Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2015

Apakah arti hujan bagimu ?

Berbagai berita bersliweran, hujan yang mengguyur Jabodetabek akan menyebabkan banjir hari ini, nah !

Berita di Metronews.com

Hujan yang mengguyur Depok dari semalam hingga pagi ini yang semakin menderas mengingatkanku pada pelbagai peristiwa seputar hujan di masa-masa sebelum hari ini… Ah ya, tentu banyak pula kenangan akan hujan, yang tentu tak akan terlupa, kisah sedih, romantis bahkan juga kisah persahabatan yang tak lekang oleh waktu pun kadang terangkai karena hujan, ahayy 🙂

Sekian bulan telah berlalu kala September menyapa hari, selaksa musim gugur yang indah dan kemudian berganti musim dingin seranai hujan yang menyapa hari-hari di awal tahun ini… Aku masih ingat kala bertemu teman baik di Freiburg dulu di kala hujan di siang bolong pada musim panas, angin yang bertiup kencang membuat payung kecil yang kubawa kebalik ke atas dan spontan temanku memelukku untuk berdua berjalan di bawah payung besarnya sambil bercakap-cakap tentang sepeda dan kekesalan yang dirasakannya setelah pindah rumah di Konstanz plus bayar tagihan yang hampir 100 Euro hanya gara-gara dia tak paham perjanjian dalam bahasa Jerman ! Oh…sungguh kasihan 😦 Tapiii….ada kalanya hujan menjadikan kami tertawa bersama kala bersama-sama sambil menertawakan kebodohan kami atas perjuangan meenmbus hujan di Berlin menuju Olympia Stadion untuk menonton pertunjukan seni tapi tak tahunya adalah pertunjukan sekte tertentu yang entah apa namanya hingga menarik hati banyak orang karena didatangi oleh komunitasnya dari berbagai penjuru dunia datang ke Jerman ! Walaaahhh….itu adalah kenangan tak terlupa setelah pertengkaran di loket karcis plus mengejar kereta yang membuat kami hampir tertinggal dan pintu S-Bahn mapir membuatku terluka, kekonyoloan yang entah kapan akan terulang lagi ;P

Hujan juga membuatku terus mengenang saat kebersamaan dengan suamiku, yang dulu saat belum menikah kami bermotor menembus hujan dari Depok menuju Jakarta plus ban motor bocor hingga harus nunggu di tukang tambal ban dalam keadaan kedinginan karena lupa belum membeli mantel hujan ! Atau saat kami sudah menikah, suamiku menjemputku di Halte Ragunan, nekad menembus hujan setelah pulang kantor karena kami berpikir kalo nunggu hujan reda pastilah jalanan macet dan akan lebih lama lagi pulang ke rumah 🙂 Ahhh, hujan memang kadang menguatkan ikatan sekaligus menganyam kenangan yang kelak mungkin tak akan pernah terlupa….

Musim memang terus berganti, seperti halnya saat usia berganti kala aku melewati usia 40 dan sudah berada dalam ikatan pernikahan, sama halnya saat meniup lilin di malam hari kala pergantian usia yang semakin mengurangi jatah kita hidup di dunia, bersama suami yang kini saat kutulis cerita ini sedang tidur nyenyak di sampingku 😉 Dan perjalanan hidup setelah melewati usia 40 tahun itu, kadang juga ditingkahi oleh hujanan pekerjaan, berkeliling Jawa dan Bali lagi seperti dulu, menembus pelbagai aspek kehidupan mereka yang mempunyai tekad untuk menjadi pengusaha kayu tanpa surut oleh berbagai masalah yang melingkupinya. Hari-hari yang penuh hujan juga membuatku tak gentar untuk menikmati hari-hari indah di Bali, Semarang, Wonosobo, Jogja, Solo dan Bandung berdua suami yang kadang ikutan bekerja bersama di kala libur sambil bekerja di luar kota bahkan kala menjelang akhir tahun yang kadang penerbangan padat di tengah cuaca yang tidak menentu. Hujan pula yang telah menguatkan tekad untuk menikmati hidup apa adanya seperti juga kala menembus belantara lokasi outbond milik salah satu teman di Ciapus yang setelah menikmati air terjun indahnya aku terpeleset jatuh dengan celana penuh lumpur toh akhirnya kami tertawa juga, hahaha….. Memakai sarung sepanjang perjalanan pulang menembus Bogor yang diguyur hujan deras, yang memang tak bisa dipungkiri pastinya akan membuat Jakarta yang posisinya rendah mengalami banjir karena derasnya hujan di dataran yang lebih tinggi.

Ah, tapi hujan juga membuat kita menikmati hari-hari indah bukan ? Karena cuacanya mendukung untuk tiduran dan bermalasan kala akhir minggu menyapa. Tapi, kadang aku tetap merasa bersalah kala hujan datang menderas begini, apa yang harus dilakukan oleh mereka yang tak berpunya rumah yang layak untuk dihuni, yang berada di bantaran kali dan harus bekerja setiap hari ? Namun aku yakin, Tuhan akan selalu menjaga mereka, para ummatnya yang papa…dan kita yang telah berpunya seyogyanya juga mengasihi dan tidak melupakan mereka.

Mampang – Depok, 09022015

Iklan

Read Full Post »