berikut ini :

Kita bisa lihat dalam video tersebut semua peserta (para relawan) Jokowi-Ahok memakai baju kotak-kotak yang konon hasil penjualannya berkontribusi sebesar 1 Miliar untuk dana kampanye pasangan ini, dan hingga kini pun setelah Pilgub DKI berakhir dan hasilnya menunjukkan kemenangan pasangan ini yang meraih suara kurang lebih 42 %, baju motif begini pun masih tetap diburu hingga banyak yang antriiii, ngga cuma dari dalam negeri tapi hingga keluar negeri seperti Hong Kong dan Jerman !

Baju kotak-kotak semacam itu yang mem-filosofi-kan warna warni Jakarta dengan segala dinamikanya itu memang nyaman dipakai dan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan atau beraktivitas apa saja. Baju motif begini juga gampang dicari, ditiru bahkan juga disalahgunakan…bagaimana bisa ? Ya, karena sempat ada informasi bahwa ada pihak lawan yang tampaknya ingin menghancurkan reputasi pasangan ini dengan money politic melalui pembagian uang oleh oknum-oknum yang berpakaian motif kotak-kotak ini !

Dan sepertinya memang putaran kedua Pilgub DKI yang rencananya akan dilakukan bulan September depan akan berlangsung panas karena ‘pagi-pagi’ sudah banyak yang bicara tentang SARA, isu-isu yang tidak mengenakkan, dsb. Tetapi memang perlu diwaspadai bagi mereka yang gabung di pasangan Jokowi – Ahok ini bahwa kontrol relawan harus ketat dan jangan sampai ada ‘penyusup’. Terlebih lagi tentunya proses ini, meski mahal, adalah pelajaran yang berharga yang kelak akan membuktikan bahwa demokrasi di Jakarta atau Indonesia sekalipun harus berjalan ke rel yang benar, jangan sampai dikotori berbagai kasus suap yang kelak akan menodai reputasi kemenangan calon pasangan siapapun yang terpilih nanti. Maka benarlah anjuran dari Panwaslu DKI,’Kalau dulu ada jargon : ambil uangnya jangan pilih orangnya, sekarang jargonnya harus berubah : jangan ambil uangnya dan jangan pilih orangnya !’ dan inilah yang akan mencerminkan harga diri manusia harkat dan martabat manusia, yang seharusnya tidak terbeli oleh ‘uang’ yang hanya senilai puluhan atau ratusan ribu rupiah !

Tapi kembali lagi, kemeja motif kotak-kotak inilah yang membuat Jokowi benar-benar diakui bahwa dia cerdas, serta mampu menampilkan dirinya ! Seorang pemimpin sebuah kota menengah (Surakarta) yang penampilannya seperti orang kebanyakan, yang mungkin jika naik angkot, KRL, busway, ojek, bajaj, bemo, atau jenis apapun angkutan umum di Jakarta ini (yang juga jadi salah satu titik tekan programnya jika terpilih nanti, yaitu memperbaiki dan membangun angkutan umum/massal) tidak akan mudah dikenali. Dengan kemeja kotak-kotak inilah ‘brand’ seorang ‘pelayan masyarakat’ yang sudah terbukti selama 7 tahun dinilai berhasil oleh berbagai kalangan baik di dalam negeri maupun di luar negeri menjadi semakin terkenal dan tentu saja menimbulkan euforia di kalangan masyarakat luas, tidak hanya warga ber-KTP DKI tapi juga yang bukan ber-KTP DKI, dan mudah-mudahan hal itu sejalan dengan pemenuhan janji-janjinya kelak jika benar-benar terpilih sebagai Gurbernur DKI 2012 – 2017 !

Catatan : Suasana pencoblosan Pilgub DKI tanggal 11 Juli lalu sungguh membuat Jakarta ‘berkotak-kotak’ ! Karena kemeja ini tidak hanya dipakai oleh pasangan Jokowi – Ahok plus tim kampanye, para saksi di tempat pemungutan suara, plus para sukarekawan tapi juga para warga yang sudah bosan dengan berbagai problema yang dialami sehari-hari (macet, banjir, polusi, dll) dan menginginkan perubahan yang nyata dengan capaian yang konkrit secara bertahap juga termasuk seolah ingin membalikkan hasil berbagai survey yang hampir semuanya mengunggulkan pasangan incumbent, ternyata ingin menunjukkan bahwa mereka memilih Jokowi – Ahok dengan beramai-ramai memakai kemeja kotak-kotak ini ! Lhaa kan jadi kelihatan kalo Pilgub-nya ngga rahasia lagi dooong ? Hehehe….:)

Ada apa dengan Jakarta ?

Harmoni, 20072012

Read Full Post »

Pendidikan adalah sarana untuk membentuk berkarakter dan integritas (Anies Baswedan)

Ya, salah satu motivasi saya mengikuti Kelas Inspirasi yang diselenggarakan dan merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar ini adalah membayar apa yang sudah dapat selama berpuluh tahun mengasah diri melalui bangku sekolah (dan juga kuliah) baik di dalam dan di luar negeri yang pernah saya dapat, dengan cara yang hampir dikatakan mudah. Tanpa melalui kesulitan yang berarti karena saya dapat sekolah di SD dan SMP (Margomulyo I Ngawi dan SMP Negeri 2 Ngawi) yang merupakan sekolah terbaik pada jaman itu di kota kecil kami. Selain itu saya juga dapat melalui masa SMA (Al-Islam 1 Surakarta) meski swasta tetapi itu memang pilihan terbaik buat saya karena saya dapat belajar dan memahami agama dengan lebih baik, dan juga kuliah di Universitas Airlangga Surabaya karena lolos test UMPTN. Jadi, boleh dikatakan apa yang telah saya tempuh sejauh ini adalah paduan dari nasib baik, kerja keras dan juga tekad untuk maju karena saya telah memutuskan untuk sekolah yang jauh dari kampung halaman sejak saya berumur 15 tahun. Dan kiranya apa yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Mengajar (termasuk program Kelas Inspirasi di salamnya) ini adalah untuk memberikan kesempatan pada mereka seperti halnya saya untuk memberikan dan membagi pengalaman yang telah kita dapatkan selama ini.

Dan ketika akhirnya saya terpilih menjadi salah satu guru di Kelas Inspirasi, saya sangat bahagia dan bangga, karena dengan demikian saya diberikan kesempatan untuk lebih mengenal secara dekat apa yang telah terjadi di salah satu SD yang terpilih dalam program Kelas Inspirasi di Wilayah DKI Jakarta. Dan ketika itulah, saat jam sudah menunjukkan pukul 05.30 dan taxi yang membawaku sudah mulai memasuki daerah Tanjung Priok, saya sampaikan ke bapak sopir kalo saya akan mencari tempat berkumpul dengan teman-teman lain di Telkom Tanjung Priok. Setelah bertemu teman-teman sesama guru Kelas Inspirasi (Michael, Agus dan Benny…sementara yang lain – Marsya dan Ya Asurandi, serta Nisa dan Sarah yang merupakan volunteer dari Gerakan Indonesia Mengajar berangkat sendiri dan bertemu di lokasi sekolah) dan mempersiapkan foto-foto anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang akan saya ceritakan ke anak-anak SD Tanjung Priok 01 Pagi tempat saya mengajar, kami meluncur ke sekolah itu yang ternyata memang letaknya di gang yang sempit (seperti kata Michael yang melakukan survey dua hari sebelumnya).

Bertemu dengan guru-guru sekolah SDN tempat kami akan mengajar nantinya di ruangan guru yang sempit, kami mendapatkan sedikit arahan bagaimana karakter anak-anak di SD tersebut (meski dalam pembelakan yang diberikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar tanggal 14 April sebelumnya kami juag sudah diberitahu bagaimana karakter anak-anak SD jaman sekarang) ; bahwa anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar, mereka akan bertanya tentang hal-hal yang kadang tidak kita duga, mereka bisa sangat agresif atau sebaliknya bisa bosan kalo penjelasan kita tidak memuaskan mereka. Ya, tentu saja saya akan selalu mengingat isi sms dari Berlin itu, yang telah memotivasi saya untuk melakukan yang terbaik dan menjadi diri sendiri dalam mengajar anak-anak.

Diawali dengan pembagian kelas, akhirnya saya memberanikan diri untuk melewati ujian pertama pada hari itu dengan mengajar di Kelas 1 ! Dan saat saya mulai mengucap salam, tersenyum manis pada anak-anak itu, rasanya semua keraguan akan kemampuan saya menjadi hilang. Dengan percaya diri saya menjelaskan nama dan profesi saya yang kemudian saya lanjutkan dengan melontarkan pertanyaan sederhana kepada anak-anak yang dengan antusias mendengarkan saya, meski ada juga yang sepertinya tidak perhatian (setelah saya dekati bangkunya, ternyata dia makan mie instan karena lapar belum sarapan !), tetapi saya coba mengerti keadaan anak-anak itu sebaik mungkin sambil bertanya, siapa yang pengin tahu daerah-daerah di Indonesia ? Tentu saja banyak diantara mereka yang mengangkat tangan sambil mengacungkan tangan ! Ahh, betapa indahnya diperhatikan seperti itu 馃檪 Saya memakai metode ini karena ingin menunjukkan bahwa sebagai konsultan untuk perbaikan birokrasi pemerintah saya memang sering bepergian sehingga bisa berfoto dengan anak-anak dari berbagai penjuru negeri. Sementara itu teman-teman saya yang lain yang berprofesi sebagai desainer, investo keuangan, manajer portofolio, kontraktor kapal, dan ahli energi punya metode sendiri-sendiri yang sebisa mungkin penjelasannya dapat dimengerti anak-anak SD 馃檪

Saya membawa alat peraga berupa peta Indonesia dan juga post it (kecil, berwarna-warni) yang saya pakai untuk membuat anak-anak menempalkan nama-nama daerah di peta (sebagai tanda) karena foto-foto saya bersama-sama dengan anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia akan menjadi referensi dimana letaknya daerah tersebut di peta Indonesia yang saya tempel di papan tulis di depas kelas. Begitulah permainan dimulai, saya menunjukkan foto (yang saya tunjukkan dari laptop saya) kemudian saya minta mereka menebak saya dimana (tentu dengan latar belakang yang mungkin mereka tahu, plus wajah anak-anak dalam foto, dari Indonesia bagian manakah ?), setelah saya jelaskan mereka akan saya minta untuk menempelkan dimana letak daerah itu dan ditandai dengan post it yang akan ditempel di peta Indonesia. Permainan sederhana itu akhirnya membuat anak-anak tahu, dimana letak Aceh, Sumatra Barat, Jakarta, Surabaya, Flores, Halmahera Utara, Banjarmasin, dll. Kalau agak bosan (karena saya harus mengajar selama 1 jam), saya akan ajak mereka menyanyi…dan tentu saja akan terdengar di ruang sebelah (begitu pula sebaliknya) karena memang sekolah ini sangat kecil dimana kelas saling berdempetan, dan tidak punya halaman untuk bermain (hanya ada sepetak kecil tempat bermain di belakang yang dibatasi tembok dan di balik tembok ada sungai, jika main bola dan bola melambung ke luar tembok, maka selesailah sudah permainan itu!), gerbang depan mepet dengan gang sempai yang penuh dengan penjaja makanan (dan tentu saja yang dapat lewat di gang ini hanya sepeda dan motor), selain itu mereka juga tidak punya perpustakaan – buku-buku yang dimiliki hanya disimpan di almari di lorong sekolah yang dipakai untuk dua sekolah (di siang hari dipakai oleh SDN Tanjung Priok 01 Petang), jika ada yang meminjam barulah buku akan dikeluarkan dan diberikan ke siswa yang membutuhkan.

Metode mengajar yang saya gunakan sama dengan mengajar di kelas-kelas lain, dimana setelah saya mengajar di Kelas 1, saya berturut-turut mengajar di Kelas 6, Kelas 4 dan Kelas 2. Kami masing-masing harus mengajar hingga empat kelas karena memang kami para guru Kelas Inspirasi hanya 6 orang (tidak seperti kelompok lain yang mengajar SD di lokasi lain yang jumlahnya rata-rata 8 orang sehingga masing-masing guru mungkin hanya mengajar 2 kelas selama kegiatan Kelas Inspirasi berlangsung (dimulai jam 7 – 12 siang). Di Kelas 4 dan Kelas 6, selain saya menjelaskan kondisi Indonesia dan kekayaan budayanya (dimana saya juga membawa berbagai jenis kain tenun dengan berbagai motif yang berasal dari Flores, Sumatra Barat, Palembang, dll), menanyakan cita-cita masing-masing anak dan mendiskusikan alasannya, saya juga melakukan metode yang sama dengan menunjukkan foto-foto berbagai ikon kota-kota di Eropa seperti Eifel di Paris, Colloseum di Roma atau Branderburg Tor di Berlin (karena saya pernah sekolah di Jerman dan sempat keliling hampir 15 negara di daratan Eropa plus Istambul Turki) dan meminta mereka untuk menandai lokasi foto-foto tersebut di peta dunia yang juga saya bawa. Hebatnya anak-anak SD Kelas 4 itu sudah pada tahu loohh, jadi jangan kita remehkan kemampuan dan daya ingat anak-anak, asalkan kita memberikan input dan informasi yang positif 馃檪

Hari itu acara ditutup dengan makan siang bersama plus pemberian piagam penghargaan dari Indonesia Mengajar kepada Kepala Sekolah SDN Tanjung Priok 01 Pagi, kemudian juga foto bersama dengan para guru (dengan anak-anak sudah diambil fotonya saat kami mengajar di kelas hehe…). Dalam suasana siang yang kian terik, beberapa anak sempat meminta nomor telepon kami para guru yang mengajar mereka, dan suasana makin hiruk pikuk karena memang sejak pukul 12 siang para siswa dari SDN Tangjung Priok 01 Petang sudah mulai berdatangan, sehingga kami semua termasuk para guru dan anak-anak SDN Tanjung Priok 01 Pagi harus bergegas pulang karena gedung akan mulai dipakai untuk sekolah yang petang !

Dalam perjalanan pulang, kebetulan sebagian besar dari kami berada dalam satu kendaraan menuju arah Kuningan sehingga kami bisa saling bercerita tentang pengalaman mengajar yang baru saja kami lakukan plus sharing bagaimana kadang kami sangat kerepotan dengan suasana kelas yang kadang kacau balau karena mereka ngga sabar dan rebutan untuk menjawab pertanyaan kami, bahkan ada yang menangis karena dinakalin oleh teman-teman sekelasnya, hingga suara serak karena kami harus bersaing mengalahkan suara ribut anak-anak dan juga karena kami ngga mau kalah dengan kelas lain yang tentu saja terdengar dari kelas tempat kami mengajar ! Sungguh, pengalaman yang luar biasa ini tidak dapat dibeli, ada rasa rindu kala mengenang hari itu, 25 April 2012, ketika untuk sehari kami harus membaur dengan kondisi sekolah yang bersahaja, dan juga menjadi sangat menghargai peran dan arti guru kala kami dulu saat masih sekolah juga sering bikin ribut dan mungkin juga membuat pusing para guru.

Evaluasi yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Mengajar berupa mengisi form sebagai refleksi kegiatan kami selama sehari itu membuatku berusaha untuk sebaik mungkin memberikan gambaran tentang kondisi sekolah, anak-anak SD dan para guru, sehingga dapat dijadikan masukan untuk Program Kelas Inspirasi selanjutnya. Sayangnya saya tidak dapat hadir saat dilakukan evaluasi bersama dengan Tim Indonesia Mengajar pada tanggal 28 April 2012 karena saya harus mengikuti kegiatan lain di luar kota. Sungguh pun demikian dari cerita teman-teman yang datang pada acara evaluasi itu ternyata menyiratkan semangat yang luar biasa agar program ini dapat dilanjutkan karena selain besarnya animo para relawan (para profesional dari berbagai bidang), juga karena agar anak-anak Indonesia punya gambaran yang lebih beragam atas cita-cita yang dapat mereka raih kelak. Dan tentu saja tantangan yang luar biasa bagi para profesional untuk menjelaskan profesi/pekerjaan mereka, selain juga untuk ‘membayar apa yang sudah mereka dapatkan selama ini’ pada bangsa ini, pada generasi muda Indonesia !

Dari video pada saat evaluasi berlangsung ini kita kelak dapat mengajarkan bahwa ada banyak cita-cita yang dapat diraih anak-anak Indonesia, dan kita membutuhkan mereka agar ke depan kita punya generasi yang lebih baik dan peduli pada sesama, semoga….:)

Lembang, 08072012

Read Full Post »

Goethe Institut Freiburg, 25 Juni 2009 :

Duduk bersisian mendengarkan alunan indah oboe yang dimainkan salah seorang siswa asal Jepang, dia tampak menikmati musik itu..tapi sejurus kemudian dia berbisik di telingaku,’Sayang, ini lagu apa ya ? Rasanya aku pernah dengar’ aku menjawab,’Se, Cinema Paradiso’ dia tersenyum,’Oh iyaaa…’ tapi tiba-tiba,’Sssstttt !!!’ siswa lain di belakang kami memberi isyarat agar kami diam dan tenang selama pentas musik berlangsung 馃檪

Ennio Morricone dengan jenius telah menciptakan melodi yang indah, yang dialunkan oleh oboe itu hingga kini pun masih membuatku menangis jika mendengarnya…

Ya, film yang diproduksi tahun 1988 ini memang luar biasa…dengan latar belakang Sisilia Italia yang eksotis di tahun 40 hingga 60-an, Giuseppe Tornatore membesut kisah persahabatan yang indah antara seorang anak dengan pemutar film bioskop dimana sang anak belajar tentang kehidupan dari berbagai film yang ditontonnya bersama sang pemutar film, dapat dikatakan dia seperti ayahnya. Mengalami masa-masa remaja yang sulit ketika dia jatuh cinta dengan gadis cantik yang terpaksa meninggalkannya karena pindah ke kota lain, si anak kemudian harus hijah ke negara lain untuk bekerja…hingga kemudian era bioskop kuno itu harus berakhir karena termakan usia dan kalah dengan televisi dan jenis hiburan lainnya, sang pemutar film kemudian juga wafat dimana akhirnya si anak kecil yang dulu suka nonton bisokop akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya, setelah 30 tahun merantau, untuk menyaksikan pemakaman sang pemutar film. Di ujung cerita, ternyata sang pemutar film menyiapkan satu copy film berisi potongan adegan ciuman yang dulu tidak pernah dia diperbolehkan untuk dilihat oleh publik saat film diputar di bioskop karena di awal film memang dilihatkan seorang pastor yang secara rutin akan menyensor setiap adegan tidak pantas dari semua film yang akan diputar. Sungguh, hanya ada cinta dalam setiap adegan itu….seperti syair lagu Se, yang merupakan soundtrack film ini yang dinyanyikan dengan apik oleh Josh Groban.

If you were in my eyes for one day
You could see the full beauty of the joy
I find in your eyes
And it isn鈥檛 magic or loyalty

If you were in my heart for a day
You would have an idea
Of what I feel
When you hold me strongly to you
Heart to heart,
Breathing together

Protagonist of your love
I don鈥檛 know if it鈥檚 magic or loyalty

If you were in my soul for a day
You would know what is inside me
That I fell in love
At that instant, together with you
And what I sense
It鈥檚 only love.

PS. Pertama kali nonton film ini di IALF Surabaya dan pas adegan terakhir kaset video-nya rusak ! Sempat bertanya kesana sini ke beberapa teman yang sudah pernah nonton, tapi pada ngga mau kasih tahu endingnya gimana….kemudian huraaaa, era youtube telah membuatku bisa menyaksikan film ini secara lengkap, thanks to teknologi ! 馃檪

Lembang, 07072012

Read Full Post »

Ada kenangan berkelebat dalam benakku ketika mendengarkan lagu-lagu ciptaan almarhum Elfa Secioria, kenangan akan masa remaja dengan lagu-lagu indah, baik dalam melodi ataupun dalam syair. Yah, beliau memang ‘macan’ festival dunia..selalu membawa pulang piala kemenangan untuk Indonesia di berbagai festival baik sebagai pencipta lagu maupun kelompok paduan suara’ Elfa’s Choir-nya.

Bang Elfa, demikian dia disapa oleh mereka yang selama ini mendapat bimbingannya, telah banyak melambungkan nama para penyanyi Indonesia dan berjaya di festival mancanegara seperti Harvey Malaiholo. Tangan dinginnya juga telah terbukti manjur menghasilkan biduan baru seperti Sherina (dimana albumnya terjual ratusan ribu kopi pada tahun 1999) yang membuat selera musik anak-anak Indonesia membaik, juga karena pada tahun berikutnya diiringi dengan diluncurkannya film Petualangan Sherina (2000) yang diproduseri Mira Lesmana. Sherina yang kini sudah menginjak dewasa sangat menginspirasi anak-anak Indonesia untuk lebih peduli dengan sesama dengan segala aktivitasnya.

Selain itu, ada pula Andien, yang dilambungkan namanya oleh almarhum Elfa ketika dia masih berumur 15 tahun. Seketika banyak anak muda kala itu (sekitar tahun 2002-an) menggemari musik yang kental dengan nuansa jazz ! Suara Andien yang indah telah menjadi langganan ajang pentas musik jazz baik di tanah air seperti Java Jazz Festival dan juga beberapa festival musik jazz di luar negeri. Ada juga Fitra Purnama, penyanyi seriosa yang kini bermukim di Utrecht Belanda, yang pernah menyanyikan lagu dengan indah karya Elfa Secioria pada tahun 2000.

Saat yang menyedihkan adalah ketika akhirnya Elfa Secioria wafat pada tahun 2010, ketika berusia 54 tahun dan meninggalkan 4 orang putra putri yang masih berumur belasan tahun, yang juga kini menjadi pemusik seperti papanya. Untuk mengenang kepergiannya Metro TV akhirnya menayangkan Tribute Untuk Elfa’s Secioria pada tahun 2011, dimana kala itu semua penyanyi yang pernah ‘dibesarkan’ oleh almarhum menyanyikan lagu-lagunya dengan dipandu oleh Hedi Yunus yang juga pernah belajar di akamdemi musik yang diasuh oleh Elfa Secioria. Saat yang mengharukan adalah ketika Andien berhasil menyanyikan lagu perpisahan dengan sangat indah sehingga membuat para hadirin meneteskan airmata.

Tetapi para anak didik Elfa Secioria bertekad untuk meneruskan cara bermusik ala Elfa Secioria meski di kalangan masyarakat Indonesia mungkin belum digemari sebagaimana genre musik lain seperti K-Pop atau group band ala Ungu, Dewa, Padi, dll ! Sungguhpun demikian keberhasilan Elfa’s Singer juga menjadi inspirasi banyak group musik agar dapat mengolah kekompakan suara yang barasal dari vibrasi indah masing-masing personelnya, dan sampai sekarang pun Elfa’s Singer (yang formasi penyanyinya sering berganti-ganti dimana Titi DJ dan Ferina pernah gabung dan kini formasi terakhirnya adalah Yana Yulio, Agus Wisman, Uci Nurul, dan Lita Zein) tetaplah menjadi group vokal yang luar biasa ! Pada acara Tribute Untuk Elfa Secioria itu pun mereka menyanyikan lagu yang ceria nan indah ala almarhum, ya Tetaplah Bersamaku Bang Elfa…semoga engkau tenang di sisiNya kini.

Teropong Bintang Lembang – 07072012

Read Full Post »

I am 132 !

Apa arti kata-kata itu, apa bedanya dengan Arab Spring yang berhasil menjatuhkan Rezim Ben Ali di Tunisia (2010) dan Mobarak di Mesir (2011) ? Ya, inilah gerakan baru (dimulai pada pertengahan Mei 2012) yang telah mendunia menjelang Pemilihan Presiden Mexico 1 Juli 2012 lalu. Gerakan ini adalah sebuah solidaritas para mahasiswa Mexico di banyak universitas, baik di dalam negeri Mexico sendiri seperti Mexico City, Guadalajara, Puebla, Monterrey, dan kota-kota lain maupun kota-kota besar di dunia seperti Berlin, London, Paris, New York, Los Angeles, dll (yang diliput oleh berbagai media besar di dunia) dimana awalnya adalah sebagai reaksi atas ketidakpedulian salah satu calon presiden dari Institutional Revolutionary Party (PRI) yaitu Enrique Pena Nieto yang pernah menjadi Gurbernur Negara Bagian Mexico, yang pada tahun 2006 lalu pernah meminta polisi membubarkan demonstrasi yang berujung pada kematian 2 orang aktivis. Pena Nieto pada tanggal 11 Mei 2012 ketika mengadakan pertemuan besar ditanya oleh sebagian mahasiswa tentang kasus bertahun lalu itu dan dia mengabaikannya, yang kemudian setelah acara tersebut selesai sebanyak 131 mahasiswa yang menghadiri acara tersebut memposting video yang menunjukkan identitas mereka. Dari situlah kemudian gerakan ini dimulai dengan simbol #YoSoy132 yang artinya saya adalah (mahasiswa) ke-132 – yang mengikuti gerakan protes atas ketidakpedulian Pena Nieto pada isu-isu kemanusiaan. Selain itu Pena Nieto juga disinyalir terlibat skandal dalam ‘membeli’ media masa (TV : Televisa) yang sejak bertahun-tahun mengkampanyekan pencitraan sang kandidat presiden ketika dia menjadi gurbernur dan membayar semua proyek pencitraan itu dengan uang negara. Hal inilah yang membuat protes semakin membesar atas pencalonan diri EPN (singkatan dari Enrique Pena Nieto), yang terkesan hanya mengandalkan usia yang masih muda (45 tahun) dan ketampanan wajah (bak bintang telenovela).

Dibanding dengan gerakan pemuda di Tunisia, Mesir atau beberapa negara Arab lainnya dalam kurun waktu setahun terakhir, gerakan ini lebih rapi dalam menggunakan sarana sosial media untuk mendapatkan simpati seluas-luasnya seperti Facebook (https://www.facebook.com/marchaYoSoy132) dengan semboyan : La Verdad Nos Hara Libres (The Truth Will Make Us Free – Keberanan Membuat Kita Bebas) dan juga twitter dengan simbol #YoSoy132 yang berhasil meraih simpati jutaan mahasiswa Mexico yang belajar di dalam negeri maupun di luar negeri, dan tentu saja mereka juga rajin memposting video kampanye dan kegiatan mereka di You Tube :

#YoSoy132 juga terbukti cukup berhasil dimana kelompok anak-anak belasan tahun juga mendukung mereka dengan membentuk #YoSoy133 pada tanggal 8 Juni 2012, yang membuktikan bahwa gerakan ini cukup diterima oleh generasi baru di Mexico. Dalam perjalananya, mereka juga menganalisis beberapa calon presiden yang pada tahun ini berjuang untuk menjadi Presiden Mexico (2012 – 2018, masa jabatan Presiden Mexico adalah 6 tahun dan tidak boleh dipilih lagi untuk periode selanjutnya), dimana selain Pena Nieto (PRI), juga ada Andres Manuel Lopez Obrador (lebih dikenal sebagai AMLO) dari Party of the Democratic Revolution (PRD) yang beraliran kiri, Josefina Vazquez Mota (Nation Action Party atau PAN) dan Gabriel Quadri de la Torre (New Alliance Party). Sebagian besar anggota #YoSoy 132 akhirnya menjatuhkan pilihan pada AMLO (www.AMLO.si) yang pernah berjuang pada pemilihan presiden di tahun 2006 walaupun akhirnya ‘kalah’ dari Felippe Calderon (Presiden Mexico saat ini), dimana kekalahannya pun direkayasa karena USA sebagai tetangga terdekat Mexico belum dapat menerima keberadaan presiden dari kelompok kiri. Dalam setiap perdebatan capres selalu ada sambutan meriah dari para pendukung, sementara #YoSoy132 tetap terus melancarkan berbagai demontrasi menolak EPN. Namun demikian ada juga sebagian anggota yang mengklain bagian dari gerakan ini yang tidak setuju dengan dukungan yang ditujukan ke AMLO, mereka yang tergabung dalam GenerationMX bahkan juga melakukan ancaman pada anggota #YoSoy132 yang tinggal di luar negeri karena mereka menganggap bahwa #YoSoy132 haruslah non-partisan dan hanya menyuarakan gerakan moral tanpa harus mendukung salah satu partai atau calon presiden karena menganggap bahwa semua partai di Mexico sangat korup.

Meskipun hasil final dari pemilihan presiden belum diketahui, tetapi dapat dipastikan bahwa EPN-lah yang menang meskipun dengan selisih suara yang tidak begitu besar dengan AMLO (EPN : 39,10 % ; AMLO : 32,43 % ; Josefina : 26,04% ; Gabriel : 2,36 % sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Mexican_general_election,_2012). Hal ini terjadi karena sosialisasi cara memilih yang masih minim khususnya di kalangan pedesaan, tingkat pendidikan yang masih rendah dan juga karena EPN lebih popular dengan seringnya masuk TV sejak bertahun-tahun lalu.

Jadi, apa pelajaran yang dapat kita ambil sebagai bangsa yang besar dengan tingkat kemajemukan yang mirip dengan Mexico ? Saya bisa katakan bahwa kita bisa belajar banyak dari gerakan ini, bagaimana mereka mengorganisir kaum muda dengan memanfaatkan sosial media, kekompakan dalam menyuarakan misi mereka, bahkan mereka membuat berbagai video yang di-up load di You Tube agar seluruh dunia tahu bahwa mereka peduli. Dengan masih adanya kekurangan di sana sini karena hampir semuanya adalah tenaga sukarela, mereka tetap bertekad untuk memperjuangkan misi mereka untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik di Mexico. Walaupun saat ini mereka dapat dikatakan ‘kalah’ oleh keadaan, mereka justru menilai inilah saat yang tepat untuk membangun negaranya kembali di tengah kekacauan yang membuat hampir 500.000 orang tewas sejak Calderon menyatakan perang pada kelompok kartel obat bius.

Indonesia belum sampai mengalami parahnya perdagangan narkoba seperti di Mexico, tetapi jika kita tidak bergerak segera atau justru malah apatis dengan keadaan yang kita anggap sangat parah dalam hal korupsi, intoleransi, dan masalah sosial lainnya, maka Indonesia akan berada dalam bahaya besar. Jadi, mari kita bahu membahu berperan serta dalam memperbaiki kondisi negara kita di bidang masing-masing, karena akan ada masanya nanti jika memang diperlukan kita harus bergerak bersama ! Para anggota komunitas yang concern pada masalah sosial dan urban, serikat buruh dan para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang tinggal di luar negeri yang tergabung dalam PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) punya peran besar dalam menyuarakan kepentingan masyarakat yang memang sudah dilakukan selama ini. Selain itu juga ada聽 Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) yang pastinya juga punya peran besar dalam membangun negeri ini, termasuk juga berbagai komunitas anak muda di Indonesia yang sejauh ini juga bergerak di ranah non politis mudah-mudahan akan terus bergerak untuk saling peduli dengan kondisi bangsa kita tercinta, karena potensi Indonesia memang sangat luar biasa. Sayang banget kan kalau nasib bangsa ini jatuh di tangan partai yang korup dan pejabat publik yang tidak becus dalam menjalankan amanah ?

Terakhir, status seorang Octavio Gonzales Segovia di laman Facebook-nya dalam menyikapi kondisi mereka saat ini yang menyiratkan harapan dan rasa optimis bagi bangsanya, dimana dia dan kawan-kawannya akan segera memulai untuk berjuang dalam mempersiapkan Pemilihan Presiden tahun 2018 :

隆M茅xico ya despert贸! 隆Lleg贸 la hora de ser mejores, de dar m谩s de nosotros, de erradicar la corrupci贸n y la apat铆a, de leer m谩s y ver menos televisi贸n, pero sobre todo, de empezar a pensar en el otro! 隆隆隆隆隆Libremos una verdadera revoluci贸n de las conciencias!!!!!! (Mexico already woke up! It is time to be better, to most of us, eradicate corruption and apathy, read more and watch less TV, but above all, to start thinking about the other! We rid a revolution of conscience!!!!!!)

Bagaimana dengan generasi muda Indonesia ? Semoga generasi muda Indonesia bukanlah generasi penonton dan apatis dalm situasi saat ini, saatnya kita bergerak bersama dan mulai lebih peduli dengan lingkungan sekitar kita.
Lembang, 07072012

Read Full Post »