Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli 8th, 2012

Pendidikan adalah sarana untuk membentuk berkarakter dan integritas (Anies Baswedan)

Ya, salah satu motivasi saya mengikuti Kelas Inspirasi yang diselenggarakan dan merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar ini adalah membayar apa yang sudah dapat selama berpuluh tahun mengasah diri melalui bangku sekolah (dan juga kuliah) baik di dalam dan di luar negeri yang pernah saya dapat, dengan cara yang hampir dikatakan mudah. Tanpa melalui kesulitan yang berarti karena saya dapat sekolah di SD dan SMP (Margomulyo I Ngawi dan SMP Negeri 2 Ngawi) yang merupakan sekolah terbaik pada jaman itu di kota kecil kami. Selain itu saya juga dapat melalui masa SMA (Al-Islam 1 Surakarta) meski swasta tetapi itu memang pilihan terbaik buat saya karena saya dapat belajar dan memahami agama dengan lebih baik, dan juga kuliah di Universitas Airlangga Surabaya karena lolos test UMPTN. Jadi, boleh dikatakan apa yang telah saya tempuh sejauh ini adalah paduan dari nasib baik, kerja keras dan juga tekad untuk maju karena saya telah memutuskan untuk sekolah yang jauh dari kampung halaman sejak saya berumur 15 tahun. Dan kiranya apa yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Mengajar (termasuk program Kelas Inspirasi di salamnya) ini adalah untuk memberikan kesempatan pada mereka seperti halnya saya untuk memberikan dan membagi pengalaman yang telah kita dapatkan selama ini.

Dan ketika akhirnya saya terpilih menjadi salah satu guru di Kelas Inspirasi, saya sangat bahagia dan bangga, karena dengan demikian saya diberikan kesempatan untuk lebih mengenal secara dekat apa yang telah terjadi di salah satu SD yang terpilih dalam program Kelas Inspirasi di Wilayah DKI Jakarta. Dan ketika itulah, saat jam sudah menunjukkan pukul 05.30 dan taxi yang membawaku sudah mulai memasuki daerah Tanjung Priok, saya sampaikan ke bapak sopir kalo saya akan mencari tempat berkumpul dengan teman-teman lain di Telkom Tanjung Priok. Setelah bertemu teman-teman sesama guru Kelas Inspirasi (Michael, Agus dan Benny…sementara yang lain – Marsya dan Ya Asurandi, serta Nisa dan Sarah yang merupakan volunteer dari Gerakan Indonesia Mengajar berangkat sendiri dan bertemu di lokasi sekolah) dan mempersiapkan foto-foto anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang akan saya ceritakan ke anak-anak SD Tanjung Priok 01 Pagi tempat saya mengajar, kami meluncur ke sekolah itu yang ternyata memang letaknya di gang yang sempit (seperti kata Michael yang melakukan survey dua hari sebelumnya).

Bertemu dengan guru-guru sekolah SDN tempat kami akan mengajar nantinya di ruangan guru yang sempit, kami mendapatkan sedikit arahan bagaimana karakter anak-anak di SD tersebut (meski dalam pembelakan yang diberikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar tanggal 14 April sebelumnya kami juag sudah diberitahu bagaimana karakter anak-anak SD jaman sekarang) ; bahwa anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar, mereka akan bertanya tentang hal-hal yang kadang tidak kita duga, mereka bisa sangat agresif atau sebaliknya bisa bosan kalo penjelasan kita tidak memuaskan mereka. Ya, tentu saja saya akan selalu mengingat isi sms dari Berlin itu, yang telah memotivasi saya untuk melakukan yang terbaik dan menjadi diri sendiri dalam mengajar anak-anak.

Diawali dengan pembagian kelas, akhirnya saya memberanikan diri untuk melewati ujian pertama pada hari itu dengan mengajar di Kelas 1 ! Dan saat saya mulai mengucap salam, tersenyum manis pada anak-anak itu, rasanya semua keraguan akan kemampuan saya menjadi hilang. Dengan percaya diri saya menjelaskan nama dan profesi saya yang kemudian saya lanjutkan dengan melontarkan pertanyaan sederhana kepada anak-anak yang dengan antusias mendengarkan saya, meski ada juga yang sepertinya tidak perhatian (setelah saya dekati bangkunya, ternyata dia makan mie instan karena lapar belum sarapan !), tetapi saya coba mengerti keadaan anak-anak itu sebaik mungkin sambil bertanya, siapa yang pengin tahu daerah-daerah di Indonesia ? Tentu saja banyak diantara mereka yang mengangkat tangan sambil mengacungkan tangan ! Ahh, betapa indahnya diperhatikan seperti itu 🙂 Saya memakai metode ini karena ingin menunjukkan bahwa sebagai konsultan untuk perbaikan birokrasi pemerintah saya memang sering bepergian sehingga bisa berfoto dengan anak-anak dari berbagai penjuru negeri. Sementara itu teman-teman saya yang lain yang berprofesi sebagai desainer, investo keuangan, manajer portofolio, kontraktor kapal, dan ahli energi punya metode sendiri-sendiri yang sebisa mungkin penjelasannya dapat dimengerti anak-anak SD 🙂

Saya membawa alat peraga berupa peta Indonesia dan juga post it (kecil, berwarna-warni) yang saya pakai untuk membuat anak-anak menempalkan nama-nama daerah di peta (sebagai tanda) karena foto-foto saya bersama-sama dengan anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia akan menjadi referensi dimana letaknya daerah tersebut di peta Indonesia yang saya tempel di papan tulis di depas kelas. Begitulah permainan dimulai, saya menunjukkan foto (yang saya tunjukkan dari laptop saya) kemudian saya minta mereka menebak saya dimana (tentu dengan latar belakang yang mungkin mereka tahu, plus wajah anak-anak dalam foto, dari Indonesia bagian manakah ?), setelah saya jelaskan mereka akan saya minta untuk menempelkan dimana letak daerah itu dan ditandai dengan post it yang akan ditempel di peta Indonesia. Permainan sederhana itu akhirnya membuat anak-anak tahu, dimana letak Aceh, Sumatra Barat, Jakarta, Surabaya, Flores, Halmahera Utara, Banjarmasin, dll. Kalau agak bosan (karena saya harus mengajar selama 1 jam), saya akan ajak mereka menyanyi…dan tentu saja akan terdengar di ruang sebelah (begitu pula sebaliknya) karena memang sekolah ini sangat kecil dimana kelas saling berdempetan, dan tidak punya halaman untuk bermain (hanya ada sepetak kecil tempat bermain di belakang yang dibatasi tembok dan di balik tembok ada sungai, jika main bola dan bola melambung ke luar tembok, maka selesailah sudah permainan itu!), gerbang depan mepet dengan gang sempai yang penuh dengan penjaja makanan (dan tentu saja yang dapat lewat di gang ini hanya sepeda dan motor), selain itu mereka juga tidak punya perpustakaan – buku-buku yang dimiliki hanya disimpan di almari di lorong sekolah yang dipakai untuk dua sekolah (di siang hari dipakai oleh SDN Tanjung Priok 01 Petang), jika ada yang meminjam barulah buku akan dikeluarkan dan diberikan ke siswa yang membutuhkan.

Metode mengajar yang saya gunakan sama dengan mengajar di kelas-kelas lain, dimana setelah saya mengajar di Kelas 1, saya berturut-turut mengajar di Kelas 6, Kelas 4 dan Kelas 2. Kami masing-masing harus mengajar hingga empat kelas karena memang kami para guru Kelas Inspirasi hanya 6 orang (tidak seperti kelompok lain yang mengajar SD di lokasi lain yang jumlahnya rata-rata 8 orang sehingga masing-masing guru mungkin hanya mengajar 2 kelas selama kegiatan Kelas Inspirasi berlangsung (dimulai jam 7 – 12 siang). Di Kelas 4 dan Kelas 6, selain saya menjelaskan kondisi Indonesia dan kekayaan budayanya (dimana saya juga membawa berbagai jenis kain tenun dengan berbagai motif yang berasal dari Flores, Sumatra Barat, Palembang, dll), menanyakan cita-cita masing-masing anak dan mendiskusikan alasannya, saya juga melakukan metode yang sama dengan menunjukkan foto-foto berbagai ikon kota-kota di Eropa seperti Eifel di Paris, Colloseum di Roma atau Branderburg Tor di Berlin (karena saya pernah sekolah di Jerman dan sempat keliling hampir 15 negara di daratan Eropa plus Istambul Turki) dan meminta mereka untuk menandai lokasi foto-foto tersebut di peta dunia yang juga saya bawa. Hebatnya anak-anak SD Kelas 4 itu sudah pada tahu loohh, jadi jangan kita remehkan kemampuan dan daya ingat anak-anak, asalkan kita memberikan input dan informasi yang positif 🙂

Hari itu acara ditutup dengan makan siang bersama plus pemberian piagam penghargaan dari Indonesia Mengajar kepada Kepala Sekolah SDN Tanjung Priok 01 Pagi, kemudian juga foto bersama dengan para guru (dengan anak-anak sudah diambil fotonya saat kami mengajar di kelas hehe…). Dalam suasana siang yang kian terik, beberapa anak sempat meminta nomor telepon kami para guru yang mengajar mereka, dan suasana makin hiruk pikuk karena memang sejak pukul 12 siang para siswa dari SDN Tangjung Priok 01 Petang sudah mulai berdatangan, sehingga kami semua termasuk para guru dan anak-anak SDN Tanjung Priok 01 Pagi harus bergegas pulang karena gedung akan mulai dipakai untuk sekolah yang petang !

Dalam perjalanan pulang, kebetulan sebagian besar dari kami berada dalam satu kendaraan menuju arah Kuningan sehingga kami bisa saling bercerita tentang pengalaman mengajar yang baru saja kami lakukan plus sharing bagaimana kadang kami sangat kerepotan dengan suasana kelas yang kadang kacau balau karena mereka ngga sabar dan rebutan untuk menjawab pertanyaan kami, bahkan ada yang menangis karena dinakalin oleh teman-teman sekelasnya, hingga suara serak karena kami harus bersaing mengalahkan suara ribut anak-anak dan juga karena kami ngga mau kalah dengan kelas lain yang tentu saja terdengar dari kelas tempat kami mengajar ! Sungguh, pengalaman yang luar biasa ini tidak dapat dibeli, ada rasa rindu kala mengenang hari itu, 25 April 2012, ketika untuk sehari kami harus membaur dengan kondisi sekolah yang bersahaja, dan juga menjadi sangat menghargai peran dan arti guru kala kami dulu saat masih sekolah juga sering bikin ribut dan mungkin juga membuat pusing para guru.

Evaluasi yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Mengajar berupa mengisi form sebagai refleksi kegiatan kami selama sehari itu membuatku berusaha untuk sebaik mungkin memberikan gambaran tentang kondisi sekolah, anak-anak SD dan para guru, sehingga dapat dijadikan masukan untuk Program Kelas Inspirasi selanjutnya. Sayangnya saya tidak dapat hadir saat dilakukan evaluasi bersama dengan Tim Indonesia Mengajar pada tanggal 28 April 2012 karena saya harus mengikuti kegiatan lain di luar kota. Sungguh pun demikian dari cerita teman-teman yang datang pada acara evaluasi itu ternyata menyiratkan semangat yang luar biasa agar program ini dapat dilanjutkan karena selain besarnya animo para relawan (para profesional dari berbagai bidang), juga karena agar anak-anak Indonesia punya gambaran yang lebih beragam atas cita-cita yang dapat mereka raih kelak. Dan tentu saja tantangan yang luar biasa bagi para profesional untuk menjelaskan profesi/pekerjaan mereka, selain juga untuk ‘membayar apa yang sudah mereka dapatkan selama ini’ pada bangsa ini, pada generasi muda Indonesia !

Dari video pada saat evaluasi berlangsung ini kita kelak dapat mengajarkan bahwa ada banyak cita-cita yang dapat diraih anak-anak Indonesia, dan kita membutuhkan mereka agar ke depan kita punya generasi yang lebih baik dan peduli pada sesama, semoga….:)

Lembang, 08072012

Iklan

Read Full Post »