Feeds:
Pos
Komentar

Bencana Menjelang Pemilu 2014

Foto menarik kondisi banjir dan salah satu Caleg Pemilu 2014 – Sumber : http://www.kabar24.com/images-data/photos

Ketawa lihat foto ini ? Begitulah kenyataannya, poster-poster bertebaran di sekitar wumah warga yang dikepung banjir di Jakarta ! Apakah mereka para caleg itu sudah menengok wilayah yang menjadi konstituennya ? Semoga saja begitu, jangan sampai rakyat cuma dijadikan tempat mendulang suara tanpa ada ungkapan dan bantuan tulus dari para caleg yang sesungguhnya minta tolong untuk dipilih lagi ! Kadang kita jadi berpikir, sebenarnya siapa yang patut ditolong, masyarakatkah yang kena musibah atau para caleg yang seolah mengemis agar kita mau mencoblos namanya di lembar kertas Pemilu tanggal 9 April kelak ? Bahkan ada kasus yang terjadi kala salah seorang caleg memanfaatkan bantuan gratis dari salah satu kementerian yang secara reguler diberikan kepada mereka yang membutuhkan diklaim dan ditempeli stiker seolah hal itu adalah jasa si caleg, haduuuhhh sebegitunya untuk minta-minta dipilih lagi hingga memanfaatkan fasilitas negara 😉

Musibah bencana alam di Indonesia menjelang Pemilu 2014 ini memang akhirnya mewarnai pemberitaan yang meluas tidak hanya di media massa tapi juga di jagat sosial media. Sebut saja Ibu Negara kita yang gemar berfoto ria (tidak masalah soal itu), tapi kesewotan beliau saat menjawab pertanyaan para pengingutnya mungkin membuat kita berpikir ulang juga…apakah nanti kalo memilih presiden baru harus dipertimbangkan juga siapa calon ibu negara ? Hehehe, masyarakat sudah dewasa, media sosial terus merebak seiring bebasnya para pengguna media sosial menampilkan profil, pandangan atau opininya bahkan komentar-komentarnya. Kadang begitu pedas, kadang begitu seru…tetapi sesungguhnya apakah semua perdebatan semua itu akan membuat cara berpikir kita berubah, apakah opini-opini yang beredar serta merta membuat kita belajar alih-alih justru sakit hati dan marah ? Semua kembali ke diri masing-masinglah 🙂

Yang jelas, apapun peran kita dalam menanggulangi musibah dengan beraneka peran yang akan kita ambil sangatlah personal atau bahkan juga komunal mengingat korban sudah begitu banyak. Ini adalah peringatan bagi kita atas kelalaian menjaga alam semesta yang diberikan Tuhan kepada Indonesia : tata kota yang buruk, penebangan pohon liar, bukin-bukit yang marak dengan pembangunan vila mewah, buang sampah sembarangan dan beraneka perilaku yang merusak membuat alam berteriak seiring dengan derasnya hujan yang merajai kawasan pantai utara Jawa hingga pegunungan di Jawa Barat bahkan hingga Sulawesi Utara yang membuat Manado terkena banjir bandang plus membesarnya beberapa aliran sungai di kawasan Sumatera Selatan, Jambi dan Lampung. Akibatnya sudah kita saksikan sendiri…dan semoga kejadian semacam ini ditindaklanjuti dengan pengaturan pembangunan yang lebih baik lagi, tidak sekedar gembar-gembor saat banjir tiba, tapi harus dilanjutkan saat musim kemarau hingga tuntas !

Musibah dan bencana alam yang sangat meluluhlantakkan segala harta benda di seantero Indonesia akhir-kahir ini sebenarnya dimulai dari letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara sekitar empat bulan lalu. Dengan jumlah pengungsi yang telah mencapai 28.000 jiwa yang sungguh memilukan kondisinya: anak-anak bersekolah dengan berdesakan yang menyebar di beberapa sekolah, tenda-tenda pengungsi yang terkadang kurang layak, juga perhatian pemerintah yang masih kurang….ah, tapi dengan kedatangan Pak Presiden yang diharapkan rakyatnya itu semoga mampu menghibur hati. Seperti anak-anak yang mengalami nasib buruk hendaknya para orang tualah yang merangkulnya dan memberikan dukungan moril, itu sudah luar biasa….tapi mengapa empat bulan setelah musibah terjadi beliau baru berkunjung ke Karo ? Hmmmm siapa yang mampu menjawab ini, belum lagi soal kontroversi harga tenda yang akan didiami dan setelah itu akan memgurusi konvensi capres dari partai yang dicintainya itu ? Wallahu’alam

Korban letusan Gunung Sinabung – Sumber : http://www.liniberita.com/wp-content/uploads-RASYID

Berbagai bantuan telah disalurkan, kekompakan warga sangat terasa kini ketika musibah datang, kita harus berbangga karenanya karena Indonesia masih memiliki rasa persatuan 🙂 Tapi Pemilu sudah menjelang, berbagai hiruk pikuk analisis bersliweran dan bencana yang tidak kita inginkan ini tiba-tiba menjadi ajang unjuk gigi mereka yang ingin dipilih, baik sebagai anggota legislatif maupun sebagai presiden dan wakil presiden. Mereka berlomba dengan waktu seiring mungkin dengan surutnya banjir yang mungkin baru akan terjadi beberapa minggu ke depan.

Apapun itu, kita memang harus berhati-hati dengan setiap perilaku yang kita perbuat. Merasa tetap optimis di tengah perayaan Tahun Baru 2014 lalu dengan segala gegap gempitanya seolah hilang dengan munculnya berbagai bencana akibat perbuatan kita sendiri yang lalai menjaga alam. Hidup akan terus berjalan, masyarakat Indonesia haruslah kuat dan kelak kita harus yakin dalam memilih pemimpin baru yang tepat, bukan mereka yang sok jagoan dan banyak omong, tapi mereka yang benar-benar bekerja. Apresiasi atas kinerja para calon memimpin kita harus dinilai obyektif agar kelak kita tidak harus menanggung sesal yang berkepanjangan.

Opmitislah bangsaku, kita mesti bersatu padu melewati semua yang harus kita hadapi, baik dalam suka dan duka !

Cikatomas, 23012014

Iklan

Best things in my life… :)

Ada banyak hal yang tak terduga dalam hidup ini, bahkan mungkin hal-hal yang kecil yang sebenarnya sering kita lakukan sehari-hari, tanpa sengaja… Lihatlah video keren ini :

Betapa ternyata kehidupan dan hidup kita pun banyak berpengaruh pada hidup orang lain, sadarkah kita ? Seringkah kita bertanya, apa yang sudah kita lakukan pada dunia dan sesama yang membuat kehidupan menjadi lebih baik, atau justru tidak pernahkah kita menanyakan hal-hal semacam itu pada diri kita sendiri ? 🙂

Ah, delapan bulan telah berlalu sejak aku posting tulisan yang terakhir…bahkan tentang petualangan beberapa hari di Palopo tentang Prosesi Adat Pemakaman Datuk Luwuk XXXIX pun ternyata menarik perhatian sebagian pengelola majalah untuk menerbitkannya, senang sekali 😀 Persahabatan pun jadi berkembang dengan lebih banyak orang yang ternyata mempunyai kontribusi besar pada kehidupan, mereka melestarikan adat budaya dan sejarah, membagi pengetahuan, menginspirasi banyak orang dan sebagainya. Pun kegiatan yang kami lakukan dengan The Adventure Documentary Festival (ADF) yang ternyata bergulir dengan serunya meskipun sponsor yang kami dapatkan sangat sedikit, hingga Kak Nana dan diriku yang menggagas proyek ini pun mesti habis-habisan mengerahkan dana yang tidak sedikit. Beberapa kedutaan atau pusat kebudayaan seperti Belanda (mendanai kedatangan komikus terkenal Peter van Dongen untuk menyelenggarakan workshop komik di Erasmus Huis), USA (mendatangkan Joe Harris, pembuat film dokumenter terkenal yang mengadakan workshop film di @usa Jakarta), Italia (mendanai fotografer sekelas National Geographic) atau Perancis juga membantu kami, tapi sangat terbatas, sehingga suka duka perjalanan atas kegiatan kami yang sebenarnya sudah didukung secara lisan dan pengantar untuk para sponsor oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun tetap kami jalani dengan riang hati 🙂 Lambat laun beberapa pihak yang tertarik dengan kegiatan kami seperti ESEMKA (mobil nasional dari Solo yang pernah dipopulerkan oleh Jokowi semasa beliau masih menjabat sebagai Walikota Solo) dan juga B-Channel serta GIA mulai melirik kegiatan kami yang mengajak lima Brand Ambassador (Bucek Depp, Nadine dan Marchel Candrawinata, Riani Djangkaru, dan Zivanna Leitissa) dengan mensponsori proses pendokumentasian cagar alam dan budaya di seluruh Indonesia melalui film, komik, animasi dan foto, alhamdulillah ! Idealisme memang membutuhkan pengorbanan dan kami senang melakukannya karena kami tidak mau menyesal jika suatu saat sudah tua nanti kami melewatkan hari-hari yang penuh energi tanpa melakukan semua keinginan ini. Bagaimana dengan Anda ? 🙂

Wokshop Komik ADF bersama Peter van Dongen (Belanda) di Erasmus Huis Jakarta

Wokshop Komik ADF bersama Peter van Dongen (Belanda) di Erasmus Huis Jakarta

Tapi persahabatan memang segalanya, bahkan juga hal itu berlaku pada kami yang mantan DJ Radio PPI Dunia yang punya jadwal siaran radio rutin seminggu sekali kala kami masih sama-sama bersekolah di berbagai negara. Aku yang sempat siaran di Freiburg dan Osnabrueck selama periode Mei 2009 – Juli 2011 yang kadang bela-belain bangun tengah malam karena mau siaran, atau terpaksa mengalihkan pada DJ lain kala internet ngadat, dsb membangun kenangan dan agenda bersama setelah kami di Indonesia. Dan pertemuan di UI bulan Maret lalu sungguh kenangan yang indah karena di radio internet-lah kami bertemu dan berkumpul tanpa bertemu muka, tapi akhirnya satu dua kali bertemu jua sejak tahun 2012 lalu kala ulang tahun Radio PPI Dunia berlangsung, selalu berusaha bertemu setiap tahun dan berhaha-hihi bersama disertai tukar informasi dan pengalaman khususnya dalam mendapatkan beasiswa, sesuatu yang kami pertahankan meski kami sudah jarang siaran lagi ! 😀

Reuni Radio PPI Dunia di UI - Maret 2013

Reuni Para DJ Radio PPI Dunia di UI – Maret 2013

Bulan-bulan yang padat dengan berbagai pekerjaan, terjun lagi untuk menangani isu keterbukaan informasi publik, serta berbagai hal menyangkut pembangunan kepariwisataan sungguh membuat hari-hariku sangat padat dan menyenangkan. Suka duka mengonsep naskah membuat peraturan menteri, berbagai diskusi yang dilakukan diselingi kunjungan teman-teman Brazil dan mengantar Camila dan Bruno keliling Bandung (termasuk menikmati berendam air panas di Ciater dan menginap di Lembang), Jogja (keliling keraton, Malioboro, juga berhujan-hujan saat berkunjung ke Borobudur), serta keliling Kota Surabaya seharian sebelum menikmati keindahan Bromo (dengan menumpang kuda setelah menuruni tempat meilhat matahari terbit untuk melewati lautan pasir menuju kawah yang berasap belerang itu) membuatku sungguh merasa bangga karena dapat menunjukkan keindahan Indonesia pada mereka yang jauh-jauh terbang dari Jerman dan Brazil ! Dan tebak, ternyata banyak teman-teman kami yang antri untuk mengunjungi Indonesia loohh, mulai teman-teman dari Colombia, lagi-lagi Brazil dan juga negara-negara lain 😀

Bersama Camila dan Bruno di Gunung Bromo

Bersama Camila dan Bruno di Gunung Bromo

Bahkan saat Bulan Ramadhan yang membuatku dan juga keluarga teringat pada almarhumah Ibu, kami tak ragu untuk tetap ceria, walaupun kadang dalam cerita-cerita yang kami bicarakan, menangis juga jika mengenang Ibu yang selalu ada di hati kami. Hari-hari yang berlalu selama setahun ini sungguh membuat kami makin tegar dan berusaha untuk mengisi hidup lebih bermakna, makin menyayangi Bapak dan juga menyemangati saudara-saudara lain yang tentu saja membuat kami lebih berarti sama halnya kala kami sangat menikmari keceriaan para krucil (yang sekarang jumlahnya sudah enam !) yang mulai sering berkicau dan bertingkah meski kadang menjengkelkan ! Hehe….ketika lebaran pun yang jatuh pada hari ulang tahun Bapak ke-68 membuat kami lebih mencintai keluarga, termasuk selama seminggu ngga berhenti masak karena keluarga besar datang setelah lebaran, dan karena mengadakan pengajian setahun meninggalnya Ibu, sekaligus menyiapkan rumah agar menampung sekian puluh anggota keluarga yang menginap di rumah 😀 aahh, keluarga yang saling menyayangi memang segalanya ! Alhamdulillah….

Kumpul keluarga besar Achmad Soemardi Lebaran 2013 - Rumah tercinta kami di Ngawi

Kumpul keluarga besar Achmad Soemardi pada Lebaran 2013 – Rumah tercinta kami di Ngawi

Tapi ternyata hal-hal terbaik yang kualami selama beberapa bulan terakhir tak berhenti sampai di situ…kenangan dan mungkin juga keisengan kala kuliah di Manajemen Angkatan 93 mendorong beberapa teman untuk mengorganisir berkumpulnya kami yang sudah terpisah-pisah di berbagai kota (Jakarta, Balikpapan, Malang, Surabaya, Probolonggo, dll). Ngumpul di Hotel Bumi Surabaya di hari pertama Bulan September yang dilengkapi dengan berfoto-foto bersama, jalan-jalan ke Bangkalan dan melalui Jembatan Suramadu (akhirnyaaaa kesampaian juga lewat jembatan legendaris ini, hehehe…) dan juga mborong batik yang bikin kalap membuat kami menikmati seharian yang menyenangkan itu, termasuk meluangkan waktu berziarah di makam salah satu teman kami yang sudah mendahului menghadap Sang Khalik, Aria Suteja. Semoga dia tenang di sisiNya, amiin….but, I always miss you all guys ! 🙂

Reuni 20 Tahun M93 di Surabaya dan Bangkalan

Reuni 20 Tahun M93 di Surabaya dan Bangkalan

Memang ada banyak hikmah selama aku tinggal di Jakarta, menikmati kota besar dan tanpa ragu kunikmati jalan kaki setiap pulang pergi rumah – kantor (beberapa kantor malahan ! ) hehehe….meski kadang naik kendaraan umum juga siihhh, membuatku semakin dinamis dan menjalin pertemanan dengan banyak orang-orang berbakar : para desainer, mereka yang sangat kreatif, mereka yang tegar menjalani hidup apapun yang terjadi termasuk orang-orang ‘gila’ yang tidak ragu membiayai idealismenya, semuanya adalah pelangi hidupku ! Sumber-sumber inspirasi berasal dari mana saja, dari berbagai pertunjukan, pameran barang seni, ngobrol tentang mimpi-mimpi yang kadang masih jauh untuk dapat tercapai, jalan-jalan santai di taman, berbagai tontonan film dan berbagai hal yang membuat hidup semakin berwarna. Dari semua itu aku, yang dalam acara tersebut mengenakan selendang songket Pandai Sikek karya Rumah Tenun Pusako, mengenal banyak hal-hal menarik untuk dieksplorasi oleh kita orang-orang muda yang punya dedikasi untuk Indonesia, betapa kayanya negara ini ! Betapa sayangnya jika kita tidak mengapresiasi begitu banyak keindahan dan bakat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke, dan dari situlah sebuah Group FB digagas oleh Prof. Biranul Anas yang mendiskusikan tentang kain-kain Indonesia dan kain-kain dunia. Pertemuan dengan para anggota itulah yang barusan diadakan Sabtu lalu, seiring dengan Pameran Wastra Sumba di Museum Tekstil Jakarta, presentasi yang berisi pengetahuan tentang berbagai kain-kain Batik, Ulos, Tenun Dayak, dan juga karpet indah dari Isfahan Iran, juga kain yang sangat tua dari Gujarat India, membuat mata kami semua terbelalak atas keindahan berbagai keindahan karya tangan itu ! Makanan yang dihidangkan dari berbagai daerah atas sumbangan beberapa anggota membuat hari yang panas itu menjadi sangat berwarna, terima kasih, sungguh ! 🙂

Temu Kenal Anggota Kain Indonesia - Kain Dunia di Museum Tekstil Jakarta

Temu Kenal Anggota Kain Indonesia – Kain Dunia di Museum Tekstil Jakarta

Ohya, dalam menjalani hari-hari yang cukup sibuk dengan konsep-konsep serius untuk kemajuan negara, tidak ketinggalan pula lidahku sempat menikmati masakan enak yang dikirim oleh teman baikku dari Bukittinggi…ah betapa aku sungguh merindukan masakan ini sejak bertahun lalu dan baru bisa kunikmati baru-baru ini ! Terima kasih Reiny, itiak lado ijo-nya sangat enaaaaaakkkkk, alhamdulillah 😀

Itiak Lado Ijo dari Bukittingi, pedas-pedas enaaaakk !!

Itiak Lado Ijo dari Bukittingi, pedas-pedas enaaaakk !!

Dan, hari ini pun aku harus bersiap menghadiri acara Rapat Koordinasi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia yang membahas pentingnya keterbukaan informasi publik, aaahh pecah telor juga buku panduan yang berbulan-bulan kami kerjakan, semoga bermanfaat untuk pemerintah daerah dimanapun berada, dan mungkin kelak akan keliling Indonesia lagi untuk mendampingi mereka yang akan bertugas melayani permohonan informasi publik, asyiiiikkkkk !!! 🙂

Dan memang, best things in my life semoga tetap berlanjut. Apapun yang terjadi dalam suka dan duka kelak akan menjadi hal-hal indah terbaik yang akan kita kenang kelak. Berjuang dalam hidup, tersenyum dalam doa, dan juga berbagi kasih sayang pada keluarga, teman-teman serta siapapun yang membutuhkan. Bersyukur atas apa-apa yang kita dapatkan adalah bentuk keindahan untuk menikmati keagungan Tuhan, semoga akan selalu begitu, selamanya, amiin….

GDSPLt.15 – 21 Oktober 2013

gili trawangan

Apa sih yang ada di benak kita kala sekian bulan berlalu di tahun 2013 dan ternyata ada beberapa rencana petualangan yang sudah disiapkan sejak beberapa waktu sebelumnya mau ngga mau harus direka ulang ? Ah, membayangkan bahwa aku akan mengalami berbagai macam perubahan dalam hidupku kadang membuat perasaan campur aduk, beneran !!

Tapi, ternyata niat menuliskan beberapa pengalaman selama dua bulan terakhir ini sambil mendengarkan Sting yang bernyanyi apik di Berlin membuat otakku jadi berpendar ! Berlin adalah kenangan dan Sting adalah bagian dari anugerah tugas yang telah berhasil menuntaskan misinya di dunia ini dalam menghibur sekian puluh atau bahkan sekian ratus juta orang 🙂

Dan ya, berbagai pekerjaan yang diamanatkan padaku di tahun lalu telah selesai dan mulailah tugas-tugas baru yang menantang, bahkan sesuai dengan minatku banget kali ini : pariwisata dan industri kreatif termasuk menekuri tema kota kreatif ! Semangat yang membara karena bekerja sesuai minat itu bahkan bisa menaklukkkan banyak tantangan termasuk banjir yang sempat menerjang Jakarta pertengahan Januari 2013 lalu. Sungguh, baru kali itu aku terjebak banjir dan ngga bisa keman-mana, untungnya memang tempat aku tinggal tidak terkena parah, hanya setinggi lutut, meski akhirnya tetap harus membuat dapur umum darurat di halaman rumah ! Ngurusin kartu ATM yang tertelan di bank yang hanya berisi 3 orang, mengalami lengangnya Jakarta karena banyak yang masuk ke kantor, hingga menertawakan berbagai kejadian dengan teman yang pulang liburan dari Jerman karena terjebak banjir dan ngga bisa kemana-mana, semua kenangan Januari yang berhujan serta penuh kejutan karena ada banyak bumbu perasaan juga disana 🙂

Yang menggembirakan lain adalah akhirnya aku bisa berkunjung ke Lombok ! Menikmati tiga hari penuh keceriaan dengan teman-teman sambil mengelilingi Gili Meno dan Gili Trawangan di terik matahari yang eksotis dan ramai dengan para turis plus menikmati hotel yang nyaman di piggir Pantai Senggigi, membuat keramik dan juga menikmati proses menenun di Sade plus berkunjung ke rumah adat Suku Sasak serta menikmati keindahan pasir putih di Tanjung Aan Pantai Selatan Lombok !! 🙂 Keindahan Indonesia memang tiada duanya seiring pengetahuanku yang semakin bertambah karena harus menyusuri data dan informasi yang bejibun tentang pariwisata di pelosok Indonesia. Tugas demi tugas hingga pertengahan tahun ini begitu banyaknya, dan tentu aku harus menyiapkan diri untuk menghadapi petualangan baru seiring dengan irama waktu yang bergejolak membuncah bumi, halaahh 🙂 Tugas tetaplah tugas, maka begadang malam-malam menyelesaikan review laporan, juga perjalanan berjam-jam ke Situbondo pun tetap menyisakan kenangan indah. Pun saat berinteraksi dengan petambak dan pengusaha kecil plus menyusuri berbagai bandara tempat aku akan menghabiskan sekian jam dalam perjalanan (delay, macet, dan segala peristiwa yang harus dinikmati oleh para pengelana hehe..), juga menyaksikan kelucuan saat melihat betapa orang-orang di sekitar bandara di Ende seperti santai saja menyeberang landasan pacu pesawat ketika telah mendarat adalah hal-hal lain yang merupakan bonus budaya yang sangat berharga dalam hidupku ! 🙂

Satu hal lagi yang membuatku sangat terharu adalah diundangnya diriku dalam dalam Upacara Adat Kerajaan Luwu yaitu Mattampung di Istana Kerajaan Luwuk di Palopo ! Akhirnya aku bisa menikmati petualangan lagi di Sulawesi Selatan 🙂 Upacara adat ini dilakukan untuk memperingati 40 hari meninggalnya Datu Luwuk XXXIX dengan pemasangan kijing pada makamnya. Dengan diawali oleh pengambilang kijing serta pengajian semalam suntuk menjelang hari ke-40, esoknya dilakukan serangkaian jamuan makan yang dipimpin oleh Datu Luwuk XXXX yang telah terplih (yang notabene adalah adalah adik laki-laki kandung dari Datu Luwuk XXXIX) beserta Cening Kerajaan Luwuk (kakak kedua datu tersebut, yang ternyata pernah tinggal puluhan tahun di Jerman ! Alhasil kami selalu bicara dalam bahasa Jerman kalau berkomunikasi, olala…) Upacara jamuan makan ini mengundang para kerabat kerajaan serta pejabat di Propinsi Sulawesi Selatan dan beberapa kabupaten/kota yang dulunya adalah wilayah Kerajaan Luwuk (Kota Palopo, Kab. Tana Toraja, Kab. Luwuk Utara, Luwuk Timur dan Luwuk), yang kemudian diikuti dengan pawai dari Istana Kerajaan Luwuk melewati Masjid Tua Palopo (yang tertua di Sulsel, didirikan tahun 1476) menuju kompleks makam para raja Kerajaan Luwuk. Aku juga berkesempatan untuk ngobrol dan saling bertukar pikiran dengan Andi Anton Pangerang merupakan salah satu anggota kerajaan yang mempelajari langsung secara intens serta turut serta dalam pagelaran I La Galigo yang terkenal di senatero dunia itu (yang sayangnya sangat dihargai di luar Indonesia dibanding di negara sendiri!). Kami bahkan sempat berbincang tentang berbagai rencana untuk menghidupkan lagi kisah itu melalui pemetasan berkala di Teluk Palopo dan amphiteather yang sudah disiapkan oleh Andi Anton di sebuah bukit indah antara Palopo dan Tana Toraja (hebatnya lagi, kami saat itu sambil menikmati durian yang enak !! ketika hujan tiba kami lari ke rumah salah satu keluarga Andi Anton dan menikmati mi instan yang hangat, alhamdulillah nikmatnyaa…).

Jamuan Makan di Kerajaan Luwuk dengan dilayani para gadis Bugis

Meninggalkan Palopo dengan segudang agenda, akhirnya sampai juga keinginanku untuk berfoto di Pantai Losari di Makassar, menikmati Cotto Makassar dan Es Pisang Ijo yang terkenal itu, plus menikmati keindahan Fort Rotterdam yang menyimpan sejarah beserta koleksi museumnya yang luar biasa, serta memotret kekhusyu’kan kaum Muslim yang menekuri keindahan Masjid Al-Markaz di Makassar, alhamdulillah…:) Jangan salah juga, Bandara Hasanudin yang baru juga keren banget loohhh, sangat megah dan indah. Bandara ini menurutku yang paling megah di Indonesia, entah nanti jika Bandara Ngurah Rai Bali selesai menjelang event OPEC Oktober 2013 hehe…

Bertemu kembali dengan teman-teman yang dulu hanya kujumpai lewat Radio PPI Dunia saat masih jadi DJ di Jerman (Bezie, Mimo, Jaya, Fadli, Fachru, Selvy, Patmah, Uki, Celini, Ami, Meity, Igum, plus beberapa sobat siar setia seperti Rien dan Asti), adalah keindahan tersendiri. Berkumpul di Kampus FISIP UI untuk membahas berbagai peluang dan tantangan yang harus dihadapi sambil bertukar sapa dan pengalaman setelah pulang ke Indonesia atau membagi ilmu kepada mereka yang ingin tahu pengalaman kami merupakan wujud rasa syukur kami atas anugerah dan kesempatan yang telah diberikan Allah pada kami yang pernah belajar dan bekerja di luar negeri. Dan Radio PPI Dunia adalah ajang kami untuk berbakti pada negeri, meski kami tahu tak akan cukup rasanya membalas semua kebaikan yang pernah kami terima selama ini 🙂

Anyway, apapun nanti yang akan kulakukan dengan bejibun rencana tahun ini (punya rumah baru, semoga segera lunas ! Bersama-sama dengan beberapa teman untuk mengadakan kegiatan Adventure Documentary Festival – http://www.journalpenajiwa.com yang menguras tenaga dan waktu) juga kemanapun aku pergi nantinya di tahun ini : Indonesia Timur, menyusuri tempat-tempat indah di Mexico (meskipun akan berubah bulannya dari rencana semula), ke Jerman (menengok teman-teman, syukur-syukur sekalian ke Italy, Yunani dan Spanyol!) dan Colombia (mudah-mudahan punya kesempatan kesana) semoga semuanya akan berjalan baik (amiin), sebaik rencana Allah yang kuyakin selalu dan akan indah di waktu-waktu yang tepat !

Abdul Muis 8 dan Gedung Sapta Pesona Jakarta – 05032013

Tahun Baru, Semangat Baru…

Frohes Neues Jahr !

Kembang Api Tahun Baru 2013 di Freiburg

Kembang Api Tahun Baru 2013 di Freiburg

Tahun Baru 2013, sudah kita jalani beberapa hari. Banyak tantangan yang sudah berhasil kita taklukan, banyak peristiwa yang manis dan pahit yang telah kita jalani. Apapun itu ternyata memang bukan hal yang mudah bagi kita melewati semua itu. Sejumlah tokoh bermunculan dan populer di Indonesia, atau malah berusaha mulai mempopulerkan diri menjelang Pemilu 2014? Entahlah! Yang jelas, baik para tokoh itu maupun orang biasa seperti kita ini memang pastinya akan mempunyai harapan baru di tahun yang baru…meskipun sebagai manusia beragama, kita juga punya tahun baru lain seperti Tahun Baru Islam yang dimulai pada 1 Hijriah, Tahun Baru China alias Imlek, Tahun Baru Saka untuk umat Hindu, dan sebagainya.

Ada banyak kenangan yang aku tinggalkan di tahun lalu: kesibukan yang mulai meningkat karena kembali aktif bekerja (setelah hampir tiga tahun meninggalkan Indonesia untuk bermukim di Jerman), proyek-proyek baru yang harus ditangani, evaluasi lembaga dan perusahaan, berbagai rencana yang masih tertunda, meninggalnya Ibu tercinta (semoga beliau tenang di sisiNya, amiin), mengunjungi Papua pertama kali (perjalanan yang kuidamkan), dan juga tawaran-tawaran lain yang menarik hati dan minatku meski aku tahu itu tak mudah diwujudkan. Tapi paling tidak, dengan berbagai tantangan itu aku masih bisa bertahan, masih tetap kompak dengan keluarga walaupun Ibu telah tiada.

Kerinduanku dan kesulitanku menghadapi berbagai tantangan itu memacuku untuk terus disiplin seiring dengan semakin tingginya tuntutan profesional yang kuhadapi. Tetapi jujur kuakui kadang manusia sangat kesulitan untuk fokus! Ya, termasuk diriku yang kadang masih berkutat dengan banyak hal, yang hasilnya jadi setengah-setengah. Ah ya, itu merupakan tantangan berikut yang harus kutaklukkan! 🙂

Tetapi semangat baru seiring dengan bertambahnya usia dan tentu saja kebijaksanaan membuat kita harus semakin dewasa. Bagaimana tidak? Banyak sekali orang di luar sana yang kadang tidak tahu berbuat apa, mengeluh karena hidupnya stagnan, dan tidak tahu bahwa ada banyak sekali hal-hal kecil yang dapat dilakukannya asal dia mau membuka hati dan pikirannya pada apa yang terjadi di sekitarnya! Nah, itulah yang mesti kita temukan. Kenalilah dirimu dan berbuat baiklah pada potensi yang kau miliki, demikian bunyi salah satu kata-kata bijak yang pernah kubaca, yang tak kuingat siapa yang mengatakannya. Paling tidak aku sudah menyesaikan dua naskah artikel/paper yang satu untuk sebuah buku tentang ASEAN yang akan diterbitkan oleh Routledge London (thanks to teman baikku Dessy Irawati yang mengajakku dan menjadi editorku) serta satu lagi naskah tentang pengalaman mendalami ilmu sejarah yang akan diterbitkan bersama dalam buku The Power of Public Speaking for Teacher bersama Charles Bonar Sirait! Well, kita tunggu saja terbitnya buku ini 🙂

Satu hal yang membuatku juga bergulat dengan emosi dan pikiran yang menghantuiku adalah menyelesaikan proyek ‘kami’ yang tertunda, sebenarnya masih dalam proses. Menulis novel berdasarkan kenangan dan pengalaman pribadi memang tidak mudah. Setelah membaca banyak buku dan referensi, rasanya aku tak sanggup kalau harus menulis mentah-mentah sama persis dengan apa yang sudah kami jalani bersama. tetapi di sisi lain aku juga harus mempertimbangkan banyak hal agar hasil karya ini bukanlah kacangan, atau sekedar biografi yang diberi label novel! Ah, kadang inilah yang membuatku kerdil, merasa harus sempurna segalanya, padahal tidak ada manusia yang sempurna bukan?

Anyway, semoga rencanaku untuk menembus Lautan Pasifik dapat terwujud tahun ini, amiin…Aku tahu, akan ada banyak tantangan di tengah-tengah rencana ini semua, seiring dengan tuntutan profesi yang tidak ringan. Tapi canda tawa yang kujalani selama menghabiskan akhir tahun dengan keluarga di Malang sungguh membuatku segar kembali. Suara cempreng Lilul, kejahilan Asyraf, tembem-nya pipi Farrel, juga semakin besarnya Dinda dan Da’afa yang barusan disunat membuatku bersenang hati. Semua keluarga sehat, Bapak dan juga adik-adik termasuk ipar-iparku, mereka adalah hidupku dan aku berjanji tak akan mengecewakan mereka.

Dan seiring dengan senyumanku kala menatap foto lembang api dari sebuah atap apartemen di Freiburg yang diambil oleh teman baikku, Kai, aku ingin mengakhiri catatan ini, semoga kita tetap bersemangat menyambut tahun 2013 yang penuh tantangan ini!

I love you all!

Starbuck Cafe Cideng Jakarta – 06012013

Ceritaku, Cerita Kami…

Oh my blog-ku..maafkan daku yaaaa, aku sudah lama tidak menyentuhmu. Sudah lama pula aku tak menuangkan apa yang kupikirkan dan kukhayalkan di lamanmu, sekian waktu berlalu, sekian peristiwa terjadi, serasa tak kunjung membuatku tergerak menyapamu. Tapi memang sudah saatnya kini aku akan menuliskan lagi segala kecamuk dan isi pikiranku blog-ku tersayang. Dan harus kumulai darimana ?

Ah ya, bisa kumulai dari berbagai keputusan yang kuambil di akhir bulan Juli ketika aku mulai mempertanyakan apa arti hidupku yang sebenarnya, apakah aku harus mengorbankan sekian banyak hal untuk sesuatu yang tidak pasti, apakah harus lebih memperbaiki diriku apalagi di Bulan Ramadhan meskipun aku juga sangat sedih dengan apa yang telah kuputuskan (tanpa tahu bahwa inilah keputusan yang terbaik yang pernah aku ambil kala itu) ? Dan Allah memang telah menuntunku, memberi jalan bagiku agar tidak bersedih karena Dia-lah Yang Maha Segalanya, Dia tahu yang terbaik untukku…dan lewat doa-doaku kala itu, aku jadi yakin bahwa ternyata diriku tidak seburuk yang aku kira, meski kadang manusiawi saja karena aku mengorbankan banyak hal yang telah kurencanakan sebelumnya.

Dan kau tahu blog-ku tersayang, bahwa ternyata berbagai peristiwa yang terjadi kemudian di bulan Juli dan Agustus serta September juga telah menguatkan bukti bahwa Dia Maha Pengatur ! Banyak peristiwa yang mungkin hanya kuanggap ‘kebetulan’ ternyata itulah takdir yang sebenarnya. Keputusan untuk membatalkan kepergianku ke Jerman (yang kurencanakan selama dua minggu kala pertengahan hingga akhir September) meskipun tidak mudah melakukannya dengan tangisan dan kata-kata yang sedih dari sahabatku di seberang sana ternyata adalah awal yang sebenarnya. Rentetan kejadian setelah itu membuatku tersadar bahwa kita tidak boleh meremehkan perasaan yang keluar dari dalam hati, yang terbentuk dari rangkaian doa.

Bulan Agustus adalah cobaan yang cukup berat bagiku ketika teman baikku kecelakaan sehingga membuat ‘peta’ pekerjaan menjadi berubah, yang membuat kami semua harus bertoleransi lebih besar, bekerja keras mengatasi berbagai beban dan merancang ulang semua hal yang harus kami selesaikan ! Dan ternyata cobaan itu masih belum berakhir ketika Ibuku tiba-tiba sakit blog-ku, ibu kena stroke yang tidak pernah kami sangka sebelumnya, langsung koma selama tiga hari dan kemudian meninggal dunia, innalillahi wa inna ilaihi rojiun….Ibuku tersayang yang selalu mendidikku untuk bertanggung jawab sejak kecil, yang mengajariku membaca dan menulis (bahkan mengoreksi surat yang aku tulis ke teman sekelasku kala SD, ngga boleh pake tinta merah!), yang selalu mendoakanku serta menginginkan aku bahagia kini telah pergi selamanya.

Ayahku yang juga shock, kami yang sedih karena Ibuku pergi tanpa pesan apa-apa meski sempat bicara sedikit, adik-adik Ibu juga para tetangga dan teman keluarga yang kaget dengan apa yang kami alami, sungguh membuat kami merasa bersama dalam kesedihan. Tetapi dalam tiga hari itu kami telah menyiapkan hati kami jika harus kehilangan ibu, kami belajar ikhlas atas apa yang menjadi keputusan Allah, dan memang itulah yang terbaik. Jika Ibuku sembuh, itu hanya akan membuatnya lebih menderita karena kondisinya hanya akan 50 % dibanding jika sehat blog-ku…kamu bisa bayangkan, Ibuku adalah perempuan yang berpenampilan cantik dan selalu ada untuk semuanya, Ibuku tidak mau merepotkan siapapun dan pastilah akan akan sedih jika Ibuku tetap hidup tetap tergantung pada orang lain, tidak bisa berjalan (harus di kursi roda), harus diurusin orang lain, dan tentu juga pasti merasa tidak cantik lagi seperti dulu, sebagaimana yang kami banggakan. Maka ketika beliau meninggal kami ikhlas, kami semuanya ada di samping Ibuku kala detik-detik terakhir itu datang, alhamdulillah. Aku yang dianggap tegar sejak awal Ibuku sakit dengan mengurusi semua tetek bengek rumah sakit hingga ketika aku harus menyiapkan rumah begitu Ibuku meninggal, memandikan Ibuku (alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk menunjukkan tanda baktiku pada Ibuku dengan menahan tangis!) serta ikut menyolatkan dan mengantarnya ke makam, sesungguhnya juga sedih. Tetapi aku memang harus kuat demi Ayah dan adik-adikku…bahkan hingga kini, menjelang pengajian 100 Hari meninggalnya ibu.

Dan ternyata apapun yang kita lakukan jika ikhlas akan selalu ditunjukkan jalan terbaik olehNya, semuanya begitu dilancarkan, segala urusan tentang rumah sakit, pemakaman, pengajian, hingga tujuh hari meninggalnya Ibuku pun ketika Lilil ponakan kecilku ulang tahun, kami alhamdulillah tetap ceria. Kepergian Ibuku di akhir Bulan Ramadhan sungguh merupakan anugerah besar, insyaallah khusnul khotimah, amiin. Ayahku pun selalu berpesan agar kami selalu mendoakan Ibuku dan mengirimkan Al-Fatihah buat beliau, semoga dijauhkan dari sisa kubur dan api neraka, amiin. Pola hidup kami pun berubah, dengan bantuan saudara dan keluarga kami bisa kompak bahkan di Hari Raya pertama tanpa Ibuku kami alhamdulillah dapat berkumpul tamu-tamu yang takziyah tiada henti serta kekuatan yang kami dapatkan dari peristiwa ini.

Ketidakpergianku ke Jerman pun ternyata ada hikmahnya, karena aku bisa lebih mencurahkan pikiranku pada pekerjaan yang semakin berat dan keluargaku. Para sahabatku di sana pun mengerti karena kami bisa mendapatkan kesempatan lain kelak, meski kami belum tahu entah kapan. Dan berbagai peristiwa lain pun muncul manakala berbagai jadwal kegiatanku berubah, subhanallah..betapa Engkau telah mengatur segalanya.

Kini kami tetap tersenyum, menyambut hari seiring semakin cerianya rumah di Ngawi dengan kehadiran dua cucu paling gokil yang dulu tinggal di Jogja. Asyraf sudah sekolah play group, dan Lilil yang centil makin menggemaskan Ayah yang setiap hari masih ngajar di kampus. Alhamdulillah…aku pun bahagia karena dapat ke Flores lagi, mendaki gunung dan danau Kelimutu yang menakjubkan itu sambil menikmati terbitnya matahari, juga akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Papua, yes finally !! Pulau besar milik Indonesia yang kaya ini memang tiada tara bagusnya dan tentunya ini membuat kami yang akan bekerja disana merasa tertantang untuk melakukan yang terbaik untuknya.

Ulang tahunku dan Yessy baru saja berlalu, dan ini membuat kami semakin menyadari bahwa tanggung jawab kami sebagai anak-anak tertua Ibu dan Ayah semakin besar, untuk memberi contoh adik-adik kami lainnya dan juga menjaga Ayah, insyaallah…Ah ya, aku juga bangga karena dapat menyelesaikan paper-paperku untuk diterbitkan oleh Routledge London tahun depan, paper untuk berbagai konferensi, juga kegiatan lain yang alhadulillah sejauh ini lancar meski tantangan pastilah ada.

Sudah ya blog-ku, aku mau nonton pertunjukan di Gedung Kesenian Jakarta neeeh…kita nanti akan sambung lagi dengan cerita lain, khususnya tentang Jokowi ! Yang dengan kostum kota-kotaknya ternyata mampu menyihir banyak warga untuk memilihnya, dan semoga Jakarta Baru memang benar-benar terwujud, harus dooong ibukota negara ini adalah miniatur Indonesia !

Ciao !

Abdul Muis 8 Jakarta – 06112012

Jakarta dalam beberapa bulan atau beberapa minggu terakhir seakan berubah jadi bercorak kotak-kotak, ada apakah gerangan ? Ya, ini adalah efek sebuah baju dari salah satu Calon Gurbernur dan Wakil Gurbernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (lebih dikenal sebagai Jokowi – Ahok), pasangan dari ‘daerah’ yang dianggap udik oleh sebagian orang Jakarta. Tetapi ternyata upaya mereka dalam membentuk citra yang sesuai dengan visi misi ketika nantinya terpilih melalui kemeja bercorak kotak-kotak yang diibaratkan adalah mereka akan bekerja keras untuk masyarakat Jakarta ini ternyata berhasil, tentu tidak hanya dari baju kotak-kotak itu yang awalnya ditemukan oleh salah satu ajudan Jokowi beberapa jam sebelum pendaftaran pasangan ini ke KPUD DKI Jakarta, tetapi juga dari program-program konkrit yang dikemukakan pasangan ini untuk membentuk Jakarta, yang tercermin dari paparan Jokowi dalam beberapa seri video berikut ini :

Kita bisa lihat dalam video tersebut semua peserta (para relawan) Jokowi-Ahok memakai baju kotak-kotak yang konon hasil penjualannya berkontribusi sebesar 1 Miliar untuk dana kampanye pasangan ini, dan hingga kini pun setelah Pilgub DKI berakhir dan hasilnya menunjukkan kemenangan pasangan ini yang meraih suara kurang lebih 42 %, baju motif begini pun masih tetap diburu hingga banyak yang antriiii, ngga cuma dari dalam negeri tapi hingga keluar negeri seperti Hong Kong dan Jerman !

Baju kotak-kotak semacam itu yang mem-filosofi-kan warna warni Jakarta dengan segala dinamikanya itu memang nyaman dipakai dan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan atau beraktivitas apa saja. Baju motif begini juga gampang dicari, ditiru bahkan juga disalahgunakan…bagaimana bisa ? Ya, karena sempat ada informasi bahwa ada pihak lawan yang tampaknya ingin menghancurkan reputasi pasangan ini dengan money politic melalui pembagian uang oleh oknum-oknum yang berpakaian motif kotak-kotak ini !

Dan sepertinya memang putaran kedua Pilgub DKI yang rencananya akan dilakukan bulan September depan akan berlangsung panas karena ‘pagi-pagi’ sudah banyak yang bicara tentang SARA, isu-isu yang tidak mengenakkan, dsb. Tetapi memang perlu diwaspadai bagi mereka yang gabung di pasangan Jokowi – Ahok ini bahwa kontrol relawan harus ketat dan jangan sampai ada ‘penyusup’. Terlebih lagi tentunya proses ini, meski mahal, adalah pelajaran yang berharga yang kelak akan membuktikan bahwa demokrasi di Jakarta atau Indonesia sekalipun harus berjalan ke rel yang benar, jangan sampai dikotori berbagai kasus suap yang kelak akan menodai reputasi kemenangan calon pasangan siapapun yang terpilih nanti. Maka benarlah anjuran dari Panwaslu DKI,’Kalau dulu ada jargon : ambil uangnya jangan pilih orangnya, sekarang jargonnya harus berubah : jangan ambil uangnya dan jangan pilih orangnya !’ dan inilah yang akan mencerminkan harga diri manusia harkat dan martabat manusia, yang seharusnya tidak terbeli oleh ‘uang’ yang hanya senilai puluhan atau ratusan ribu rupiah !

Tapi kembali lagi, kemeja motif kotak-kotak inilah yang membuat Jokowi benar-benar diakui bahwa dia cerdas, serta mampu menampilkan dirinya ! Seorang pemimpin sebuah kota menengah (Surakarta) yang penampilannya seperti orang kebanyakan, yang mungkin jika naik angkot, KRL, busway, ojek, bajaj, bemo, atau jenis apapun angkutan umum di Jakarta ini (yang juga jadi salah satu titik tekan programnya jika terpilih nanti, yaitu memperbaiki dan membangun angkutan umum/massal) tidak akan mudah dikenali. Dengan kemeja kotak-kotak inilah ‘brand’ seorang ‘pelayan masyarakat’ yang sudah terbukti selama 7 tahun dinilai berhasil oleh berbagai kalangan baik di dalam negeri maupun di luar negeri menjadi semakin terkenal dan tentu saja menimbulkan euforia di kalangan masyarakat luas, tidak hanya warga ber-KTP DKI tapi juga yang bukan ber-KTP DKI, dan mudah-mudahan hal itu sejalan dengan pemenuhan janji-janjinya kelak jika benar-benar terpilih sebagai Gurbernur DKI 2012 – 2017 !

Catatan : Suasana pencoblosan Pilgub DKI tanggal 11 Juli lalu sungguh membuat Jakarta ‘berkotak-kotak’ ! Karena kemeja ini tidak hanya dipakai oleh pasangan Jokowi – Ahok plus tim kampanye, para saksi di tempat pemungutan suara, plus para sukarekawan tapi juga para warga yang sudah bosan dengan berbagai problema yang dialami sehari-hari (macet, banjir, polusi, dll) dan menginginkan perubahan yang nyata dengan capaian yang konkrit secara bertahap juga termasuk seolah ingin membalikkan hasil berbagai survey yang hampir semuanya mengunggulkan pasangan incumbent, ternyata ingin menunjukkan bahwa mereka memilih Jokowi – Ahok dengan beramai-ramai memakai kemeja kotak-kotak ini ! Lhaa kan jadi kelihatan kalo Pilgub-nya ngga rahasia lagi dooong ? Hehehe….:)

Ada apa dengan Jakarta ?

Harmoni, 20072012

Pendidikan adalah sarana untuk membentuk berkarakter dan integritas (Anies Baswedan)

Ya, salah satu motivasi saya mengikuti Kelas Inspirasi yang diselenggarakan dan merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar ini adalah membayar apa yang sudah dapat selama berpuluh tahun mengasah diri melalui bangku sekolah (dan juga kuliah) baik di dalam dan di luar negeri yang pernah saya dapat, dengan cara yang hampir dikatakan mudah. Tanpa melalui kesulitan yang berarti karena saya dapat sekolah di SD dan SMP (Margomulyo I Ngawi dan SMP Negeri 2 Ngawi) yang merupakan sekolah terbaik pada jaman itu di kota kecil kami. Selain itu saya juga dapat melalui masa SMA (Al-Islam 1 Surakarta) meski swasta tetapi itu memang pilihan terbaik buat saya karena saya dapat belajar dan memahami agama dengan lebih baik, dan juga kuliah di Universitas Airlangga Surabaya karena lolos test UMPTN. Jadi, boleh dikatakan apa yang telah saya tempuh sejauh ini adalah paduan dari nasib baik, kerja keras dan juga tekad untuk maju karena saya telah memutuskan untuk sekolah yang jauh dari kampung halaman sejak saya berumur 15 tahun. Dan kiranya apa yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Mengajar (termasuk program Kelas Inspirasi di salamnya) ini adalah untuk memberikan kesempatan pada mereka seperti halnya saya untuk memberikan dan membagi pengalaman yang telah kita dapatkan selama ini.

Dan ketika akhirnya saya terpilih menjadi salah satu guru di Kelas Inspirasi, saya sangat bahagia dan bangga, karena dengan demikian saya diberikan kesempatan untuk lebih mengenal secara dekat apa yang telah terjadi di salah satu SD yang terpilih dalam program Kelas Inspirasi di Wilayah DKI Jakarta. Dan ketika itulah, saat jam sudah menunjukkan pukul 05.30 dan taxi yang membawaku sudah mulai memasuki daerah Tanjung Priok, saya sampaikan ke bapak sopir kalo saya akan mencari tempat berkumpul dengan teman-teman lain di Telkom Tanjung Priok. Setelah bertemu teman-teman sesama guru Kelas Inspirasi (Michael, Agus dan Benny…sementara yang lain – Marsya dan Ya Asurandi, serta Nisa dan Sarah yang merupakan volunteer dari Gerakan Indonesia Mengajar berangkat sendiri dan bertemu di lokasi sekolah) dan mempersiapkan foto-foto anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang akan saya ceritakan ke anak-anak SD Tanjung Priok 01 Pagi tempat saya mengajar, kami meluncur ke sekolah itu yang ternyata memang letaknya di gang yang sempit (seperti kata Michael yang melakukan survey dua hari sebelumnya).

Bertemu dengan guru-guru sekolah SDN tempat kami akan mengajar nantinya di ruangan guru yang sempit, kami mendapatkan sedikit arahan bagaimana karakter anak-anak di SD tersebut (meski dalam pembelakan yang diberikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar tanggal 14 April sebelumnya kami juag sudah diberitahu bagaimana karakter anak-anak SD jaman sekarang) ; bahwa anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar, mereka akan bertanya tentang hal-hal yang kadang tidak kita duga, mereka bisa sangat agresif atau sebaliknya bisa bosan kalo penjelasan kita tidak memuaskan mereka. Ya, tentu saja saya akan selalu mengingat isi sms dari Berlin itu, yang telah memotivasi saya untuk melakukan yang terbaik dan menjadi diri sendiri dalam mengajar anak-anak.

Diawali dengan pembagian kelas, akhirnya saya memberanikan diri untuk melewati ujian pertama pada hari itu dengan mengajar di Kelas 1 ! Dan saat saya mulai mengucap salam, tersenyum manis pada anak-anak itu, rasanya semua keraguan akan kemampuan saya menjadi hilang. Dengan percaya diri saya menjelaskan nama dan profesi saya yang kemudian saya lanjutkan dengan melontarkan pertanyaan sederhana kepada anak-anak yang dengan antusias mendengarkan saya, meski ada juga yang sepertinya tidak perhatian (setelah saya dekati bangkunya, ternyata dia makan mie instan karena lapar belum sarapan !), tetapi saya coba mengerti keadaan anak-anak itu sebaik mungkin sambil bertanya, siapa yang pengin tahu daerah-daerah di Indonesia ? Tentu saja banyak diantara mereka yang mengangkat tangan sambil mengacungkan tangan ! Ahh, betapa indahnya diperhatikan seperti itu 🙂 Saya memakai metode ini karena ingin menunjukkan bahwa sebagai konsultan untuk perbaikan birokrasi pemerintah saya memang sering bepergian sehingga bisa berfoto dengan anak-anak dari berbagai penjuru negeri. Sementara itu teman-teman saya yang lain yang berprofesi sebagai desainer, investo keuangan, manajer portofolio, kontraktor kapal, dan ahli energi punya metode sendiri-sendiri yang sebisa mungkin penjelasannya dapat dimengerti anak-anak SD 🙂

Saya membawa alat peraga berupa peta Indonesia dan juga post it (kecil, berwarna-warni) yang saya pakai untuk membuat anak-anak menempalkan nama-nama daerah di peta (sebagai tanda) karena foto-foto saya bersama-sama dengan anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia akan menjadi referensi dimana letaknya daerah tersebut di peta Indonesia yang saya tempel di papan tulis di depas kelas. Begitulah permainan dimulai, saya menunjukkan foto (yang saya tunjukkan dari laptop saya) kemudian saya minta mereka menebak saya dimana (tentu dengan latar belakang yang mungkin mereka tahu, plus wajah anak-anak dalam foto, dari Indonesia bagian manakah ?), setelah saya jelaskan mereka akan saya minta untuk menempelkan dimana letak daerah itu dan ditandai dengan post it yang akan ditempel di peta Indonesia. Permainan sederhana itu akhirnya membuat anak-anak tahu, dimana letak Aceh, Sumatra Barat, Jakarta, Surabaya, Flores, Halmahera Utara, Banjarmasin, dll. Kalau agak bosan (karena saya harus mengajar selama 1 jam), saya akan ajak mereka menyanyi…dan tentu saja akan terdengar di ruang sebelah (begitu pula sebaliknya) karena memang sekolah ini sangat kecil dimana kelas saling berdempetan, dan tidak punya halaman untuk bermain (hanya ada sepetak kecil tempat bermain di belakang yang dibatasi tembok dan di balik tembok ada sungai, jika main bola dan bola melambung ke luar tembok, maka selesailah sudah permainan itu!), gerbang depan mepet dengan gang sempai yang penuh dengan penjaja makanan (dan tentu saja yang dapat lewat di gang ini hanya sepeda dan motor), selain itu mereka juga tidak punya perpustakaan – buku-buku yang dimiliki hanya disimpan di almari di lorong sekolah yang dipakai untuk dua sekolah (di siang hari dipakai oleh SDN Tanjung Priok 01 Petang), jika ada yang meminjam barulah buku akan dikeluarkan dan diberikan ke siswa yang membutuhkan.

Metode mengajar yang saya gunakan sama dengan mengajar di kelas-kelas lain, dimana setelah saya mengajar di Kelas 1, saya berturut-turut mengajar di Kelas 6, Kelas 4 dan Kelas 2. Kami masing-masing harus mengajar hingga empat kelas karena memang kami para guru Kelas Inspirasi hanya 6 orang (tidak seperti kelompok lain yang mengajar SD di lokasi lain yang jumlahnya rata-rata 8 orang sehingga masing-masing guru mungkin hanya mengajar 2 kelas selama kegiatan Kelas Inspirasi berlangsung (dimulai jam 7 – 12 siang). Di Kelas 4 dan Kelas 6, selain saya menjelaskan kondisi Indonesia dan kekayaan budayanya (dimana saya juga membawa berbagai jenis kain tenun dengan berbagai motif yang berasal dari Flores, Sumatra Barat, Palembang, dll), menanyakan cita-cita masing-masing anak dan mendiskusikan alasannya, saya juga melakukan metode yang sama dengan menunjukkan foto-foto berbagai ikon kota-kota di Eropa seperti Eifel di Paris, Colloseum di Roma atau Branderburg Tor di Berlin (karena saya pernah sekolah di Jerman dan sempat keliling hampir 15 negara di daratan Eropa plus Istambul Turki) dan meminta mereka untuk menandai lokasi foto-foto tersebut di peta dunia yang juga saya bawa. Hebatnya anak-anak SD Kelas 4 itu sudah pada tahu loohh, jadi jangan kita remehkan kemampuan dan daya ingat anak-anak, asalkan kita memberikan input dan informasi yang positif 🙂

Hari itu acara ditutup dengan makan siang bersama plus pemberian piagam penghargaan dari Indonesia Mengajar kepada Kepala Sekolah SDN Tanjung Priok 01 Pagi, kemudian juga foto bersama dengan para guru (dengan anak-anak sudah diambil fotonya saat kami mengajar di kelas hehe…). Dalam suasana siang yang kian terik, beberapa anak sempat meminta nomor telepon kami para guru yang mengajar mereka, dan suasana makin hiruk pikuk karena memang sejak pukul 12 siang para siswa dari SDN Tangjung Priok 01 Petang sudah mulai berdatangan, sehingga kami semua termasuk para guru dan anak-anak SDN Tanjung Priok 01 Pagi harus bergegas pulang karena gedung akan mulai dipakai untuk sekolah yang petang !

Dalam perjalanan pulang, kebetulan sebagian besar dari kami berada dalam satu kendaraan menuju arah Kuningan sehingga kami bisa saling bercerita tentang pengalaman mengajar yang baru saja kami lakukan plus sharing bagaimana kadang kami sangat kerepotan dengan suasana kelas yang kadang kacau balau karena mereka ngga sabar dan rebutan untuk menjawab pertanyaan kami, bahkan ada yang menangis karena dinakalin oleh teman-teman sekelasnya, hingga suara serak karena kami harus bersaing mengalahkan suara ribut anak-anak dan juga karena kami ngga mau kalah dengan kelas lain yang tentu saja terdengar dari kelas tempat kami mengajar ! Sungguh, pengalaman yang luar biasa ini tidak dapat dibeli, ada rasa rindu kala mengenang hari itu, 25 April 2012, ketika untuk sehari kami harus membaur dengan kondisi sekolah yang bersahaja, dan juga menjadi sangat menghargai peran dan arti guru kala kami dulu saat masih sekolah juga sering bikin ribut dan mungkin juga membuat pusing para guru.

Evaluasi yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Mengajar berupa mengisi form sebagai refleksi kegiatan kami selama sehari itu membuatku berusaha untuk sebaik mungkin memberikan gambaran tentang kondisi sekolah, anak-anak SD dan para guru, sehingga dapat dijadikan masukan untuk Program Kelas Inspirasi selanjutnya. Sayangnya saya tidak dapat hadir saat dilakukan evaluasi bersama dengan Tim Indonesia Mengajar pada tanggal 28 April 2012 karena saya harus mengikuti kegiatan lain di luar kota. Sungguh pun demikian dari cerita teman-teman yang datang pada acara evaluasi itu ternyata menyiratkan semangat yang luar biasa agar program ini dapat dilanjutkan karena selain besarnya animo para relawan (para profesional dari berbagai bidang), juga karena agar anak-anak Indonesia punya gambaran yang lebih beragam atas cita-cita yang dapat mereka raih kelak. Dan tentu saja tantangan yang luar biasa bagi para profesional untuk menjelaskan profesi/pekerjaan mereka, selain juga untuk ‘membayar apa yang sudah mereka dapatkan selama ini’ pada bangsa ini, pada generasi muda Indonesia !

Dari video pada saat evaluasi berlangsung ini kita kelak dapat mengajarkan bahwa ada banyak cita-cita yang dapat diraih anak-anak Indonesia, dan kita membutuhkan mereka agar ke depan kita punya generasi yang lebih baik dan peduli pada sesama, semoga….:)

Lembang, 08072012