Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2018

Foto kami berdua ini berlokasi di Dusun Sentolo Kab. Kulon Progo (DIY), diambil saat libur Hari Natal tahun 2014 dalam suasana cerah bersepeda pagi-pagi bersama Mas Towil, pemilik sepeda kuno berjumlah ratusan yang mengembangkan usaha bersepeda di pedesaan yang notabene adalah di sekitar tempat tinggalnya dengan pemandangan sawah, sungai, rel kereta api dengan latar belakang Perbukitan Menoreh di sebelah barat. Pelanggannya mayoritas adalah para turis mancanegara dari berbagai negara yang ingin mengenal pedesaan di Jawa lengkap dengan kebiasaan masyarakatnya bertani, berkebun, beternak, membuat tempe, kerajinan dll, dan kini pun disediakan kostum ala Jawa ; bekebaya (bagi perempuan) dan berblangkon (bagi laki-laki) yang tentu saja instagramable ! Ah, betapa menyenangkannya punya usaha begitu…bermodal hobi dan kecintaan pada desa tempat kita tinggal maka dengan kreativitas, terciptalah profesi pemandu wisata yang tentu saja dilakukan dengan penuh dedikasi plus berbagi dengan masyarakat sekitar yang dengan senang hati akan membantu menunjukkan kehidupan wajar pedesaan sambil mengambangkan persahabatan dengan mereka para penikmat sepeda dari berbagai negara.

Tidakkah aku pengen punya mimpi seperti itu ? Ya tentu saja pengen bangeeet, tidak harus mencontoh dengan membuat usaha jalan-jalan sambil bersepeda tetapi mengembangkan hobi dan keahlian menjadi sebuah profesi yang unik dan tentu saja mendapatkan penghasilan dari kegiatan itu ! Dan Jogja adalah wilayah yang dari dulu kuimpikan untuk kutinggali, entah kenapa selalu ada magnet untuk kesana, ada kekangenan khusus ketika mendengar kata ‘Jogja’. Banyak hal yang ingin kulakukan di Jogja, sejak dulu…dan perjalanan sekian puluh tahun (dari sejak tahun 1993, dengan beberapa kali selama beberapa bulan tinggal di Jogja untuk bekerja untuk orang/lembaga lain) hingga kini tinggal di Depok Jabar yang butuh perjalanan enam hingga sembilan jam jika naik kereta rasanya sudah cukup untuk meneguhkan kembali mimpi tinggal dan punya usaha di Jogja. Keinginan yang digaungkan ibarat mantra, meski belum spesifik apa yang akan kami lakukan disana, tetapi semua rencana sudah berputar di kepala, tentu saja dengan memanfaatkan berbagai jaringan yang telah dibangun selama ini. Duluuuu aku pernah meninggalkan pekerjaan di Surabaya untuk memulai sesuatu yang baru di Jogja, setelah sekian bulan karena berbagai alasan akhirnya diminta kembali ke Surabaya hingga awal 2009, setelah merantau hampir tiga tahun di Jerman, pulang ke Indonesia tetapi ingin mencari pengalaman baru hidup di Jabodetabek dan akhirnya kesampaian hingga enam tahun dan kini saatnya mulai pelan-pelan mewujudkan mimpi yang dulu ituuu ketika situasi sudah semakin kondusif, modal mimpi pun tak sekedar mimpi. Tinggal berani ngga mewujudkan, atau mesti menunggu sekian tahun lagi ketika kita sudah malas untuk berubah sementara usia semakin bertambah ?

Tentu saja tidak mudah mewujudkan mimpi. Hidup berdua plus delapan ekor kucing yang menjadi tanggungan nyawa tentu harus dipertimbangkan, mencari lahan yang tepat plus usaha yang unik adalah tantangan yang kini mesti dijalani, tetapi dengan semangat mandiri, dengan tetap menempatkan kualitas kehidupan yang lebih baik akan menuntun kami mendapatkan sesuatu yang kami impikan. Jadi, bismillah, diniatkan untuk beribadah dan berbagi rejeki pada orang lain plus makhluk lain, kami akan kembali ke Jogja, biar bisa menikmati jalan-jalan bersepeda santai di pedesaan seperti dulu, biar bisa gampang pulang ke Ngawi (cuma 4 perjalanan) dan kalaupun ingin ke mertua di Depok pun ngga begitu jauh dibanding jika sekarang kami tinggal di Depok dan rasanya jauh kalau ingin pulang ke Ngawi hehehe…Dan satu lagi, membangun dari desa adalah impian yang tidak pernah padam !

Doakan kami ya 🙂

DGC, 27072018

Iklan

Read Full Post »