Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2012

Apa yang ada di benak anak-anak ketika sudah bosan dengan pelajaran ? Ingin bermain-main di halaman sekolah (terutama bagi kalangan menengah ke bawah yang punya akses terbatas pada berbagai permainan game – baik online maupun yang bukan online) ! Apa yang ingin dilakukan anak-anak ketika sore hari cerah (atau malah pas hujan sekalipun) dan PR sudah selesai dikerjakan ? Bermain-main di halaman bersama teman-teman ! Lalu, bagaimana jika tidak ada halaman yang cukup untuk bermain bersama-teman, atau tidak ada lapangan yang memadai di sekitar rumahnya untuk bermain ? Jawabannya : di jalanan !

Salah satu potret Jakarta yang cukup menyedihkan salah satunya adalah tidak adanya ruang bermain yang lapang buat anak-anak, tidak hanya di kampung-kampung, yang semuanya sudah hampir dikuasai oleh jalan raya yang lebar dan area perkantoran, tapi juga di sekolah-sekolah ! Ternyata banyak juga sekolah yang tidak punya halaman yang cukup luas untuk bermain anak-anak SD yang tentunya memang gemar berlarian kesana kemari. Dan inilah yang saya amati selama beberapa minggu tinggal di Jakarta. Jalanan di sore hari terpotong separuh karena dipakai anak-anak untuk bermain ! Mereka memang hanya menginginkan hak-nya untuk bermain, tiadanya halaman yang luas, ya jalananlah yang dipakai, syukurlah tidak di jalanan yang sangat ramai, seperti di sekitar tempat tinggal saya di Petojo.
(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Ada rasa yang gamang jika kita mengalami sesuatu yang sangat penting dalam hidup kita (seperti melakukan ritual keagamaan atau pernikahan) dalam suasana yang sangat beda dengan budaya yang kita lakukan selama ini di Indonesia. Begitu pun yang aku alami ketika berpuasa di bulan Ramadhan di Jerman. Hmm kalau mau jujur sih, puasa bulan Ramadhan tahun 2009 lalu bukanlah puasa Ramadhan pertamaku di negeri orang, karena jauh sebelum itu ketika tahun 2003, aku sudah pernah mengalami puasa Ramadhan yang kebetulan juga di Jerman. Hanya saja waktu itu aku mengalami puasa Ramadhan tidak sebulan penuh, namun dua minggu terakhir Ramadhan.

Di tahun 2003 itu, bulan Ramadhan jatuh pada bulan November, ketika musim gugur sedang berlangsung, sehingga puasa Ramadhan pun tidak seberat ketika musim panas. Waktu itu, kami bertiga (sesame muslim yang berpuasa, yang dua dari Tanzania dan Mesir) sedang mengikuti workshop selama dua minggu penuh. Tentu saja banyak diantara teman-teman yang bertanya tentang puasa Ramadhan kepada kami karena kami selalu tidak pernah hadir di waktu makan siang, apalagi entah kenapa waktu itu aku pun sempat sakit tenggorokan hingga aku ngga bisa bicara, haduhh bayangkan deh, dalam sebuah workshop dan aku ngga bisa ngomong hmmm (yang seharusnya bisa saja aku membatalkan puasa), tetapi waktu itu aku tetap berpuasa karena saying banget kalo membatalkan, apalagi puasa cuma sebentar saja, hanya sampai sekitar jam 5 sore ☺ Tapi aku memang membatalkan puasa beberapa hari waktu itu karena melakukan perjalanan ke beberapa kota di Jerman dengan naik bus, rombongan dengan panitia dan teman-teman peserta workshop lainnya (sebagai catatan : peserta workshop waktu itu 24 orang dan tiap negara diwakili satu orang, jadi bener-bener merepresentasikan negara masing-masing). Tentu dong, aku sebagai wakil dari Indonesia dan berjilbab pula mesti menunjukkan bagaimana warga Indonesia (yang mayoritas muslim) berperilaku ☺ Hmm untuk sahur, waktu itu kami pasti akan ambil beberapa makanan (biasanya sih buah dan roti) untuk dibawa ke kamar karena, panitia tentu ngga akan nyediakan sahur hanya untuk 3 orang yang berpuasa. Yang lucu tuh pada saat aku dalam perjalanan pulang ke Indonesia, karena naik Malaysia Airlines yang mungkin pramugari/pramugara-nya juga tahu tentang aturan puasa Ramadhan (adan sebelumnya mereka memang menanyaiku apakah aku puasa?), aku buka puasa dan sahur di saat bukan jam makan yang biasanya di pesawat. Beberapa penumpang sempat terheran-heran karena ada pramugari yang memberiku aku makan duluan (untuk berbuka) sementara mereka belum makan hehe…
(lebih…)

Read Full Post »

Kalau kita berkunjung ke Jerman apalagi ke Jerman bagian Selatan, hmm kota mana kira-kira yang ingin Anda dikunjungi ? Wahh, harus buka peta dulu ya..karena Jerman bagian selatan itu kan luas, paling tidak ada dua negara bagian, yaitu Bayern (dengan ibukotanya di Munich) dan Baden Wuerttemberg (ibukotanya Stuttgart). Nah, selain kedua kota yang terkenal itu, masih ada banyak kota-kota lain yang layak dikunjungi seperti Karlsruhe (ibukota Kerajaan Baden di masa lalu), Nuremberg (kota indah yang dikelilingi benteng dan juga asal pasar Natal di Jerman), Ulm (tempat kelahiran Albert Einstein yang juga terkenal dengan katedral-nya yang indah), dan juga Freiburg (im Breisgau). Hmmm kota terakhir ini sebenarnya adalah kota kecil di ujung perbatasan Jerman dan Swiss, terdapat juga katedral yang kuno dan indah (yang biasanya disebut munster), tetapi yang paling menarik adalah parit di sepanjang tengah kota ini.

Parit ? Ya, parit kecil (dalam bahasa Jawa disebut kalen) di Freiburg ini punya banyak kisah yang unik. Parit ini ibaratnya adalah urat nadi kota berpenduduk sekitar 300 ribu orang ini. Tanpa parit ini rasanya Freiburg bukanlah Freiburg yang sesungguhnya. Kenapa ? di sepanjang parit inilah orang-orang akan merendamkan kaki di sepanjang musim panas, anak-anak kecil bermain air plus menyeret kapal-kapalan kecil yang dijual dan juga diiklankan oleh para penjual dengan uniknya, bahkan orang dewasa pun tak ketinggalan berjalan-jalan tanpa alas kaki menyusuri parit atau sekedar berjejer rame-rame sambil minum ice cream di musim panas, bahkan anjing-anjing pun tidak ketinggalan ingin bermain di parit ini.

(lebih…)

Read Full Post »

Siapa sih yang ngga kenal Beethoven ? Dialah musisi yang terkenal dengan karya klasiknya seperti Fuer Elise atau Symphoni 9 yang menakjubkan itu. Dan Bonn sebagai kota kelahiran sang musisi terkenal itu memang merasa berkewajiban untuk melestarikan karya sang musisi besar dengan berbagai macam acara, diantaranya tentu saja adalah ‚Buehne frei fuer Beethoven‘ alias panggung terbuka di beberapa tempat untuk menghormati sang maestro.

Kota Bonn yang merupakan bekas ibukota Jerman Barat ini memang unik dan cantik! Berada di tepi Sungai Rhein yang terkenal sebagai salah satu sungai terpanjang di Jerman (yang juga melewati kota-kota terkenal lainnya seperti Koblenz, Koeln, dan juga Duesseldorf), Bonn merupakan kota internasional karena memiliki pusat pendidikan dan lembaga-lembaga penelitian di bawah naungan University of Bonn yang terkenal itu. Di kota ini pula terdapat museum sejarah (Museum der Gesichste) yang menampilkan sejarah pemerintahan di Jerman, kantor pusat Deutsche Welle (DW) yang merupakan kantor berita di Jerman dan pusat organisasi-organisasi yang berada di bawah PBB yang terletak di komplek UN Campus. Dan tentu saja karena Bethoveen dilahirkan di kota ini, maka terdapat pula museum tempat kelahiran Beethoveen (Beethovenhaus), patung Beethoven di Muensterplatz (pusat kota Bonn) yang didirikan pada tanggal 12 Agustus 1845 (tepat perayaan 75 tahun kelahiran Beethoven) yang dibuat oleh Ernst Julius Haehnel di tengah-tengah bangunan tua dan juga terdapat Beethovenhalle, sebuah gedung pertemuan sekaligus gedung konser pertunjukan musik klasik.

(lebih…)

Read Full Post »

Jakarta, sebuah nama yang sangat populer pastinya di Indonesia, mungkin juga di Asia atau bahkan di dunia ? Hmm, well inilah salah satu kota terpadat di dunia, yang duluuuu tahun 2003 pas saya ikutan seminar IAF di Gummersbach Jerman suka ditanya sama teman-teman dari negara-negara lain, berapa penduduk Jakarta ? Wah, saya jawab antara 8 – 12 juta jiwa ! Dan memang wow, karena jumlah penduduk segini banyak bisa jadi sama atau malah lebih banyak dari jumlah penduduk negara teman-teman saya yang nun di pelosok Asia Tengah atau Amerika Latin hehe…

Masih teringat juga dengan perdebatan masalah pengembangan SDM atau kualitas layanan publik saat saya ikutan sekolah musim panas di Central European University Budapest Hongaria tahun 2010 lalu, dimana kebanyakan pesertanya dari negara-negara Asia Tengah eks Uni Sovyet : Turkmenistan, Tajikistan, Uzbekistan, Kazakstan, pokoknya negara-negara yang berakhiran ‘stan-stan’ gitulaahhh…nah pas lagi seru-serunya ngobrol tentang kondisi negara masing-masing, saya iseng bertanya pada salah satu teman dari Moldova (kalo ngga salah),’Emang berapa ya penduduk negara kamu?’ yaaahh saya nanya gini kan karena tampaknya dia tuh sangat suntuk dengan kondisi negaranya yang sepertinya ngga ada bagus-bagusnya (kalo dari omongannya sih, dimana pemerintahnya ngga bisa ngurus rakyatnya), trus dia menjawab,’Empat juta jiwa’ hah ?? Oalaahh ternyata cuma empat juta to ? Lha kalo dibandingin dengan Indonesia ngga ada apa-apanya tuuuhh kompleksnya masalah yang dihadapi, tapi yaaa karena negara baru, tetap merasa berat menghadapi kenyataan bahawa negara lain bisa lebih maju apalagi di jaman yang serba terbuka begini, dimana arus informasi sangat deras mengalir!

(lebih…)

Read Full Post »