Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Beasiswa ? Siapa takut !!! :)

Mendapatkan beasiswa ke luar negeri memang merupakan dambaan tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk saya. Bisa mengalami berbagai budaya dan kebiasaan yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia merupakan salah satu keinginan terbesar saya. Jujur saja alasan tersebut adalah alasan yang paling kuat dan tentu saja disamping belajar untuk meraih jenjang yang lebih tinggi di bidang pendidikan.

Suka duka mendapatkan beasiswa tentu saja ada, karena sejak tahun 2000 saya sudah mencobanya sejak lulus S1, tetapi karena berbagai kesibukan di lembaga tempat saya bekerja (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil – PUPUK) dan belum mempunyai nilai bahasa Inggris yang memadai, membuat saya harus menahan diri serta mau ngga mau harus mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris dengan lebih baik. Sebenarnya di tahun 2003, saya sudah mendapatkan beasiswa ke luar negeri yaitu ke Perth Australia untuk mendalami small business consulting melalui Program Indonesia Australia Special Training Project (IASTP) dari AusAID (Pemerintah Australia)selama 6 bulan. Nah, sebelum berangkat ke Perth kami dibekali kursus bahasa Inggris di IALF (Indonesia Australia Language Foundation) Jakarta selama 4 bulan, sehingga waktu mempelajari bahasa Inggris itulah yang saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan mengikuti kursus tambahan persiapan ujian IELTS. Sebelum berangkat ke Perth pun saya berusaha untuk mencoba ikut ujian IELTS, tapi hasil skor-nya cuma 5. Ya sudahlah, mungkin memang lebih baik saya memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya selama di Perth dan memang benar, di sana kemampuan bahasa saya lumayan terasah. Sehingga ketika pulang ke Indonesia di pertengahan tahun 2003 saya sudah lumayan lancar berbahasa Inggris dengan baik. Kembali kemudian saya mendapatkan beasiswa dari Friedrich Naumann Stiftung (FNS) sebuah lembaga Jerman untuk mengikuti seminar di Gummersbach Jerman, dan jadilah kemampuan berbahasa saya semakin baik.

Tetapi untuk mendapatkan beasiswa sekolah S2 ternyata tak semudah itu, karena saya ternyata memutuskan untuk berkomitmen dengan lembaga dimana saya bekerja untuk menjadi direktur dari tahun 2004 – 2008. Masa yang panjang selama 5 tahun itu saya manfaatkan juga untuk coba-coba melamar beasiswa, walaupun setengah hati karena saya merasa tidak bisa meninggalkan tanggung jawab saya di Indonesia meskipun ada banyak tawaran beasiswa ke Inggris, Australia, Belanda dan Amerika. Skor IELTS saya pun sudah lumayan, yakni 6 (setelah beberapa kali ikut ujian yang biayanya juga lumayan mahal yaitu sekitar USD 100 – 150), sudah cukup untuk berangkat sekolah ke luar negeri. Tetapi sekali lagi karena pekerjaan yang luar biasa banyak di kantor plus menjadi konsultan di banyak daerah (alhamdulillah saya sudah hampir ke semua daerah di Indonesia kecuali Papua dan Kep. Riau) membuat saya mengenyampingkan keinginan sekolah lagi. Terakhir tahun 2008 saya sudah mendapatkan beasiswa di Inggris (ini berkat info dari teman baik saya Mas Yudhi Ariadi yang membantu saya membuat CV yang menarik ! – kami berkenalan lewat milis beasiswa) dan Jepang (di Tsukuba University, masih dalam proses), tetapi sekali lagi dengan alasan pekerjaan saya belum bisa berangkat. Apalagi saya juga menjadi konsutan untuk banyak lembaga internasional seperti International Finance Corporation – IFC (lembaga di bawah The World Bank), The Asia Foundation, GTZ, Swisscontact, dll. Banyak teman yang menyarankan saya mengambil S2 di Indonesia saja, tetapi saya ngga mau. Alasannya adalah pasti saya tidak akan selesai tepat waktu, alias molor kuliah seperti yang banyak dialami teman-teman saya lainnya, dimana rata-rata mereka menyelesaikan S2 di Indonesia selama 4 – 5 tahun karena kesibukan pekerjaan lain yang sudah di depan mata. Banyak teman saya juga yang tidak selesai kuliahnya, sayang sekali bukan ? Padahal kalau kuliah di Indonesia biasanya jarang ada beasiswa, jadi kenapa harus susah-susah bayar sendiri dan belum tentu selesai pula ? Maka saya pun tetap menyimpan keinginan belajar ke LN untuk menempuh S2 dan harus mendapatkan beasiswa sehingga saya bisa dipaksa untuk selesai tepat waktu ! :)

Pertengahan 2008 saya berkesempatan menunaikan ibadah umroh, dan disanalah saya berdoa agar saya mendapatkan beasiswa tahun depan (2009) dan memang sepulang dari Harramain saya sampaikan keinginan saya untuk berhenti jadi direktur tahun 2009 ! Saya bilang sudah saatnya mundur dan memberi kesempatan pada yang lain karena saya mau sekolah ke LN, hmmm padahal waktu itu saya belum tahu kemana dan dapat beasiswa apa ngga. Tetapi memang itulah mungkin takdir yang harus saya jalani, di akhir bulan Oktober 2008 saya mendapatkan informasi beasiswa dari DAAD (Deutsche Akademische Austausch Dients – Lembaga Pertukaran Pelajar dari Pemerintah Jerman) di Program Public Policy and Good Governance. Akhirnya dengan persiapan yang cukup mepet selama seminggu saya bisa menyelesaikan semua persyaratan dan saya kirim aplikasi pendaftaran plus dokumen pendukungnya ke kantor DAAD Jakarta. Tidak ada proses wawancara apapun karena titik berat penilaian hanya pada dokumen dan referensi serta publikasi – kebetulan saya memang salah satu anggota tim yang merumuskan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau lebih dikenal dengan one-stop service termasuk menuliskan buku panduannya yang disebarkan ke seluruh kota/kabupaten di Indonesia dan memang itulah alasan saya harus ke banyak pelosok daerah untuk melakukan workshop perbaikan pelayanan publik ini. DAAD hanya bilang saya hanya harus menunggu, jika sampai awal April 2009 tidak ada email dari DAAD berarti saya tidak diterima.

Hari-hari terus berjalan, saya pun sudah melamar beasiswa short course ke Jerman juga (dengan proses seleksi yang cukup ketat), disamping berdoa agar saya lolos kali ini. Apalagi ada teman baik saya di SMA yang juga mendapatkan beasiswa dari DAAD untuk program doktor di Potsdam University (dia memang dosen, di Universitas Mataram) juga satu teman SMA lain yang sudah pindah tugas ke Paris (dia bekerja di TOTAL), dan kami memang berencana reuni bertiga di Eropa ! Kesibukan saya pun tetap menumpuk, keliling Indonesia antara Bangka, Kaltim, Aceh, Flores, Halmahera, Maluku, Kupang dan sekitarnya tiada henti. Namun akhirnya email dari DAAD itu datang juga, alhamdulillah…

Akhir Januari 2009 saya mendapatkan email itu (dari DAAD sekaligus dari FNS lembaga yang akan mensponsori short course di Jerman), segera saya menelpon bapak ibu di rumah dan beliau berdua menangis mengucapkan selamat karena saya mendapatkan impian saya selama ini, demikian juga dengan adik-adik dan teman-teman kantor saya. Tetapi memang tidak mudah menyiapkan semuanya, karena saya harus sudah berada di Jerman pada tanggal 1 April 2009 untuk memulai kursus bahasa Jerman di Freiburg, bayangkan saya cuma punya waktu 2 bulan untuk menyiapkan semuanya !

Segera saya menyampaikan berita ini ke semua kolega, pemerintah daerah yang demikian banyak, menyusun jadwal kegiatan, persiapan pindahan kos, mengurus visa, periksa kesehatan di laboratorium, dsb. Rasanya begitu hectic karena saya pun harus menyiapkan pergantian direktur dan mengatur semua proyek yang harus saya tinggalkan, meski capek tapi senang ! Saya juga harus memutuskan apakah saya juga akan mengambil kesempatan short course itu, yang waktunya hanya selisih dua minggu dengan keberangkatan saya untuk menempuh master, tetapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya mundur dari program short course itu. Saya pernah juga bertanya ke DAAD apakah bisa kursus bahasa Jerman di Indonesia saja ? Pikir saya, biar saya bisa punya waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab saya di Indonesia dulu, tetapi mereka menolak dan saya tetap harus berangkat ke Jerman pada awal April !

Itulah tantangan yang saya hadapi justru setelah saya dapat beasiswa. Tetapi toh semuanya bisa saya selesaikan dan bisa berangkat ke Jerman di akhir Maret 2009, tidak sempat cuti segala, bahkan sehari sebelum berangkat pun masih masuk kantor ! Boro-boro mau syukuran, saya ngga punya waktu dan hanya bisa minta doa restu dari ayah ibu dan keluarga saya. Alhasil saya dan beberapa teman yang bersamaan berangkat ke Jerman di awal April itu tidak mengikuti Pemilu 2009, tetapi saya dapat mengikuti pemilihian presiden di bulan Juli 2009 setelah terdaftar di KJRI Frankfurt.

Belajar bahasa Jerman juga merupakan tantang tersendiri karena saya nantinya akan kuliah di Jurusan Managemen for Non-Profit Organization di FH (Fachhochschule – University of Applied Sciences) Osnabrueck yang kuliahnya semuanya memakai bahasa Jerman ! Waduuhhh, benar-benar siksaan tersendiri padahal kami sama sekali ngga tahu bahasa Jerman (gramatiknya memang sulit dibanding bahasa Indonesia yang sangat sederhana), belajar di Goethe Institut Freiburg pun dimulai seperti anak TK belajar bahasa hahaha….(masih ingat seorang teman yang pernah sekolah di Korsel bilang, itu belajar bahasa Jerman belum apa-apa dibandingkan belajar bahasa lain yang hurufnya bukan Latin, nah lo !) tetapi setelah 6 bulan belajar ternyata kemampuan bahasa kami sudah lumayan walaupun masih belum layak belajar di universitas, hanya karena pihak universitas sangat baik, kami masih diberi toleransi untuk menjawab ujian semester pertama dengan bahasa Inggris meski pertanyaan pakai bahasa Jerman, termasuk juga menjelaskan presentasi yang kadang masih campuran antara bahasa Jerman dan bahasa Inggris hehehe…

Tantangan yang terberat bagi saya adalah kendala bahasa dan cuaca, apalagi pas musim dingin, hmm awalnya exciting lihat salju tapi lama-lama kedinginan ! Kalau soal kangen sih ngga terlalu karena bisa setiap saat telepon, kadang pakai skype dan kebetulan sejak usia 15 tahun saya sudah kost di luar kota (saya asli Ngawi dan SMA di Solo) jadi kalau soal kangen sudah teratasi dari dulu :)

Saya bersyukur karena berbagai kendala yang saya hadapi bisa diatasi dengan baik termasuk soal studi. Banyak orang Indonesia baik di Freiburg maupun kota-kota lain yang sangat membantu jika kita kesulitan sehingga sudah seperti saudara sendiri, teman-teman dari Indonesia sangat kompak dan saling mendukung. Kami sering bepergian bersama, naik sepeda bersama, masak-masak bersama, dan bahkan saling meminjami uang jika diperlukkan hehehe…. Teman-teman dari negara lain pun sangat membantu, kami sama-sama sepenanggungan di negara orang sehingga akrab satu sama lain, salah satunya adalah sahabat dekat saya dari Mexico yang bernama Octavio. Dia memang mahasiswa doktor di bidang politik, tetapi karena sama-sama kursus bahasa Jerman di Goethe Insitut Freiburg dan kami sering berdiskusi tentang apapun, meski kuliah kami beda kota (dia awalnya kuliah di Konstanz kemudian pindah ke Berlin) dan beda tantangan, hingga sekarang kami tetap dekat, bahkan meskipun sekarang saya sudah pulang ke Indonesia. Kami saling memberikan support, saling bertukar masakan Indonesia dan Mexico, saling berbagi tempat tinggal jika diperlukan, dia juga yang membantu saya mengatasi masalah ketika paspor saya hilang (dihilangkan Deustche Post ketika pengiriman ke KJRI Frankfurt – paspor baru pun saya dapatkan setelah proses birokrasi yang cukup panjang serta mendapatkan campur tangan salah satu kolega yang bekerja di Kemeneg PAN!), dan berbagai dukungan lain khususnya ketika saya sempat stress dengan kuliah bahasa Jerman yang membuat saya sakit berhari-hari. Kedekatan kami ini akan saya tuliskan dalam sebuah buku, sebagai kenang-kenagan kisah kami di Jerman, disamping foto-foto kami yang memakai batik dan saya juga berkebaya di tengah-tengah kota Freiburg (difoto oleh teman baik asal Indonesia yang menjadi fotografer di Freiburg), yang pastinya akan menjadi dokumentasi yang berharga jika kelak dia benar-benar menjadi Presiden Mexico seperti cita-citanya :)

Selama studi di Jerman, saya juga menjadi DJ Radio PPI Dunia (dengan program : Keliling Indonesia) yang siaran dari kamar saya di depan laptop, mendapatkan beasiswa dari UNDP tahun 2010 untuk summer school di Central European University (CEU) di Budapest Hongaria dengan tema Sustainable Human Development (yang sebenarnya saya juga pernah melamar disana tahun 2008 tetapi kurang beruntung di tahap terakhir), mendapatkan beasiswa dari kampus untuk summer school lagi di Tallin University (Estonia) dan SSE Riga (Latvia) di bidang Creative Media and New Management, serta dari DAAD lagi untuk mengikuti The 30th Right Livelihood Award Conference di Bonn (sebuah acara yang menghadirkan para pemenang Nobel Alternative), dimana tulisan saya tentang hal itu dimuat di website kampus (http://www.wiso.hs-osnabrueck.de/besuch-alternative-nobelpreistraeger-rahmawati.html), dan juga berkesempatan untuk mengunjungi 15 negara di Eropa untuk liburan (yang termasuk visa Schengen di daratan Eropa plus ke Turki juga !), menjadi jago masak makanan Indonesia (seperti rendang, soto, rawon, lumpia, tumis tahu tempe dll dimana saya juga sering bikin jamuan makanan Indonesia buat teman-teman!) plus menulis buku tentang pengalaman hidup di Jerman dengan salah satu sahabat saya yang lama tinggal di Jerman (karena menikah dengan orang Jerman), menjadi salah satu penulis buku online Aku Bangga Aku Anak Indonesia (2010, dalam rangka 65 Tahun Kemerdekaan RI) yang diprakarsai oleh adik kelas sewaktu di Unair – Ayu Kartika Dewi yang sekarang adalah salah satu alumni Program Indonesia Mengajar (yang kemarin sempat masuk Kick Andy), juga rame-rame nulis di buku 30 Hari Dalam CintaNya (pengalaman mengalami Ramadhan di luar negeri), mengalami Ramadhan dan Lebaran yang jauh dari keluarga dengan berbuka puasa bareng bersama teman-teman muslim dari berbagai negara yang berbeda, plus menjadi penari di even-even budaya, dan berpartisipasi dalam acara 17 Agustus di Seepark Freiburg hehe….Pokoknya belajar di Jerman membuat hidup saya jadi komplit (dengan mengalami hidup dalam budaya yang berbeda, belajar banyak hal baru termasuk menggunakan fasilitas transportasi publik, dispilin waktu, bertoleransi pada mereka yang tidak puasa saat Ramadhan dan mendapatkan udara bersih yang nyaman !), terlebih lagi saya sudah bisa cerita tentang banyak hal di Indonesia karena memang sebelum ke Jerman saya sudah keliling Indonesia terlebih dahulu..sehingga teman-teman menjuluki saya the real ambassador of Indonesia ! :)

Kini setelah saya kembali ke Indonesia (alhamdulillah saya lulus tepat waktu, 2 tahun plus belajar bahasa, total beasiswa saya 2,5 tahun), saya mengembangkan ekonomi kreatif dan perbaikan kebijakan publik sesuai dengan tema thesis saya yang membandingkan kebijakan industri kreatif antara kota Solo dengan Pforzheim (Jerman). Saya kembali bekerja menjadi konsultan independen untuk beberapa lembaga dan di beberapa daerah, mengurus lembaga saya sebagai komisaris dan juga menulis buku plus artikel di beberapa majalah di Indonesia tentang kota-kota di Eropa. Semua itu adalah hikmah yang luar biasa. Semoga pengalaman saya bisa memotivasi rekan-rekan yang lain untuk mengikuti jejak saya mendapatkan beasiswa.

Satu hal lagi, Indonesia sangat luar biasa…begitu kita ke luar negeri akan sangat terasa nasionalisme kita. Akan lebih baik kiranya setelah lulus studi kita pulang membangun negeri tercinta, meskipun mungkin hidup di rantau lebih enak dan menjanjikan. Tetapi, kalaupun memang memilih hidup di luar negeri, tetaplah berbuat sesuatu demi Indonesia, karena kita akan tahu bahwa mereka yang hidup di pelosok itu akan jauh lebih sejahtera jika kita para lulusan dari luar negeri ini juga menyebarkan pengetahuannya untuk kemajuan Indonesia.

Salam sukses selalu !

Surabaya, 14 Desember 2011

Akhirnya semua jerih payah selama dua setengah tahun ini selesai sudah dan tentu saja dapat menunaikan janjiku untuk pulang ke Tanah Air serta merayakan Idul Fitri tahun ini bersama keluarga besarku (setelah dua kali lebaran di Jerman!), bertemu ayah ibu, adik-adik dan iparku serta lima keponakanku : Da’afa (yang kalem dan pinter), Dinda (yang tetap ceria meski berkacamata serta juara pidato terus meski masih umur 8 th, hebat Din!), Asyraf (yang kadang bandel tapi ngangenin hehehe…), Aira (si imut yang manja dan baru bisa jalan), serta paling bontot, si gendut Farel yang baru sebulan lahir serta sepupu-sepupu yang bawel, tante dan om serta tetangga dekat rumahku :) Alhamdulillah…segala suka duka menempuh studi di Jerman (yang kumulai hampir sepuluh tahun lulus dari sarjana) berakhir dengan manis tanggal 29 Juli 2011 lalu, dengan senyuman dari kedua profesor yang membimbingku, dengan foto legendaris yang akan selalu kami kenang…dan juga atas semua yang telah terjadi selama dua setengah tahun tinggal dan beradaptasi dengan budaya baru yang ternyata juga aku nikmati :)

Yah, dan persahabatan yang indah selama di Jerman memang hampir segalanya bagiku. Bertemu dan hidup bersama mereka yang berasal dari negara-negara di berbagai belahan dunia. Sesuatu yang selalu membuatku kuat untuk bertahan seperti yang dikatakan sahabat tersayangku, yang selalu ada untukku, yang mendukungku untuk mewujudkan project kampanye produk Indonesia di Jerman (dengan berfoto memakai baju batik, kebaya dan tenun! – lihat foto-fotoku di Facebook yaaa….), yang memasakkan masakan enak untukku, yang selalu percaya bahwa aku adalah perempuan yang kuat dan tentu saja aku juga akan selalu merindukan semua kebersamaan kami selama ini. Senyuman indah dari orang-orang tersayang di Jerman itulah yang membuatku tidak mudah untuk berpisah dengan mereka, tetapi tentu saja hal ini telah terbayar saat aku kembali ke Indonesia, bertemu dengan keluarga tercinta dan teman-teman yang juga kusayangi di tanah air.

</a> />

Lanjut Baca »

Yuk Bersepeda !!

Pengalaman yang paling berbeda menikmati indahnya alam Eropa adalah dengan naik sepeda. Ya, naik sepeda, yang di Indonesia sepertinya justru merupakan barang mahal karena jarangnya jalur khusus sepeda dan tentu karena kebijakan atas transportasi sepeda di negara kita sangat minim, alias lebih mengedepankan jalur bagi kendaraan bermotor. Yang lebih mengagumkan lagi negara-negara di Eropa juga membuat peta kota-kotanya yang dilengkapi dengan jalur sepeda !!! Jadi jika kita pengin jalan-jalan dengan sepeda kemana saja, tinggal ikuti petunjuk jalur sepeda yang ada di peta dan jalur sepeda yang selalu ada di tiap kota.

Naik sepeda di Eropa bisa merupakan sarana olahraga yang sangat murah karena harga sepeda pun tidak mahal, sekitar 30 – 50 Euro kalo beruntung sudah dapat sepeda yang lumayan buat ke tempat kerja, ke kampus bahkan bisa juga diapaki untuk bepergian antar kota hehe…

Pengalaman yang paling menyenangkan bagiku adalah ketika aku bersepeda dengan sahabatku dari Canada, Susan yang sudah berumur 65 tahun tapi dia kuat bersepeda 100 km/hari !! Benar-benar pengalaman yang menakjubkan karena pertama kalinya dalam sehari aku menempuh perjalanan 40 km dari Osnabrueck ke Bad Essen.

Uhhh aku sangat pengin Pemerintah Indonesia punya perhatian yang cukup dengan model transportasi yang sehat sepeda sepeda ini, bayangkan saja jika teman-teman di Bike 2 Work berhasil melakukan advokasi agar tiap kota dan jalan antar kota bisa dibuat jalur sepeda dan masing-masing pengendara transportasi apapun bisa bertoleransi satu sama lain untuk bersama-sama membangun lingkungan yang lebih sehat di negara kita dengan lebih banyak menggunakan kendaraan umum yang dipakai bersama-sama dan tentu saja, lebih banyak bersepeda dan berjalan kaki di dalam kota :)

Kini aku tinggal di Karlsruhe, yang kalau kita keluar kota sedikit saja akan bisa melihat dan menikmati indahnya Pegunungan Black Forest, apalagi kalau kita sambil bersantai atau berolahraga dengan bersepeda. Percaya deh, akan jauh lebih menyenangkan !! Dan sensasinya mungkin sama dengan ketika pas weekend kemarin dibonceng oleh seorang teman, Karina, naik sepeda di Karlsruhe, yang sebenarnya dilarang di Jerman (artinya membonceng sepeda memang tidak diperbolehkan disini) karena dianggap membahayakan hehe…tapi kalau terpaksa dan biar lebih cepat sampai tujuan, apa boleh buat :p Waaaahhh, beneran ngga sabar nih bisa punya sepeda lagi di kotaku yang baru ini !!!

Salam hangat dari Jerman Selatan :)

Osnabrueck ? Hmmm… :)

Matahari musim gugur di hari terakhir di bulan Ramadhan 1430 H masih terasa di langit Osnabrueck ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di kota yang akan menjadi tempat tinggal baruku selama dua tahun, untuk menuntut ilmu di FH Osnabrueck (wilayah Niedersachsen – Jerman bagian utara). Masih terbayang pelukan sahabat-sahabatku di stasiun Freiburg ketika mereka mengantar kami berenam pindah ke kota yang baru, bahkan rasanya airmataku pun belum kering karena berpisah dengan mereka. Hmm aku masih ragu apakah aku akan merasa nyaman disini setelah enam bulan aku tinggal di Freiburg yang membuatku sangat kerasan karena beragam pengalaman baru, belajar Bahasa Jerman bersama-sama di Goethe Institut mulai dari 0 seperti anak TK, punya teman-teman yang menyenangkan dari seluruh dunia dan tentu juga karena banyaknya orang Indonesia yang tinggal di Freiburg :) Tapi, aku harus bisa menjalani hidupku di Osnabrueck karena memang takdirku adalah sekolah disini, di sini pula tempat aku menyebutkan asal siaranku di Radio PPI Dunia : www.radioppidunia.com (radio online yang basisnya di laptop masing-masing DJ hehe..)

Jadi diantara berjuta pertanyaan dan tantangan yang harus aku hadapi karena sekolahku menggunakan pengantar Bahasa Jerman, aku bertekad untuk bisa berhasil menempuh pendidikan masterku. Saling mendukung dan membantu serta tolong menolong diantara kami – para mahasiswa baru, doa dari keluarga dan berusaha untuk menikmati hari-hariku di kota baru adalah upaya-upaya yang aku lakukan agar aku bisa kerasan tinggal disini. Kalaupun aku agak merasa bosan menjalani aktivitasku aku akan berjalan-jalan dan bersepeda di sekitar Osnabrueak atau aku bahkan sering menghabiskan weekend-ku di kota lain seperti Muenster, Bremen, Hannover, Bonn, Koeln, Duesseldorf, Emden, kota-kota di Belanda (karena memang Osnabrueck tidak jauh dari perbatasan Belanda) atau bahkan bepergian ke Freiburg dan Konstanz (Jerman bagian selatan) – tempat sahabat-sahabatku yang lain tinggal meski aku harus menempuh perjalanan antara 6 hingga 13 jam naik kereta api !! :)

Lanjut Baca »

Indonesia Yang Kucinta

Indonesia itu selalu istimewa buatku dan bagi siapa saja yang pernah berkunjung atau bahkan mungkin bagi mereka yang baru mendengar namanya, ngga percaya ? Cobalah tanya atau cerita dikit aja ke mereka tentang Bali, batik, tari saman, keris, atau cerita ringan tentang menyelam di Bunaken atau Raja Ampat, wuihhhhhh….pasti kamu akan mendapatkan pertanyaan lebih lanjut dan bertubi-tubi karena sebenarnya kita memang memiliki hampir segalanya. Ya, hampir segala hal tentang keindahan alam, pesona keramahan manusianya dan makanannya yang enak, semuanya membuat kita merasa beruntung banget dilahirkan sebagai anak Indonesia. Aku teringat dalam sebuah penerbangan dari Jakarta – Padang, aku duduk sebelahan dengan seorang cowok dari USA, aku tanya, apa tujuannya ke Padang ? Dia bilang akan berselancar ke Mantawai, menabung selama setahun agar bisa dapat ombak terbaik dan dia bener-benar bela-belain perjalanan selama 24 jam dari San Fransisco untuk sampe ke Mentawai !! Tapi kalo soal alamnya sih emang sudah dikasih sama Tuhan ke kita, tapi apalagi yang membuat kita seharusnya lebih bangga sebagai anak Indonesia ? Nah…aku pengin cerita dari pengalamanku nih :)

Lanjut Baca »

Te Extraño

Kerinduan ini datang tiba-tiba, ketika musim panas seakan siap menyambut sekian milyar manusia yang mendambanya sepanjang tahun. Ah, betapa engkau tahu apa yang sebenarnya ada di hatiku. Betapa memang dibutuhkan keberanian untuk selalu ada dalam setiap mimpi-mimpiku…

Kerinduan ini layaknya seorang manusia yang mendamba untuk berjumpa dengan Tuhan-nya, yang selalu mengasihinya dan menutup kekurangan yang diperbuatnya. Aku ingin agar kerinduan padaNya selalu menjadi nafasku, seperti seorang anak yang ingin sekali bermain hujan dengan teman-temannya..

Dan kerinduan ini selalu ada ketika aku melintasi berbagai kota yang dulu pun kadang tak sempat kubayangkan : Hamburg, Aachen, Mastricht..ah, kota-kota yang indah yang nun jauh dari kampung halamanku di sebuah kota kecil yang sederhana..

Bahkan ketika sahabat yang kusayangi memelukku erat di kota tempat kami bertemu pertama kali setelah sekian bulan kami tidak berjumpa dengannya, mengalami berbagai pengalaman indah bersama teman-temanku, reuni dengan sahabat-sahabatku di Utrecht setelah bertahun-tahun tidak bertemu atau ketika sahabatku mengunjungiku dan kami melewatkan waktu dengan bersepeda bersama, rasa rindu ini pun masih ada dan akan selalu ada, hingga kini dan mungkin selamanya..

Tuhan akan selalu memberikan rasa rindu ini pada kita, pada orang-orang yang menyayangi kita…seperti hamparan bunga kuning di tengah padang rumput hijau itu. Warna kontrasnya seperti sebuah kerinduan yang selalu terselip indah menghiasi hati kita.

Aku yakin akan sebuah masa, nanti, ketika akhirnya semua kerinduan dan kasih sayang akan terbalas, tanpa harus khawatir bahwa kerinduan ini akan berakhir. Dan seperti saudara-saudara Palestina kita, perdamaian itu kuyakin akan tercipta dan Tuhan akan tersenyum untuk kita…

*Catatan rindu di awal musim panas 2010

Di Tepi Sungai Rhein..

Sungai Rhein itu seakan jadi saksi bagi kita, yang telah sekian lama bersama merajut asa…tetapi aku tahu sayang, semuanya memang tidak mudah dijalani. Bahkan ketika masa-masa indah yang kita alami itu justru menjadi duri dalam daging bagi orang-orang yang menyayangi kita, entah kenapa aku selalu ingat sungai indah ini..

Sungai yang bersumber dari pegunungan Alpen dan mengalir melalui berbagai kota yang indah : Basel di Swiss, Strasbough di Perancis, dan terus menembus Jerman melalui kota-kota yang damai : Mainz, Koblenz, Bonn, Cologne, Duesseldorf juga kota-kota kecil lainnya itu ternyata menjadi gantungan harapan oleh manusia di sekitarnya yang begitu mencintainya..

Ah, bahkan legenda Loreley itu pun ternyata justru membuat orang yang dimabuk cinta untuk mengikat janji di aliran sungai ini, seperti banyaknya gembok-gembok cinta yang ditambatkan di jembatan sungai ini di Cologne. Tetapi, aku merasa tidak perlu untuk mengunci hati kita sayangku, karena aku tahu kau akan selalu ada untukku, bagaimana pun bentuk hubungan yang kita jalani, kini dan nanti…

Aku bahkan teringat pada masa yang berbunga di tengah mentari yang bersinar cerah di musim panas tahun lalu..ketika kita berjalan-jalan di Basel dan kau menemukan tugu perbatasan tiga negara di tepi sungai indah ini, kau begitu bahagia..karena seolah berbagai perbedaan yang terjadi seperti juga tiga negara ini (Jerman, Swiss, dan Perancis) seakan tidak cukup mampu untuk membatasi aliran sungai yang indah ini, begitu pun cinta kita..karena aliran cinta diantara kita tidak akan terbatas lagi, hanya Tuhan yang tahu akan seperti apa nanti hidup kita kelak dengan cinta yang kita miliki. Hanya yang aku tahu, aku begitu mencintaimu..dan akan selalu bahagia untukmu, selamanya…

Keterangan gambar : Tugu perbatasan tiga negara (Jerman – Swiss – Perancis) di Sungai Rhein – Basel Swiss

Kenangan pada sebuah cinta (31/03/2010)

Sendiri, di jalan itu …

Ada banyak jalan yang bisa kulalui…tetapi aku memang memilih jalan ini. Ketika salju yang semakin menebal membuatku kedinginan, dan angin yang menusuk tubuh ini membekukannku, tetap kukayuh sepeda kesayanganku, melewati jalanan dreisam yang sunyi dan aku sendiri…

Mungkin banyak orang yang tidak mengerti, mengapa aku harus berjalan sendiri menembus badai yang menghampiriku. Mungkin banyak yang tidak paham, mengapa justru aku mencintai jalanan sunyi yang bersalju itu..

Tetapi kadang-kadang manusia memang tidak perlu untuk selalu terpuaskan semuanya, dan aku pun merasa tidak harus menjelaskan semuanya. Karena berbagai ketidakmengertian itu justru akan membuat kita berusaha untuk saling memahami bukan ?

Menurutku, ada banyak hal di dunia ini yang membutuhkan kesendirian untuk mencapai keberhasilan yang kita inginkan. Hanya saja sebenarnya kesendirian itu tidaklah mutlak, karena tetap ada Dia yang di sana yang selalu akan menemani kita. Kesendirian yang membutuhkan konsentrasi, juga dialog dengan hati nurani…

Aku akan terus berjalan, meski kadang dalam kesunyian..tetapi aku tidak akan pernah menutup diriku atas segala hal yang terjadi di luar sana. Karena kesejatian manusia ada pada dirinya, hati dan pikirannya..kesendirian bisa mengasah segala kesejatian itu, dan kesendirian juga memberikan kita ketajaman sikap, apa yang harus kita berikan kepada dunia..

- Dari sebuah perjalanan melintasi dreisam di Freiburg im Breisgau -

Bangku kosong di ujung Bodensee itu seakan menungguku untuk sekedar merenung, kelak ketika semua yang pernah kuinginkan telah terwujud atau belum terwujud sebagian..

Bangku itu menyiratkan sebuah masa yang ketika nanti aku bisa duduk sebentar di atasnya, memandang Bodensee yang indah, mengenangkan semua yang pernah aku alami..

Entah kenapa aku suka sekali membayangkan hal itu, karena di sanalah ada sepotong hati sahabatku yang tinggal, yang kutemukan hampir setahun lalu, dan kini menjadi bagian dari hidupku, juga di tahun-tahun mendatang..

Tiga bulan telah berselang, ketika di depa itu aku menuliskan semua kenangan indah dan pahitku di tahun lalu..bangku itu seakan menari-nari untuk mengajakku kembali ke Bodensee, hmm mungkin karena aku berasal dari Indonesia, sebuah wilayah yang sebagian terdiri atas perairan…Dan rasa rinduku akan air memang tiada bertepi, tetapi ada keindahan lain disana yang tidak ada di tanah airku, salju Alpen di ujung Bodensee itu..

Ah, tahun yang baru sudah berjalan hampir tiga bulan…dan ternyata catatan perjalananku telah bertambah panjang. Pengalaman, gambaran hidup yang kelak akan aku jalani..rasanya pelan-pelan telah aku juga temukan dalam setiap perjalananku.

Lanjut Baca »

Ketika Tahun Berganti…

…everything will be fine my dear, don’t worry…because I know you’re the strong woman !!

Itu adalah salah satu penggalan kalimat yang diucapkan sahabat saya, yang membuat saya akhirnya tersenyum kembali di sela-sela rasa takut dan sedikit tertekan menjalani ‘hidup baru’ jauh dari keluarga dengan lingkungan baru yang kadang membuat saya merasa tak mampu untuk menghadapi semuanya. Terima kasih my dear, for everything…

Ah, banyak hal yang memang telah terjadi, ketika senyuman dan tangisan datang silih berganti untuk semakin memperkaya hidup kita, dengan berbagai kenangan dan pengalaman yang membuat segalanya menjadi begitu terang. Dan memang teranglah apa yang telah kita alami selama ini merupakan skenario Tuhan yang tidak dapat kita tolak, tetapi sekaligus membuat kita tersadar bahwa segalanya mungkin terjadi selama itu adalah kehendakNya.

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.